<<>>
mainteater
Biografi
mainteater didirikan Wawan Sofwan pada 1994, di Bandung. Kini, merupakan salah satu kelompok teater paling produktif dan memiliki managemen donasi lintas institusi cukup baik. Anggotanya sekitar 20 orang. Dan kerjasamanya dengan pelbagai lembaga donasi merupakan langkah untuk mempopulerisasikan teater.

mainteater punya minat yang kuat pada sastra drama. Sebagian besar pementasannya bersandar pada kekuatan narasi teks. Seperti pada produksi Faust/J.W. Goethe (2001), Discopigs/Enda Wals (2001), Kebangkitan Arturo Ui Yang Dapat Dicegah/Betolt Brecht (2006), Electonic City/Falk Richter (2008), dan Under Ice/Falk Richter (2009).

Selain giat menggarap naskah-naskah asing, belakangan, mainteater coba mentransformasikan novel Indonesia ke dalam bentuk lakon. Sofwan sebagai sutradara senantiasa melihat pokok soal yang diusung novel atau bahkan teks pleidoi bagi kebutuhan publik. Tematik kisah dan relevansinya terhadap problem aktual diperhitungkan di dalam kerja transformasi teks ke dalam realitas lakon dan pewujudan pemanggungannya.

Misal, pentas Sandekala (2008) yang bersumber dari novel berbahasa Sunda karya Godi Suwarna, bersandar pada tiga persoalan aktual: korupsi, hak asasi manusia dan lingkungan hidup. Nyatanya, korupsi, pelanggaran HAM dan perusakan lingkungan telah mengurat-akar bahkan dipraktekkan secara fasih oleh pejabat gurem sekelas camat.

Seluk-beluk korupsi dibongkar secara lebih khusus dalam Ladang Perminus (2009) yang dikreasikan berdasarkan novel dengan judul sama karya Ramadhan KH. Muslihat para aktor korupsi berikut gaya hidup hedonistiknya ditampilkan sebagai kelicikan yang vulgar dan memuakkan.

Pidato pembelaan Soekarno di depan Mahkamah Pengadilan Kolonial Belanda, 1930, digelar mainteater dalam monolog Indonesia Menggugat (2009) untuk melihat kembali spirit perlawanan terhadap imperialisme dan kapitalisme. Bangsa ini dirantai hingga kini oleh dominasi wajah imperialisme baru dalam bentuk kapitalisme global dengan perusahaan multi-nasional sebagai agen-agennya.

Bagi Sofwan, teater bisa menjadi media sosialisasi program, ideologi maupun misi-misi tertentu. Menyampaikan pesan-pesan yang sifatnya edukatif. Pentas Ladang Perminus selain buat umum, menjadi bahan apresiasi pula bagi pelajar Sekolah Menengah Atas. Ada workshop untuk para guru, diskusi dan lomba penulisan pementasan. Monolog Indonesia Menggugat (2002) digelar di Auditorium Institut Negeri Asia Afrika (ISAA) di Moscow bagi pengajar dan mahasiswa Jurusan Studi Indonesia.

Maka, teater dengan pokok-soal yang diusungnya menjadi semacam ajakan agar berpihak pada keadilan, dan menghormati hak asasi manusia. Mengedepankan seruan untuk merawat lingkungan dan sebagainya. Menawarkan gagasan dan nilai-nilai aktual bagi pendidikan dan penguatan kehidupan di ranah sosial-politik yang aktual dan dekat. Termasuk menyajikan bayangan kemungkinan di masa depan berikut tantangan-tantangannya seperti fenomena peradaban ektronik yang mengepung manusia dalam pentas Electronic City karya Falk Richter, 2008.

Narasi peristiwa dan konstruksi verbalitas teks sangat dihormati di dalam perwujudan pentas mainteater. Sebagai sutradara, Sofwan selalu hati-hati, dalam arti menghormati otoritas teks yang digarapnya. Keutuhan peristiwa yang mengkonstruksi teks juga diperhitungkan. Menyajikan keutuhan peristiwa mendominasi efisiensi dan efektivitas pertunjukan.

Hasrat mewujudkan keutuhan peristiwa sesuai teks asalnya kerap membikin pertunjukan terbabar di dalam peristiwa yang pararel. Kendati ada usaha menyusun ulang dan menjahit potongan kisah menjadi realitas dramatik, kelengkapan peristiwa termasuk verbalitas naratif senantiasa dihormati. Contoh, pentas Ladang Perminus dan Sandekala yang memakan durasi pertunjukan lumayan lama.

mainteater menjadikan dirinya kelompok yang menghormati teks terutama keutuhan kisah dan pesona naratifnya. Teks sudah punya kompleksitas dan lapis maknanya sendiri, sebuah dunia yang terus digali dan ditemukan. Maknanya ada pada keutuhannya. Panggung bukanlah pengingkaran melainkan perwujudan dan wajah dari keutuhan teks literalnya.

