Indonesia   |    English
  
  INFO      MITRA KERJA      KONTAK      SITE MAP
HOME
PROGRAM
PELUANG
DIREKTORI
LINKS
DUKUNG
KATA PANGGUNG
TENTANG KAMI
     
     
   
 
GO
 
     
   
KELOLA
Jl. Cikatomas II no. 33
Jakarta 12180 Indonesia
Tel: +62.21.7399311
Fax: +62.21.7221284
Email:
info@kelola.or.id
   
     
   
     
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
  B3RTIGA : Cerita Di Balik Tiga Dinding

Seratus orang menunggu pertunjukan dimulai sambil mendengarkan rekaman wawancara seorang (penyiar radio) perempuan dengan Joned Suryatmoko, sutradara dan penulis naskah pertunjukan Bertiga, mengenai pertunjukan yang akan segera berlangsung. Percakapan mengalir dengan ringan dan lancar—tidak gelap dan berat sebagaimana umumnya perbincangan tentang teater di Indonesia. Joned dengan cukup lugas menjelaskan gagasan, bentuk serta pijakan-pijakan pertunjukannya. Kami mendengarnya sambil mencermati panggung di hadapan kami: sebuah kamar hotel kelas melati. Menduga-duga peristiwa macam apa yang akan terjadi di sana. Apa yang kami dengar dari uraian Joned semacam memaksa kami untuk mereka-reka peristiwa yang akan terjadi.

 

Apa yang saya tangkap dari paparan Joned, yang paling tebal, adalah perihal kenangan. Rekaman wawancara itu pun adalah sebuah kenangan: berasal dari ruang dan waktu yang berbeda dengan ruang dan waktu ketika saya mendengarnya. Bentuk percakapannya juga membuat saya mengenang kembali siaran radio kampus—penyiar amatir, mahasiswi yang bekerja paruh waktu di radio untuk nambah uang saku. Joned melalui b3rtiga mencoba mengenang kembali suatu hari di bulan April 1996 ketika sejumlah mahasiswa membakar Majalah Gatra di depan Grha Sabha Pramana (GSP) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta sebagai sebuah aksi protes atas terbitnya majalah tersebut yang dianggap berdiri di atas kuburan Majalah Tempo yang baru saja mati dibungkam Orde Baru. Baiklah, kebetulan saya juga berada di sana waktu itu, sehingga ketika Joned menyebut-nyebut pembacaan puisi WS Rendra di GSP—peristiwa yang menjadi pemicu aksi tersebut karena disponsori oleh Majalah Gatra—saya juga jadi sibuk mengingat seluruh kejadian itu. Saya tak tahu apa yang berlangsung di benak penonton lain yang tidak memiliki kenangan dengan peristiwa tersebut. Mungkin peristiwa itu hanya menjadi sebuah kabar, sebagaimana disebut Joned, yang tak besar, kalah gagah jika dibandingkan dengan aksi mahasiswa di tahun 1998.

 

Kemudian bagaimana Joned akan mewujudkannya ke dalam teks (sebagai penulis naskah) dan peristiwa di panggung (sebagai sutradara)? Rupanya Joned, seturut pengakuannya, juga tengah mengenang sebuah gaya: drama realis satu babak. Ia tengah mengenang kembali gaya tersebut setelah sekian waktu ditinggalkannya. Menyusuri kembali karakter dasar dari the well-made play: eksposisi situasi dan karakter yang jelas; persiapan-persiapan yang matang menuju peristiwa-peristiwa selanjutnya; titik balik yang tak terduga namun logis; ketegangan yang terus berlanjut dan makin memuncak; dan terakhir adanya resolusi yang logis dan dapat dipercaya.

 

Teater Realis bagi Joned, sejauh pengetahuan saya, adalah sebuah pilihan yang telah diambil dan sekaligus terus-menerus dipertanyakannya. Tiga Dara (2001), Ayahku Stroke Tapi Nggak Mati (2003), Ah, Kamu (2004), Jalur 17 (2005), Gardanalla Toko Cerita (2006), Malam Jahanam (2007), Jam 9 Kita Bertemu (2007), Deleilah, Tak Ingin Pulang dari Pesta (2008) adalah sejumlah karya teater Joned Suryatmoko yang telah membuktikan keseriusannya di jalur teater yang telah banyak ditinggalkan oleh pelaku dan kemudian oleh penontonnya: gaya realis. Gaya yang sudah dianggap kuna, nggak keren, cerewet, dan (tampak) terbatas. Dan di sinilah tantangan kreatifitas Joned Suryatmoko berada. Dan malam itu, dihadapan 100 penonton—hanya tersedia 100 tiket untuk satu kali pertunjukan—kami menyaksikan pertunjukannya.

 

Kisah

Suara Joned menghilang. Lalu hadir sosok seorang perempuan (Agnesia Linda Mayasari) di atas panggung. Sutradara menghilang dan tinggallah aktor di atas panggung. Sutradara absen. Dan pertunjukan dimulai.

