KELOLA Jl. Cikatomas II no. 33 Jakarta 12180 Indonesia Tel: +62.21.7399311 Fax: +62.21.7221284
Email: info@kelola.or.id
Teater Embrio Pentaskan Satu Lawan Satu Selama 7 Hari
Teater Embrio, sebuah kelompok teater asal Mataram mementaskan “Satu Lawan Satu” karya dan sutradara Agus Wintarno (Winsa), 9-14 Juni 2009 dan 18 Juni 2009 di Gedung Tertutup Taman Budaya NTB dan di sebuah tanah lapang di pemukiman padat penduduk di lingkungan Punia Saba, Kelurahan Punia, Kota Mataram.
Pementasan kelompok teater ini merupakan bagian dari ‘perjuangan’ mereka menjadi salah satu “kelompok teater tradisional plus”, yang muncul dengan konsep artistik dan manajemen lebih baru. Ini juga semacam keprihatinan, atas kegagalan teater (modern) merebut hati penontonnya karena (seperti dikatakan Winsa), “kehadiran teater modern masih belum beranjak dari kalangan terbatas sesama penggiat teater.”
Tujuh kali pementasan ini merupakan rekor baru dalam catatan perjalanan teater modern di Mataram. Yang pertama, elama enam malam berturut-turut gedung teater tertutup penuh sesak. Beberapa kelompok teater di Mataram yang sudah jelas penontonnya pun paling lama hanya bermain tiga malam. Teater Embrio langsung menggebrak dengan waktu pementasan yang panjang. Selain itu, keberaniannya menjelajah bentuk teater tradisi Lombok, Kemidi Rudat, memberi warna yang lebih segar dan membuka peluang makin meluasnya penonton teater modern di Mataram.
Benarkah ini jawaban tepat dari situasi teater modern, yang menurut Winsa. mengalami kemandegan bentuk yang ‘itu-itu’ saja tanpa penjelajahan baru. Tapi apakah Teater Embrio benar-benar telah mengeksplorasi bentuk, karakter dan roh teater tradisi? Apakah ada hubungan yang jelas, antara teater yang menggali tradisi dan kemungkinan memperluas segmen penonton? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang muncul dari kalangan sutradara teater yang menyaksikan Teater Embrio di Punia Saba.
Di Teater Tertutup,
Pertunjukan ‘Satu Lawan Satu’ tak menggunakan panggung prosenium di Teater Tertutup Taman Budaya, tapi mengambil lantai di bawah panggung yang lebih dekat dan akrab dengan tempat duduk penonton. Winsa mengelilingi tempat pertunjukannya dengan belasan tiang bambu yang di atasnya terdapat lampu teplok.
Sayangnya, upaya membangun impresi tentang ‘tontonan rakyat’ itu tak terkejar. Lampu-lampu teplok itu tak bisa mencukupi kebutuhan menerangi tempat yang dijadikan panggung pertunjukan. Akhirnya, ketika harus menggunakan lampu panggung deretan tiang lampu teplok itu menjadi properti yang kehilangan fungsi maupun nuansanya dan maknanya.
Mungkin, karena konsep pemanggungan teater rakyat yang ‘apa adanya’, lampu panggung di teater tertutup yang mestinya bisa memberi banyak kemungkinan, misalnya memperkaya visualisasi adegan, atau mempertajam situasi dramatik, sayangnya nyaris tak dimanfaatkan. Keseluruhan jalannya pertunjukkan akhirnya bertumpu pada kekuatan bagaimana pemain ‘berkomunikasi’ dengan penontonnya (sebagaimana layaknya drama tradisi). Tapi sayangnya juga, sebagian besar dari 16 pemain yang kebanyakan mahasiswa dan pelajar, masih menghadapi persoalan-persoalan elementer keaktoran.
Malam itu sebagian besar penonton memang sempat terpukau adegan pembukaan. Seluruh pemain tampil dan menyapa penonton dengan nyanyian sebagaimana lazimnya dimainkan Rudat yang sudah sangat akrab denan publik diMataram. Baik gerak tari maupun iringan rebana serta petikan kecapi yang dimainkan 5 orang pengiring musik, menggiring pada karakter Kemidi Rudat. Adegan pamitan Bakti Teruna (SF Nurawat) dan Parasindah (Yulia Sari Setyorini) pada awal adegan sungguh melankolik, segar dan menyentuh. Selebihnya, keseluruhan pertunjukan yang berdurasi 90 menit itu memang sesekali mengundang tawa, tapi bukan keberhasilan menyentuh penonton dengan humor-humor menggelitik dan cerdas. Meskipun haru diakui bahwa nyanyian-nyanyian dan iringan rebana dan kecapi memang sangat akrab dengan perasaan penonton.