Silvester Petara Hurit - Penulis
Nano Riantiarno - Editor
Profil
WAWAN SOFWAN lahir di Ciamis, 17 Oktober 1965. Dikenal sebagai aktor monolog handal, kemudian jadi sutradara dan pendiri mainteater Bandung. Wawan mengenal teater pada 1985 saat melihat Godi Suwarna melatih teater di Kampus IKIP Bandung tempat dia belajar. Karena tertarik, lalu aktif di teater kampus jadi awak panggung, pemain dan pimpinan produksi. Pada 1988, mengikuti kursus akting dan bergabung dengan Studiklub Teater Bandung (STB), jadi aktor. Dia berkenalan intens dengan Suyatna Anirun, figur yang sangat berpengaruh terhadap karier kesenimanannya. Diawali dengan garapan The Dragon (J. Schwartz), 1988, hingga menyutradarai produksi STB, 1994.

Sarjana kimia yang disandangnya tidak lantas menentukan jalan hidupnya. Dunia teater ternyata begitu memikat. Hingga akhirnya dia terlibat, dan aktif mencurahkan kegelisahan, merealisasikan ide serta gagasan-gagasannya. Selain bergiat di STB, Sofwan pernah aktif dalam kelompok Actors Unlimited sejak 1998 hingga 2000. Dan sejak 1994, dia berkelana menggelar monolog baik di tanah air maupun mancanegara. Dia pernah berpentas di Malaysia, Australia, Inggris, Jerman, Prancis, Belanda, Rusia dan Ukraina.

Setelah melanglangbuana sebagai aktor monolog, akhirnya dia mendirikan mainteater, 1994. Karya penyutradaraannya yang pertama adalah Art karya Yazmina Reza produksi STB pada 1999. Di situ Sofwan juga bermain bersama IGN Arya Sanjaya dan dan Muhamad Sunjaya. Pentas perdananya itu ditulis Majalah Tempo, "Berlangsung lancar dan segar."

Ketertarikannya pada teks verbal sangat mempengaruhi kecenderungan dan gaya penyutradaraannya. Sebagai aktor monolog, Sofwan memiliki kepekaan dan kemampuan menghidupkan teks-teks literal dalam setiap penampilan. Aspek narasi atau kisah memiliki otoritas yang tak tergantikan dalam garapan-garapan mainteater.

Seluruh perwujudan pentas merupakan aktualisasi atau konkretisasi dari teks yang diacunya. Bahasa verbal menjadi sumber dari makna, menyingkap dan membahasakan realitas. Peristiwa di dunia obyektif, isu ataupun pesan-pesan tertentu diperkatakan lewat jahitan kata-kata, keutuhan dan kelengkapan narasi teks. Dia menjadi bahasa utama dari pentas-pentas mainteater. Agar bisa memberi bobot pada teks, Sofwan memperhitungkan modalitas aktor yang mengeksekusinya. Jam terbang dan pengalaman keaktoran jadi perhitungan tersendiri baginya.

Kendati menjadikan teks verbal sebagai bahasa utama pertunjukan, Sofwan, yang banyak menimba pengalaman berteater di luar negeri, menawarkan pelbagai kemungkinan pentas. Ketika menyutradarai Disco Pigs misalnya, dia melakukan mixing-konsep antara teater barat dan idiom teater rakyat. Dia juga pernah memadukan teater Topeng Pajegan dengan comedia del arte. Pada garapan Electronic City dan Under Ice dia menawarkan kolaborasi tekstual dan visual-multimedia yang hampir berimbang.

Tak hanya menyutradarai teater, musikal, opera, konser musik, mengajar akting, bahkan memandu fashion performance pun digelutinya. Bagi Sofwan, teater memberi banyak hal termasuk menyediakan peluang penghasilan asal ditekuni dengan total dan penuh keyakinan.

Secara kualitas, menurut Sofwan, Teater Indonesia layak bersaing di pentas teater dunia. Yang perlu dibenahi dan diperkuat adalah manajemennya. Teater bukan hanya persoalan pentas melainkan ada banyak hal di luar yang mendukung dan menopangnya. Manajemen bertugas membidangi persoalan yang berada di luar pekerjaan sutradara sebagai penanggungjawab aspek estetik dan artistik pertunjukan.

Menurut Sofwan lagi, jika mau berkembang, teater perlu membuka diri, membongkar ekslusivitas yang menyekat pertumbuhan dan ruang pergaulannya. Merangkul sebanyak mungkin pihak untuk terlibat baik secara langsung maupun tak langsung. Dengan demikian, kehidupan teater bisa kian berkembang lantaran ditopang oleh banyak pihak, banyak aspek.

Silvester Petara Hurit - Penulis
Nano Riantiarno - Editor

Ket Foto:
1. Dam - Dok. mainteater
2. Ladang Perminus - Dok. mainteater
3. Electronic City - Dok. mainteater
4. Electronic City - Dok. mainteater
5. Disco Pigs - Dok. mainteater
Karya
Under Ice (2009)
Electronic City (2008)
Happy..1000,1000... Bahagia In Melbourne (1998,2000,2003,2007)
King Lear (1989)
Bom Waktu (1988)




Kontak
mainteater
Jl. Pasir Kencana I/C 14 Komplek Pasir Pogor Indah Bandung. 40287 West Java
Phone:(+62 22) 7560221; +6281321344618
Email:wasf65@yahoo.com
Galeri
 
Kunjungi blog kami di: www.kelola.or.id/blog
Informasi terbaru kegiatan Kelola, Klik disini