 

Sosok perempuan itu duduk, merapikan diri di depan cermin, menunggu. Sekejab kemudian masuklah dua sosok lelaki. Seorang adalah Giant (Dhody Hendriyanto) yang ternyata adalah suami Dora, perempuan itu, dan seorang tamu mereka, Cuk (Rendra Bagus). Dora berdiri menyambut mereka. Dan terpana: ia seperti mengenal tamu itu. tapi ia sendiri kurang yakin. Drama dimulai dari sana—dari usaha Dora untuk membuktikan bahwa tamu mereka malam itu adalah seseorang yang dikenalnya di masa lalu.

 

Dinding keempat

Dengan cerdik Joned selaku penulis naskah, menyusupkan sebuah kenyataan yang terjadi di suatu hari di bulan April 1996—peristiwa pembakaran majalah Gatra oleh sekelompok mahasiswa di depan Grha Sabha Pramana. Dora yakin bahwa tamu mereka—yang akan bermain cinta bertiga bersama mereka malam itu—adalah Cuk, temannya. Dora mengisahkan kembali peristiwa itu untuk memancing tamunya mengingat atau mengakui siapa dirinya. Tapi si tamu seperti tak mengenalnya.

 

Peristiwa itu berhenti di satu titik. Lalu diulang kembali dari awal. Dari Dora yang duduk menunggu di awal pertunjukan. Sebagaimana Dora yang mengulang masa lalunya, Joned mengulang kembali dramanya. Persis sama. Bedanya: drama yang semula berjarak dengan penontonnya itu, sekarang sudah bocor. Joned menyusupkan kalimat-kalimat langsung ke penonton—tindakan yang dilarang dalam konvensi teater realis. Interaksi langsung dengan penonton itu berupa monolog dari masing-masing tokoh, menerangkan hal-hal yang tidak muncul dalam adegan yang tengah berlangsung. Drama ini menjadi punya dua lapis kenyataan. Kenyataan pertama adalah kenyataan di dalam 3 dinding di mana penonton ada di balik dinding ke 4 yang dirobohkan—agar peristiwa bisa terlihat dan menjadi tontonan. Dan kenyataan yang lain, sama sekali tak memiliki sekat. Aktor berbicara langsung kepada penontonnya. Memperjelas kenyataan yang berlangsung di balik dinding.

 

Mereka bertiga adalah:

 

Cuk: Nama panggilannya kependekan dari Dancuk! Mahasiswa abadi di Fakultas Filsafat UGM. Menjadi penerjemah buku-buku sosial dan menulis proposal untuk berbagai LSM lokal.

 

Dora: Si petualang cinta, banyak “ditunggangi” aktivis pada zamannya. Kini bekerja di sebuah lembaga asing di bagian media kampanye.

 

Giant: Bernama aseli Harry Sugianto, tapi dipanggil Giant (baca: Jayen) oleh teman-temannya kuliah meski wujudnya tidak sangar. Sales papan iklan di Jakarta, dulu aktif di KOPMA (Koperasi Mahasiswa) UGM

 

Malam itu mereka bertemu di sebuah kamar hotel kelas Melati di Kota Jogja. Sepasang suami-isteri tersebut mengundang Cuk untuk bercinta bertiga. Mereka bertiga adalah anggota milis bertiga, sebuah grup di jagat maya yang mempertemukan pasangan-pasangan, juga single, yang ingin melakukan hubungan seks bertiga. Dora dan Giant sudah kerap melakukannya. Biasanya mereka pergi ke luar kota, menginap di sebuah hotel biasa—di mana Dora merasa menjadi bukan siapa-siapa—lalu mengundang seorang tamu ke kamar mereka. Mereka bergantian bertugas mencari tamu. Dan malam itu adalah giliran Giant. Ia mengaku (kepada penonton) bahwa sengaja mencari tamu yang mungkin dikenal oleh isterinya, seseorang yang menjadi bagian masa lalunya. Ia ingin tahu apa yang akan terjadi. Apakah Dora akan mengenalinya. Untuk itu ia memilik Cuk, seorang mahasiswa abadi dari Fak. Filsafat UGM. Kemungkinan Dora pernah mengenalnya, setidaknya pernah berpapasan dengannya waktu di kampus, 13 tahun yang lalu.

 

Dan Dora mengenalnya, bukan hanya pernah berpapasan, tapi mereka pernah tidur bersama di kos-kosan Cuk, tepatnya sehabis peristiwa pembakaran Majalah Gatra tersebut. Mereka malamnya pergi menonton pembacaan puisi WS Rendra—yang disponsori Majalah Gatra—di GSP melalui pintu belakang. Dora mengulang kembali cerita itu, sementara Cuk terus menyangkalnya. Cerita berkembang. Ternyata bukan hanya Dora dan Cuk yang berada lama peristiwa 13 tahun yang lalu tersebut. Giant juga berada di sana. Ia menonton pertunjukan puisi WS Rendra dengan membeli tiket.

