|
(2010-03-03) Kain Merah Kesepahaman
Artikel dari Kompas, Minggu, 21 Februari 2010 | 03:11 WIB
Sri Rejeki & Ilham Khoiri
Foto dokumentasi Kompas/Sri Rejeki
Kain merah panjang terulur dari balik kukusan raksasa. Dalam sekejap ia membentang seperti karpet merah dan menggoda seorang perempuan berambut panjang untuk mencoba menapaki ujungnya.
Namun, seorang perempuan lain mencegahnya. Sebagai gantinya, dengan sapu lidi di tangan kanan, ia bertarung dengan sang kukusan. Kain merah ditarik dan dilemparkan ke arah rombongan perempuan lainnya.
Adegan dalam pementasan Opera Jawa karya Garin Nugroho, Rabu (17/2) di Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Jawa Tengah, itu beranalog dengan seni Indonesia yang sedang kedatangan 10 seniman dan kurator terkemuka dari Amerika Serikat. Mereka dihadirkan atas kerja sama Yayasan Kelola dengan Asia Society yang berbasis di New York dan New England Foundation for the Arts (NEFA).
Seni Indonesia ibarat karpet merah yang coba dirunut oleh para ”pencari bakat”, untuk kemudian mengidamkan terajutnya jembatan budaya antarkedua bangsa. Para ”pencari bakat” itu di antaranya terdapat Direktur Program Kebudayaan dan Seni Asia Society Rachel Cooper; Direktur Eksekutif New England Foundation fot the Arts, Boston, Rebecca Blunk; Kurator Senior Seni Walker Art Center, Minneapolis, Philip Bither; Direktur Program Hopkins Center, Hanover Margaret Lawrence; Direktur Program Pertunjukan Museum of Contemporary Art Chicago, Peter Taub; serta Direktur Artistik dan Produser Under the Radar The Public Theater, New York, Mark Russel.
Hadir pula di Indonesia Direktur Eksekutif Yerba Buena Center for The Arts, San Francisco, Ken Foster; Presiden Lisa Booth Management, New York, Lisa Booth; Officer Program Asian Cultural Council, New York, Cecily Cook; dan Program Officer untuk Alliance for California Traditional Artist, San Francisco, Sherwood Chen.
Baca artikel lengkapnya di http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/21/03110495/kain.merah.kesepahaman
[ Back ]
|