Papermoon Puppet TheatreSanggar Merah PutihSatu Merah PanggungSeni TekuSlamet GundonoStudiKlub Teater BandungTeater GandrikTeater GarasiTeater GardanallaTeater Gidag GidigTeater KalaTeater KamiTeater KitaTeater KomaTeater Kubur
| >> |
Teater Kubur
Biografi
TEATER KUBUR didirikan, berawal dari keprihatinan Dindon terhadap teman-teman di kampungnya yang gemar bermabuk-mabukan. Dindon sendiri juga tak lepas dari kehidupan macam begitu. Bekalnya, saat itu, hanya keberanian dan pengetahuan teater yang dipelajarinya di berbagai tempat semasa masih di Sekolah Menengah Umum.
Awalnya, 1982, digelar tontonan bertajuk Sandiwara Dalam Sandiwara. Khusus untuk memeriahkan perayaan 17 Agustusan di Kober Kecil, Jatinegara, Jakarta. Dindon bikin naskah dan teman-teman memainkannya secara improvisatoris. Lalu kegiatan dikembangkan lebih serius. Setiap hari berlatih, hanya libur Jumat dan Sabtu. Maka, terbentuklah Teater Kubur pada 1983. Kemudian disadari, tak cukup bila cuma mengusung karya-karya orang lain. Sehingga Dindon pun mulai berkonsentrasi menulis naskah. Dengan berbagai sentuhan artistik selama proses kreatifnya, Sirkus Anjing digelar pada 1987. Dua tahun lebih penampilan itu dipersiapkan. Komentar beragam terbit di kalangan pengamat seni. Dan Benny Johanes menulis, “Sirkus Anjing banyak dipengaruhi puisi mantra yang menjadi ciri khas Sutadji Calzoum Bachri. Misalnya saja kalimat; "kauku karena kaukukaku", yang dijawab, "kukau karena kaukakikukaku ..."
Kata-kata yang semula nyaris tanpa makna, ketika diucapkan berulang dan dilengkapi gestur yang kaya, hadir mewakili keterhimpitan kaum marjinal dari beban hidup. Sebagai sutradara, Dindon menganggap dirinya hanya leader. Tak ada kesenjangan dengan yang lain. Dia berprinsip, semuanya di Teater Kubur memiliki daya kreatif.
Dindon menyodorkan ruang conditioning dalam latihan. Dia mengibaratkannya seperti seseorang yang ingin menggoreng sesuatu, tetapi tak tahu apa yang harus digoreng, meski penggorengannya sudah siap beserta minyaknya. Dari sinilah Dindon mulai menggali berbagai kemungkinan dari setiap ide yang dihasilkan. Dia juga yakin, satu ide, pasti menghasilkan ide-ide baru yang lain. Hal itu membentuk kepekaan bagi para aktor dalam menjadikan panggung sebagai arena bermain. Improvisasi jadi salah satu andalan. Dindon hampir tak pernah mempunyai model final. Semua bentuk ditemukan lewat proses seleksi, meski bisa saja di atas panggung muncul improvisasi.
Dalam melakoni proses kreatif, kelompok ini menerapkan falsafah teater bukan sekedar produk panggung melainkan sebentuk refleksi hidup. Dindon selalu menekankan eksplorasi, dan tak pernah mematok target pementasan jika eksplorasi belum menunjukkan hasil. Setelah Sirkus Anjing di Art Summit, Teater Kubur menampilkan On/Off yang digelar di Tokyo, Jepang, 2007-2008. Dan, direncanakan tampil di Jakarta, dengan judul Rumah Bolong.
Pentingnya tema lingkungan dan kemanusiaan diangkat Dindon dalam Rumah Bolong. Lakonnya tentang rumah yang semua pintunya telah tercerabut, sehingga segala hal bisa masuk, baik binatang, penyakit, juga racun. Hal ini merupakan metafora atas sebuah bangsa yang sudah tidak kuat lagi menahan bendungan berbagai hal yang sewaktu-waktu bisa saja mengubah karakteristik bangsa itu. Karenanya, Dindon pun membawa pesan untuk menumbuhkan daya kritis bagi masyarakat terhadap berbagai hal yang diterimanya dari pengaruh budaya Barat.