 

Dialog-dialog mengalir dengan ringan dan segar. Cerita tak berhenti di satu tempat. Ia berkembang, menyentuh sisi-sisi yang menarik dari masa lalu. Penonton berulangkali tertawa mengikuti perkembangan cerita yang kadang tak terduga. Sebagai penulis naskah, Joned sangat lancar mengalirkan ceritanya tanpa harus menjadi terlalu cerewet atau bertele-tele. Kejelian Joned memotret kenyataan hubungan seks bertiga yang sudah menjadi kenyataan terkini (banyak dijumpai) masyarakat(penonton)nya membuat cerita yang dibawakan terasa dekat dan membuat penasaran.

 

Keaktoran

Sebagai sutradara Joned terasa sangat menguasai medium yang dipilihnya. Terlihat bagaimana kerapian Joned membangun dramatika pertunjukannya. Penggunaan ruang yang sangat efektik. Juga detil-detil kecil yang memperkaya permainan aktor-aktornya. Menurut saya, sebagai sutradara maupun penulis naskah, Joned cukup berhasil malam itu.

 

Tetapi ada yang terasa mengganjal di dalam benak maupun hati saya sepanjang pertunjukan tersebut. Saya mencoba mencarinya. Saya sengaja menonton pertunjukan tersebut dua kali agar pengamatan saya tak hanya berhenti pada kesan-kesan saja.

 

Barulah di rumah, sehabis pertunjukan, saya merasa menemukan jawabannya. Perihal keaktoran. Para aktor malam itulah yang membuat penikmatan saya atas pertunjukan sedikit terganggu. Tidak sebagaimana Joned yang telah akrab dengan mediumnya, para aktor malam itu seperti baru berusaha mengenali gaya pemanggungannya. Beberapa pelisanan mereka terasa kaku dan tidak hidup. Tubuh mereka juga.

 

Rendra bermain paling menonjol di antara yang lain. Tubuh dan pelisanannya paling kaya dengan warna. Katakanlah, teknik bermain Rendra-lah yang paling terasah. Menilik latar belakangnya yang memang mengambil studi secara formal di jurusan teater ISI Yogyakarta, juga keaktifannya di beberapa pertunjukan di Yogyakarta, apa yang ditunjukkan Rendra malam itu sangalah wajar. Teknik keaktoran dan jam terbangnya memang paling tinggi. Meski sebenarnya, penampilan Rendra tidak seperti yang saya harapkan atau bayangkan. Dia tampil dibawah standart permainannya sendiri. dugaan saya, perkaranya adalah keakraban Rendra dengan tema yang dibawakannya. Mungkin. Saya tak terlalu yakin. Setahu saya, ini adalah kali kedua Rendra bermain dalam arahan Joned Suryatmoko.

 

Permainan Linda juga layak untuk dicatat. Meski terasa bahwa teknik keaktorannya masih belum kaya, Linda tampak sangat menghayati dan mengakrabi perannya.Ia tampil cukup meyakinkan sebagai seorang isteri yang dominan, dan seorang eksekutif muda.

Di antara ketiganya permainan Dhody Hendriyanto memang paling lemah dalam teknik keaktoran. Mungkin karena latarnya yang bukan seorang aktor, membuatnya belum terlalu nyaman dalam bermain. Tapi, di antara ketiganya, Diduk—panggilan Dhody—bermain paling wajar. Pas dengan takaran yang semestinya di dalam ruangan itu. Proyeksi tubuh dan vokalnya paling sesuai. Tidak berlebihan. Dibandingkan dengan vokal Linda yang kadang berlebih, atau gesture tubuh Rendra yang kadang terlalu besar.

 

 

Seks bertiga

B3RTIGA menurut saya adalah sebuah pertunjukan yang cukup berhasil mewujudkan gagasan teater Joned. Pertunjukan ini juga menyegarkan secara bentuk maupun tema. Sebagai penonton saya menyukai pertunjukan ini. Sebagai sesama pelaku, saya mendapatkan banyak hal dari B3RTIGA. Di antaranya adalah: menimbang kembali bentuk teater realis atau bagaimana mestinya teater realis diberlangsung di masa ini. Kedua, perihal tema. Joned menyodorkan sebuah percakapan yang terasa dekat dengan penontonnya. Setting sosial yang sedikit banyak diakrabi penontonnya. Juga fenomena hubungan seks bertiga yang juga mulai dikenal dan berlangsung di dalam masyarakat. B3RTIGA adalah sebuah tawaran dialog kepada penontonnya, secara bentuk maupun tema. (Gunawan Maryanto)



Back ]





   
Copyright ©2006 Kelola All Rights Reserved. Site designed and developed by Mataweb.net