Puisi Tubuh, Gugusan Imajinasi Minangkabau
Kegelisahan Ali Sukri, seorang koreografer muda berbakat asal Padang tentang tubuh dan ruang mampu melahirkan sebuah karya Puisi Tubuh. Sebuah karya yang didapatkan dari kamar tidur, yang dulu disakralkan dan kemudian menjadi sebuah ruangan multifungsi. Orang tidak lagi hanya berkutat dengan urusan memejamkan mata, tetapi bagaimana sebuah ruang itu bisa menjadikan mata seseorang bisa menjadi terbelalak dan melihat dunia dengan caranya sendiri-sendiri. Demikian juga dengan Sukri, ia berusaha memindahkan ruang tidur tersebut dalam panggung yang cahaya yang temaram, dominan dengan warna merah, hijau, biru dan sedikit cahaya kuning. Bersama dengan Zulkani Alfian, Muhamad Hiban Mauladia Asibuan, Robert Wandelta Putra, Melfin Harahap dan Dri Astria mereka berpentas di Bentara Budaya Jakarta, Jalan Palmerah Barat, Kamis 29 Oktober 2009. Dengan kapasitas hingga 300 orang penonton, ruangan yang ditata dengan sangat sederhana dipenuhi setengahnya. Tidak banyak yang datang sebagai penonton umum, kebanyakan mereka yang datang adalah kerabat atau yang memiliki keterikatan erat dengan Sukri Dance Theater. Pertunjukan karya Puisi Tubuh diharapkan dapat mengekspresikan berbagai fenomena kehidupan sosial kemasyarakatan yang kompleks, berliku-liku, dan penuh tantangan. Kelima orang berada di panggung, dengan tubuh dalam posisi terlipat di sebuah lemari pakaian berpintu ganda. Mereka mengesankan sebagai buku-buku,pengungsi, penderitaan, kekosongan. Konstruksi tubuh secara parsial akan bergerak dan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Secara kesatuan mereka secara kolektif akan memiliki jiwa yang mampu mengungkapkan ekspresi dalam bentuk cipta, rasa dan karsa. Dalam kemasannya, tubuh yang tidak sempurna akan mengalami berbagai kenyataan ketidaksempurnaan dan cobaan; sebagai tubuh yang sakit, tubuh yang sehat, tubuh yang lemah dan tubuh yang kuat. Ali Sukri yang pernah membawakan karya ini sebagai ujian akhir Pasca Sarjana Insitut Seni Indonesia Surakarta pada tahun 2008 ini paham betul dengan kekuatan tubuh yang dimilikinya. Puisi yang dimaknai sebagai rangkaian kata indah dengan makna yang seringkali kiasan berbanding lurus dengan Puisi Tubuh menjadi gugusan gerak tubuh para penari yang ekspresif dan tidak seragam. Sang koreografer juga paham betul bagaimana mengemas gerakan-gerakan yang akan pertontonkan setelahmelalui proses yang sangat panjang. Gerak-gerak mengalir dari pengembangan tari tradisi Minangkabau dan bunga-bunga silat khas Sumatera Barat (gerakan silat, uluambek). Keinginannya untuk mengambil roh tradisi patut dirayakan saat banyak koreografer baru belajar tradisi lain sebagai pengayaan, namun justru tidak paham tradisi yang sebenarnya telah melekat dalam dirinya sendiri. Inilah yang menjadikannya sebagai koreografer yang diharapkan mampu menciptakan karya baru dari perkawinan seni-seni tradisi dengan bekal sensitivitas. Sayangnya Sukri terlihat dominan sebagai penari, pesat meninggalkan penari lain yang secara teknik mungkin sangat ketinggalan. Puisi Tubuh yang berproses selama delapan bulan, tidak mampu menutupi kekurangan penari lain yang tubuhnya belum mampu mengejawantahkan maksud sang koreografer dalam hal gerak. Penari yang ia pilih bukanlah seorang penari, melainkan mahasiswa teater semester tiga yang belum mengenal dunia tari. Karya yang disempurnakan dengan penataan cahaya oleh Surya Jenar ini terasa makin hidup. Penari yang berlarian. Kegelisahan yang ditunjukkan melalui gerakan memindahkan lemari, bangku dan tempat tidur. Menggesernya hingga titik tertentu hingga tersusun sebuah bangunan yang mampu mendukung terciptanya gerakan yang baru; merayap, bergelantungan dan menaikinya. Seorang koreografer seperti Ali Sukri yang sangat kuat dasar tradisinya, menghadirkan musik bernuansa Minangkabau, yang dimainkan dirangkai oleh Elizar Koto. Ia adalah koreografer yang jeli dalam mempertimbangkan musik apa yang cocok, sehingga karya tari yang digarap bisa menyatu dengan musik. Ia sadar bahwa musik dalam tari bukanlah sekedar suara ataupun sekedar bunyi. Tetapi menjadi rangkaian pertunjukan yang dipertontonkan kepada khalayak ramai sepanjang 45 menit, seperti halnya penari dan tarian yang saling merangkai keindahan. Artistik di atas panggung merupakan sebuah media pendukung untuk menyampaikan pesan yang diempan oleh karya. UIntuk itulah Sukri menghadirkan mebeler ke atas panggung. Satu hal yang mengejutkan, barang-barang yang merupakan properti pentas tersebut dibawa langsung dari Padang. Kecuali saat ia memanfaatkan kuda-kuda kayu penyangga Gedung Bentara Budaya untuk bergelantungan dan membuka pertunjukan. (Samsara Gupta)
[ Back ]
|