Interupsi Jambal Roti: Luapan Hasrat Benjon
Di lantai panggung berbentuk setengah lingkaran, lampu-lampu neon menyala menerangi beragam garis putih yang membentuk gambar posisi tubuh seperti bekas identifikasi korban di tempat kejadian peristiwa. Cahaya lampu neon itu juga menerangi beberapa hanger yang dibawa masuk oleh beberapa lelaki bercelana dan berbaju hitam. Di situ, di sudut kiri depan panggung beratap langit itu, berdiri seorang lelaki bersepatu hitam, bercelana pendek hitam, berkaus oblong hitam dan berompi putih. Lelaki yang memanggil dirinya “Jon” ini menggerakkan tubuh ke arah etalase. Ia mengendus sepatu warna coklat. “Hmm...Baunya seperti sepatu Boediono. Lelaki santun, pakai lipstik pasar bebas. Neoloib. Neolib. Daerahku yang akan datang. Begitu jauh dari kuburan Chairil Anwar.” Begitulah salah satu adegan Interupsi Jambal Roti, teater yang naskahnya ditulis dan disutradarai oleh Benny Yohanes. Pertunjukan yang berlangsung pada Jumat, 7 Agustus 2009, di Amphiteater Selasar Sunaryo—yang berkapasitas 250 penonton—ini dihadiri oleh lebih kurang 50 penonton, yang sebagian besarnya adalah para penggiat teater. Sebagian dari mereka tampak tetap duduk mengikuti diskusi yang dilangsungkan seusai pertunjukan yang berlangsung lebih kurang 70 menit ini. Tak jelas mengapa para penonton terus bertahan dalam suhu malam kaki bukit kemarau yang mengurung Selasar Sunaryo. Yang jelas Interupsi Jambal Roti oleh Benjon, nama panggilan Benny Yohanes, dikata sebagai naskah yang terdiri dari tiga teks. Protagonis pada teks pertama bernama Jon, pada teks kedua dan ketiga bernama Cogito. Namun kedua tokoh tersebut dimainkan oleh aktor yang sama: Benjon. Keduanya pun kerap melontar perkataan yang bermakna tak jauh beda. Pada teks kedua, misalnya, Cogito melontar: saat kekuatan hasrat mampu menghidupkan sang lingga, manusia akan mencapai kenikmatan metafisik, masuk ke dalam ruang nonpengetahuan, ruang kehendak, antinirwana, tapi elegan secara estetik. Inilah langit untuk seorang penemu. “ Tak lama sesudahnya, Cogito lantang berkata: “Seni termurni adalah petualangan hasrat. “ Dari situ, hemat saya, berteater bagi Benjon adalah melakukan petualangan hasrat. Tapi hasrat apa gerangan yang diperlihatkan Interupsi Jambal Roti? Pertunjukan ini terasa benar menempatkan konsumerisme sebagai seteru. Konsumerisme diletakkan sebagai penyakit yang mewabah di Indonesia. Penyakit ini merasuki berbagai bidang. Teater bukan kekecualian. Teater pun jelas dikedepankan sebagai bangunan yang tiang-tiangnya digerogoti konsumerisme. Praktislah teater bukan bergerak mendepak konsumerisme. Teater malah terjerembab menjadi agennya. Oleh karenanya, Interupsi Jambal Roti bukan saja berhasrat menyapu konsumerisme. Tapi pun membuat teater menjadi bahasa baru yang dengannya teater tumbuh kembali jadi alternatif, jadi salah satu sumber pemerdekaan (dari konsumerisme). Adapun bahasa baru yang dibangun Benjon adalah mengoptimalkan produksi kata, gambar, bentuk, gerak, cahaya dan suara. Untuk memproduksi suara, misalnya, Benjon memakai suara knalpot sejumlah motor yang sengaja didatangkankannya ke pinggir panggung. Tapi Benjon tetap terasa sebagai seorang yang yakin benar pada kekuataan kata sebagai alat penyampai gagasan. Dia juga tampak yakin akan kemampuan dirinya mengolah kata sebagai alat pengangkut penalaran. Memang dialog-dialog Interupsi Jambal Roti memperlihatkan tingginya keterampilan Benjon mentransformasikan kelas kata sehingga banyak kata jadi mengalami pengasingan atau defamiliarisasi. Cara ini memungkinkan kata kembali berdaya, atau memungkinkan kata bertambah dayanya dalam memaknai dunia. Benjon juga cerdik memelesetkan ungkapan-ungkapan populer. Misalnya, Neolib, neolib, daerahku yang akan datang. Kita tahu ini plesetan dari satu baris puisi Chairil Anwar: Di Karet, di karet, daerahku yang akan datang. Atau “Men sana in corpore sano” yang dipelesetkannya jadi “di dalam daging sehat, jiwa selalu sesat”. Plesetan demikian memang sebagian berhasil membangkitkan geli dan gelak penonton.Tapi sebagian besar lalu tak sesuai diharap. Hal ini barangkali karena Interupsi Jambal Roti memungsikan tubuh, gerak, cahaya, rupa, bentukdan suara lebih sebagai tumpuan kata-kata yang bertugas sebagai penyampai arti. Dan cara bagaimana kata menjalankan tugas tersebut pun sebagiannya dicapai dengan cara merangkainya yang tidak biasa, untuk tidak mengatakan rumit. Para aktor, kecuali Benjon, tampak seperti bermain tanpa pemahaman terhadap dasar dan tujuan pertunjukan Interupsi Jambal Roti, serta perannya masing-masing. Mereka seperti hanya menjalankan perintah. Tetapi, sebagai sutradara, Benjon berhasil menjadikan mereka sebagai pemungkin pergantian adegan jadi peristiwa yang segar dan tak terlalu membuat perhatian penonton mengabur. Sebagai aktor, Benjon tampak menyiapkan benar. Sampai akhir, dia jauh dari kehabisan energi. Berbagai dialek yang dimainkannya selamat dari jebakan streotipe. Hal ini mengesankan adanya yang mendalam yang melandasi pemeranannya. Tapi tubuh Benjon rasanya tak banyak bersalin, tak banyak menjadi lain. Tubuhnya masih kerap tampak sebagai tubuhnya dalam keseharian. Caranya bergerak sebagian mengingatkan pada cara bergerak aktor-aktor “Teater Sae”. Tetapi tubuh bukan tumpuan utama Interupsi Jambal Roti. Pertunjukan yang merupakan respon atas “Cogito Interuptus”, lukisan karya Diyanto, ini, seperti telah disinggung, berusaha membangun dirinya dengan menyatukan sejumlah elemen dalam posisi yang setara. Dan dengan ini Interupsi Jambal Roti juga merubuhkan batas serius dan main-main, menjadikan keduanya membaur. Penyatuan pelbagai elemen memang terasa belum kompak benar. Namun apa yang tersaji di Selasar Sunaryo itu telah memperlihatkan beberapa kemungkinan bagi teater baik untuk berkolaborasi dengan seni lain, maupun untuk jadi satu kekuatan kultural yang memerdekakan. Dan inilah, agaknya, salah satu hal yang membuat para penonton bertahan hingga Interupsi Jambal Roti usai. (Hikmat Gumelar)
[ Back ]
|