|
(2010-02-09) Empat Sehat ala Wu Wei dan Siapa Nama Aslimu
Dari pementasan Pertunjukan Teater berjudul “Wu Wei dan Siapa Nama Aslimu” yang berlangsung di Teater Salihara Jakarta pada 25 – 26 November yang lalu, kepuasan sang sutradara Ari Pahala Hutabarat dari Komunitas Berkat Yakin Lampung tersebut terlihat jelas. Ia mampu melengkapi semangat yang mendasar yakni optimisme dan penghayatan yang mendalam.
Muram durjanya kehidupan diterawang dari kacamata optimisme, yang tidak hanya memberikan harapan tetapi juga keyakinan. Demikian pula dengan riang gembiranya kebahagiaan, tetap menyelipkan makna-makna yang mendalam dan layak untuk diresapi.
Latar panggung tidak sekedar dikemas untuk mengilustrasikan suasana pelabuhan. Berbagai perangkat setting juga dapat mengundang rasa penasaran dan multi-interpretasi yang bisa ditarik oleh para penonton berdasarkan pengalaman pribadinya.
Bersama dengan penggambaran yang kaya akan daya tarik tersebut, alur cerita pun berjalan dengan penuh warna. Tidak hanya dari pernak-pernik dekorasi yang terlihat di panggung. Kostum masing-masing pemain, bahkan hingga pada pencahayaannya pun berusaha menunjukkan bahwa sejarah manusia ini memang penuh dinamika.
Karenanya, dari satu lokasi setting pelabuhan pun, ceritanya dapat berkembang ke berbagai persoalan yang lazim terjadi dan kita sebagai penonton pun pernah mengalaminya. Perasaan-perasaan seperti kecewa, marah, gelisah, gundah-gulana, sedih, gembira, hingga emosi yang mengandung hasrat seksual pun tak lepas dari bagian ceritanya.
Sayup-sayup terdengar musik pengiring latar. Musik ini terdengar baik ketika terjadi dialog di antara para pemain maupun ketika yang terlihat hanya adegan-adegan tanpa suara belaka. Harmonisasi antara lagu yang dipilih dengan suasana emosi yang ingin digambarkan oleh sang sutradara. Ceritanya menjadi berkembang dengan penuh melodi. Sangat artistik!
Satu hal yang mungkin terlewatkan oleh sang sutradara adalah tidak hadirnya faktor-faktor materi di dalam perjalanan cerita yang berupa penantian kapal tadi. Dari beragam karakter orang yang sedang menanti datangnya kapal, tidak tergambar alasan-alasan apa yang membuat mereka gusar, marah, atau sedih dengan keterlambatan tersebut. Apakah karena pekerjaan, atau karena keluarga sedang menunggu, atau karena apa?
Pertunjukan “Wu Wei dan Siapa Nama Aslimu” ini memang sarat akan tafsir-tafsir emosional. Namun minim akan unsur imajinatif, yang seharusnya bisa menggiring penonton untuk membawa dirinya kepada suasana seperti yang sedang dipertunjukkan. Penyebabnya tentu saja karena kurang jelasnya latar belakang masing-masing karakter, termasuk latar belakang mereka terhadap penantian yang sedang dialami.
Tidak perlu sampai terperinci hingga setiap pemainnya tergambar jelas, namun bisa hanya dengan penekanan pada beberapa aktor utamanya. Meskipun demikian, hal ini saja masih luput dari sentuhan sang sutradara.
Bukan berarti pertunjukan teater ini menjadi monoton dan datar akibat dari kekurangan tersebut. Hanya saja, selama hampir dua jam cerita mengalir, penonton hanya terbuai di dalam permainan emosi yang kuat tanpa mampu memahami setiap karakter secara mendalam. Penonton terbatas pada interpretasi cerita belaka, tetapi tidak sampai menyentuh pada sisi kemanusiaannya. Ibaratnya makanan kita sehari-hari, pertunjukan ini baru mengandung unsur empat sehat meskipun belum lima sempurna.
Kekurangan ini akhirnya bisa dinikmati ketika unsur romantisme masuk di dalam cerita. Tidak hanya pada penggambaran kisah percintaan di antara pria dan wanita, juga dari parodi-parodi kreatif yang masuk ke dalam penampilannya. Kekuatannya pada akhirnya bertumpu pada daya emosional yang ingin ditampilkan. Namun ketika kita akan berbicara tentang keharmonisasiannya, hal itu jelas tidak ada. Baik itu harmonisasi antara para penampil dengan penonton, antara cerita dengan karakter pemain dan tokoh yang dimainkan, hingga antara setting panggung dengan imajinasi yang bisa ditimbulkan olehnya. Bahkan ketika musik dan latar sudah mulai berpadu harmonis, gambaran itu menjadi redup setelah alur ceritanya menjadi tidak jelas. Terlepas dari itu semua, penampilan ini tetap menjadi sumbangan yang berarti bagi perkembangan seni pertunjukan di Indonesia. Tema cerita pendek yang berupa penantian datangnya kapal yang terlambat merupakan hal yang masih baru di dalam dunia teater di Indonesia. Ditambah lagi dengan penggunaan penggalan demi penggalan syair sebagai pengisi dialog, menjadi warna baru bagi wajah teater kita. Ari Pahala Hutabarat dan Komunitas Berkat Yakin dengan “Wu Wei dan Siapa Nama Aslimu” merupakan pertunjukan teater yang pantas untuk ditonton. (Dwin Gideon M. S.)
[ Back ]
|