Teater Embrio -- di antara banyak kelompok, grup atau sanggar teater di Mataram (NTB) – memang paling getol mengumpulkan penonton. Perhatian pada penonton ini bisa disebut menggembirakan. Sebelum produksi “Satu Lawan Satu”, tahun lalu kelompok ini selama tiga hari memainkan “Dokter Gadungan” karya Molliere di Teater Tertutup Taman Budaya NTB. Dan gedung pertunjukan berkapasitas 400 penonton itu dipadati penonton, sebagian besar adalah mahasiswa dan pelajar. Bagi Winsa, upaya “menyelamatkan penonton teater” (maksudnya, menjadikan teater sebagai tontonan yang diminati) harus dimulai dengan membangun “kompromi”, salah satunya mengutamakan keinginan (sebagian besar) penonton teater akan tontonan yang “cair, ringan dan lucu”. Memperbanyak jumlah penonton dianggap lebih penting daripada ngotot mengejar pencapaian artistik atau menjelajah bentuk atau idiom teater baru, yang dinilai Winsa justru mengasingkan teater dari penontonnya (tapi belakangan Winsa menjelajah idiom baru melalui karakter teater tradisi). Ini tentang “Dokter Gadungan”.
Saat ‘Satu Lawan Satu’ dipentaskan selama enam malam (9-14/Juni 2009) di Teater Tertutup Taman Budaya NTB dengan menarik tiket seharga Rp. 5.000,- , mahasiswa dan pelajar yang menonton -- andai pun para penonton itu dimobilisasi melalui guru dan dosen – mengalahkan jumlah penonton pertunjukan musik yang biasanya diminati remaja di Mataram. Selama enam malam, gedung teater tertutup itu penuh sesak. Ini mengejutkan, membesarkan hati, meskipun juga membuat was-was.
Di Kampung Punia
Dengan model Kemidi Rudat, Teater Embrio seolah-olah mengembalikan teater tradisi itu pada komunitasnya di Punia Saba. Sekitar 300 penonton, setengahnya adalah remaja dan anak-anak, selama hampir 90 menit menyaksikan tontonan hiburan yang selama ini dikenal dan nyaris hilang. Tari, musik dan nyanyian serta drama Kemidi Rudat sangat akrab bagi masyarakat Punia, sebab sekitar tahun 70-an di kampung ini pernah hidup kelompok drama Kemidi Rudat yang sangat dikenal di Lombok. Tentu saja, warga kampung Punia sekarang telah berkembang menjadi masyarakat urban yang heterogen, yang selera hiburan seninya berbeda dengan sekitar 30 tahun yang lalu. Tapi penduduk aslinya masih akrab dengan drama Rudat yang berkisah tentang percintaan dengan bumbu lagu, tari, dan lakon komedi yang menghibur.
Lapangan di kampung itu disulap menjadi seting panggung prosenium yang sederhana. Ada trap di kiri dan kanan bagian depan, dan gundukan tinggi dibungkus kain hitam menggantikan layar belakang semacam gorden belah tengah yang biasanya digunakan keluar-masuk pemain. Panggung menjadi terang benderang karena lampu yang dipakai adalah lampu panggung gedung teater, tentu jauh lebih baik dari lampu yang biasanya digunakan teater tradisi. Dan tentu saja para aktor dibekali wireless, tidak seperti para pemain tradisi yang harus sibuk mencari tempat pengeras suara waktu hendak berdialog.
Naskah ‘Satu Lawan Satu’ karya Winsa yang naratif dengan alur linear, konflik dan karakter tokoh stereotip, yang kurang mengesankan bila ditakar dari nilai-nilai kekinian, tapi justru menjadi kekuatan saat dihadapkan pada penonton masyarakat urban yang memang menginginkan drama yang lebih “cair, ringan dan menghibur”. Kisah cinta antara Parasindah (Yulia Sari Setyorini) dan Bakti Teruna (SF Nurawat), akhirnya bisa mendamaikan konflik rebutan kekuasaan atas Ketua Persatuan Wilayah-Wilayah (PW2) yang melibatkan Amat Ambisi (Dharma Satrya HD) dan Tegar Angan (Antosa Rakatesa). Kedua tokoh terakhir adalah orang tua masing-masing kedua sejoli yang sedang memadu kasih. Saat konflik fisik terjadi antara dua kelompok yang berseteru dan akhirnya bisa didamaikan dengan Parasindah dan Bakti Teruna, merupakan adegan paling mengharukan penonton di Punia.
