Indonesia   |    English
  
  INFO      MITRA KERJA      KONTAK      SITE MAP
HOME
PROGRAM
PELUANG
DIREKTORI
LINKS
DUKUNG
KATA PANGGUNG
TENTANG KAMI
     
     
   
 
GO
 
     
   
KELOLA
Jl. Cikatomas II no. 33
Jakarta 12180 Indonesia
Tel: +62.21.7399311
Fax: +62.21.7221284
Email:
info@kelola.or.id
   
     
   
     
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
  Pementasan AIR oleh CCL

Pementasan kolaborasi teater, tari, seni rupa, dan multimedia yang diproduksi kelompok teater Celah Celah Langit pada Sabtu malam, 27 Juni 2009 di Taman Budaya Jambi, mendapat apresiasi yang luar biasa dari para pengunjung.

Pentas kolaborasi berjudul Air disutradarai oleh seniman handal asal Bandung yakni Iman Soleh yang berbicara tentang alam. Kecemasan, kegelisahan, keinginan untuk bicara, kemudian berakumulasi menjadi teks AIR.

Pertunjukan Air yang melibatkan lebih kurang 19 orang personel pemain dan pendukung yang terdiri dari Nelly, Hanny, Neni, El Gasssani, Gusjur Mahesa, Ape, Harry Pangabdian Maulana Yusuf, Ferry Sandi, Dedi Warsana, Adji Sangiadji, Ipung, Edi Sound, Imam Suryantoko, Eki, Bambang Tanu, abu dzal algifari dan Gusjur Mahesa (asstrada), Candra Wardani (koreografi), Iep Kendang, Tato, Isep (musik), Yadi Mulyadi, Bayu (multimedia), Dea, Tisna Sanjaya (artistik), dan Alwin (penata cahaya), dikemas menjadi sebuah kolabarorasi. Sebelum pentas di Jambi, mereka juga telah melakukan pementasan di dua kota lain yakni Palembang dan Lampung.

Awalnya, pementasan direncanakan berlangsung pada pukul 19.30 wib, namun menjadi molor dan baru dilangsungkan pada pukul 20.10 wib, karena banyak penonton yang masih terjebak kemacetan di malam minggu. Penonton yang hadir tidak hanya anak-anak muda, tetapi juga ibu-ibu, bapak-bapak, dan anak-anak yang memanfaatkan hari libur sekolah mereka untuk melihat pertunjukan teater.

Pentas dimulai dengan hadirnya sosok wanita cantik yang muncul bersamaan dengan sinar lampu di atas panggung. Tata cahaya yang ditampilkan memang tidak terlalu gemerlap, hanya mengandalkan 5 lampu sorot statis, beberapa lampu warna warni, dan satu lampu sorot dinamis dari arah depan.

Panggung pementasan dibuat tidak lebih tinggi dari tempat duduk penonton,dan berada di ruangan tertutup (Indoor) yang berbentuk tapal kuda (teater arena). Di belakang panggung, berdiri giant screen berukuran 8 x 12 meter yang dipergunakan untuk menampilkan gambar multimedia dan karya seni rupa.

Dengan panggung arena seperti ini, para pemain tampak sangat dekat dengan para penonton, apalagi penonton yang hadir sangat banyak, bahkan hingga duduk di tepi panggung pertunjukan. Teater Arena Taman Budaya Jambi yang sedang direnovasi ini sebetulnya hanya cukup untuk 300 lebih penonton, namun saat CCL pentas, teater ini dipenuhi 500 penonton.

Sebuah pertunjukkan kolaborasi teater tak lengkap rasanya tanpa kehadiran musik didalamnya. Untuk tata suara, pentas kolaborasi Air menggunakan bantuan musik multimedia yang telah mereka rekam sebelumnya, dan diperkuat dengan bantuan alat musik lain seperti biola, gamelan, dan gendang yang dimainkan oleh beberapa orang pemain. Alunan musiknya kadang pelan, mendayu-dayu, menghentak keras, dan kembali pelan.

Dalam pentas kolaborasi ini, para aktor dan aktris mencoba untuk tampil sebaik mungkin, menjiwai peran mereka dengan harapan penonton yang melihat pertunjukan ini memahami pesan yang coba mereka sampaikan. Berbagai atribut yang kaya akan kerajinan tangan ditampilkan dalam pentas kolaborasi ini, ada yang menggunakan tongkat bambu, botol bekas air mineral, layang-layang berbentuk burung, dan lain sebagainya.

Selain atribut, beberapa kesenian lintas budaya juga berusaha ditampilkan seperti kesenian reog, kuda lumping, tarian perang (cakalele) dan bahkan alunan zikir. Selama 1 jam 5 menit, penonton pecinta seni yang hadir di Taman Budaya Jambi dibuat kagum menyaksikan pentas kolaborasi ini. Teater CCL yang tampil pada malam itu nyaris tampil sempurna, hingga mampu membius para penikmat seni di bumi sepucuk Jambi sembilan Lurah.

Jaffar Rassuk, Kepala Taman Budaya Jambi yang didaulat memberi komentar diakhir pertunjukan mengatakan, pementasan CCL mampu memberikan apresiasi seni yang menarik untuk masyarakat Jambi, hampir semua unsur seni hadir disini. Ia berharap, dengan tampilnya CCL di Jambi, mampu menjadi pembanding bagi kelompok-kelompok teater lokal Jambi yang juga giat melakukan pertunjukan. Ia pun berpesan agar CCL membagikan tips manajemen mereka, karena telah mampu mempertontonkan karya mereka hingga ke luar negri.

Menanggapi kata sambutan Kepala Taman Budaya Jambi, Iman Soleh sang sutradara dengan rendah hati mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pecinta seni di Jambi, karena mereka telah disambut dengan begitu hangat, selain memamerkan karya seni kolaborasi, sebenarnya kelompok CCL juga memperhatikan perkembangan teater di Jambi yang dikenal kental dengan budaya Melayunya. Ia berharap, kehadiran mereka dapat membawa angin segar bagi seni teater di Jambi.

Sehari sebelum pentas, Teater CCL juga menggelar workshop yang didukung sepenuhnya oleh kelompok-kelompok teater di Jambi seperti Sekintang Dayo, teater Orange, dan teater Tonggak. Meski saat workshop berlangsung hujan turun sangat lebat, namun workshop dapat berjalan lancar selama hampir 3 jam. Workshop diikuti 70 orang, dipandu oleh Didin Siroz berisi perkenalan dan game-game seru yang dibawakan langsung oleh Iman Soleh.

Pemantau : Nugroho Kusumawan (edited)

Back ]





   
Copyright ©2006 Kelola All Rights Reserved. Site designed and developed by Mataweb.net