“Dulu peperangan itu menggunakan senjata tajam beneran,” komentar Mahdi salah seorang penonton, mengenang Kemidi Rudat ditonton yang di kampungnya tahun 70-an. Seperti halnya warga Punia lainnya, Mahdi juga ikut bangga karena grup Tari Rudat ‘Merpati Putih’ dari kampungnya ikut dilibatkan dalam acara pembukaan dan adegan pertempuran.dalam lakon garapan Winsa itu.
Sementara penonton anak-anak terpingkal-pingkal menonton gaya konyol para aktor, para remaja terpana dengan adegan saat Bakti Teruna yang akan pergi jauh menuntut ilmu ke negeri Cina berpamitan pada Parasindah yang merasa kehilangan. Kata Parasindah yang membuat trenyuh ,”Kekasih pujaan, kenapa tega hendak meninggalkanku? Apakah cinta telah kehilangan cahaya? Apakah kesetiaan yang mekar selama ini telah layu?” Bakti Teruna pun ‘tak kalah melayu’-nya menjawab ,”Duhai dinda, kekasih idaman. Siapa yang akan tega meninggalkanmu? Seperti dirimu aku pun bakal tak tahan menyimpan rindu. Tapi mengertilah, kali ini terpaksa aku harus pergi, demi mempersiapkan bekal hidup di masa depan.”
Winsa sangat pandai ‘meminjam baju’ Kemidi Rudat (teater tradisi di Lombok rumpun Melayu) yang pas memenuhi kebutuhan bahasa ungkap verbal yang cepat dipahami penonton di Punia. Seorang koregrafer muda, Lalu Suryadi Wulawarman, memuji pertunjukan Winsa dengan mengatakan, seharusnya ‘Satu Lawan Satu’ dipentaskan di Punia Saba selama enam malam dan di teater tertutup cukup semalam. Tapi tidak disinggungnya bahwa di Punia drama Winsa dipertunjukkan gratis.
Mengukur Inovasi
Teater yang selalu hirau dengan (jumlah) penonton memang tak jadi narsis. Tapi upaya yang dilakukan Teater Embrio yang berhajad menghadirkan “bentuk, karakter dan roh baru teater modern Indonesia”, belum sepenuhnya mencapai tujuaan. Hanya dengan meminjam tari, nyanyian atau musik dan pengadeganan Kemidi Rudat sambil mengabaikan gagasan nilai-nilai seni yang menjadi “roh” teater tradisi itu, akan menjadi artifisial. Kalau meminjam baju seni tradisi hanya untuk menarik penonton, ini semacam usaha menjadi kitsch, mengemas pertunjukan menjadi barang dagangan.
Kita bisa mengindentivikasi bahwa sekedar meminjam baju idiom-idiom yang menjadi konvesi teater tradisi itu bukankah hanya merampok daya tarik lahiriah dan melupakan nilai-nilai yang terkandung dalam konvensinya. Konvensi dalam seni tradisi itu selalu berkaitan dengan memori, pengalaman, termasuk tingkat “intelektulitas” masyarakatnya. Sebab nilai-nilai estetis dalam masyarakat yang kemudian menemukan bentuknya dalam teater tradisi misalnya, hakekatnya merupakan kebutuhan masyarakat tradisi akan perlunya sarana yang menjadi media pewarisan nilai-nilai kolektif yang diyakini kebenarannya.
Tapi bagaimana pun, Teater Embrio sudah memulai, seperti sering diungkapkan Winsa, agar teater (modern) tidak ditinggalkan penontonnya. Tentang ini Winsa telah melakukan tidak hanya menggarap segi-segi artistik teaternya tapi juga manajemen penyelenggaraan pertunjukan secara umum. Yang lebih jelas, dengan pementasan ini Teater Embrio – seperti terlihat dalam pementasan di Punia -- tercatat sebagai satu-satunya kelompok teater yang berpeluang memperbaruhi bagaimana teater tradisi mengelola pertunjukan.