Hingga kini, nampaknya, Teater Kubur mampu bertahan menghadapi arus globalisasi dan konsumerisme. Pengaruh kota besar seakan gagap berhadapan dengan komunitas itu. Mereka bahu membahu dalam berproses, budaya instan yang mewabahi manusia perkotaan seakan tak berpengaruh. Tidak heran, sebab motto mereka; “Berjalanlah Bersama Cinta”, jadi panduan. Ukuran cinta, menurut Dindon, adalah kesetiaan, baik terhadap cita-cita maupun keinginan. Dia yakin fungsi teater memang untuk belajar bersama. Sah-sah saja bila dalam perjalanan ada anggota yang jadi besar sehingga bisa berjalan sendiri tanpa bersama kelompoknya lagi. Namun, dengan kesetiaan sebagai komitmen, maka apa yang telah mereka lalui bersama, tak akan mungkin terlupa begitu saja, dan pasti punya makna.
Awalnya, 1982, digelar tontonan bertajuk Sandiwara Dalam Sandiwara. Khusus untuk memeriahkan perayaan 17 Agustusan di Kober Kecil, Jatinegara, Jakarta. Dindon bikin naskah dan teman-teman memainkannya secara improvisatoris. Lalu kegiatan dikembangkan lebih serius. Setiap hari berlatih, hanya libur Jumat dan Sabtu. Maka, terbentuklah Teater Kubur pada 1983. Kemudian disadari, tak cukup bila cuma mengusung karya-karya orang lain. Sehingga Dindon pun mulai berkonsentrasi menulis naskah. Dengan berbagai sentuhan artistik selama proses kreatifnya, Sirkus Anjing digelar pada 1987. Dua tahun lebih penampilan itu dipersiapkan. Komentar beragam terbit di kalangan pengamat seni. Dan Benny Johanes menulis, “Sirkus Anjing banyak dipengaruhi puisi mantra yang menjadi ciri khas Sutadji Calzoum Bachri. Misalnya saja kalimat; "kauku karena kaukukaku", yang dijawab, "kukau karena kaukakikukaku ..."
Kata-kata yang semula nyaris tanpa makna, ketika diucapkan berulang dan dilengkapi gestur yang kaya, hadir mewakili keterhimpitan kaum marjinal dari beban hidup. Sebagai sutradara, Dindon menganggap dirinya hanya leader. Tak ada kesenjangan dengan yang lain. Dia berprinsip, semuanya di Teater Kubur memiliki daya kreatif.
Dindon menyodorkan ruang conditioning dalam latihan. Dia mengibaratkannya seperti seseorang yang ingin menggoreng sesuatu, tetapi tak tahu apa yang harus digoreng, meski penggorengannya sudah siap beserta minyaknya. Dari sinilah Dindon mulai menggali berbagai kemungkinan dari setiap ide yang dihasilkan. Dia juga yakin, satu ide, pasti menghasilkan ide-ide baru yang lain. Hal itu membentuk kepekaan bagi para aktor dalam menjadikan panggung sebagai arena bermain. Improvisasi jadi salah satu andalan. Dindon hampir tak pernah mempunyai model final. Semua bentuk ditemukan lewat proses seleksi, meski bisa saja di atas panggung muncul improvisasi.
Dalam melakoni proses kreatif, kelompok ini menerapkan falsafah teater bukan sekedar produk panggung melainkan sebentuk refleksi hidup. Dindon selalu menekankan eksplorasi, dan tak pernah mematok target pementasan jika eksplorasi belum menunjukkan hasil. Setelah Sirkus Anjing di Art Summit, Teater Kubur menampilkan On/Off yang digelar di Tokyo, Jepang, 2007-2008. Dan, direncanakan tampil di Jakarta, dengan judul Rumah Bolong.
Pentingnya tema lingkungan dan kemanusiaan diangkat Dindon dalam Rumah Bolong. Lakonnya tentang rumah yang semua pintunya telah tercerabut, sehingga segala hal bisa masuk, baik binatang, penyakit, juga racun. Hal ini merupakan metafora atas sebuah bangsa yang sudah tidak kuat lagi menahan bendungan berbagai hal yang sewaktu-waktu bisa saja mengubah karakteristik bangsa itu. Karenanya, Dindon pun membawa pesan untuk menumbuhkan daya kritis bagi masyarakat terhadap berbagai hal yang diterimanya dari pengaruh budaya Barat.
Hingga kini, nampaknya, Teater Kubur mampu bertahan menghadapi arus globalisasi dan konsumerisme. Pengaruh kota besar seakan gagap berhadapan dengan komunitas itu. Mereka bahu membahu dalam berproses, budaya instan yang mewabahi manusia perkotaan seakan tak berpengaruh. Tidak heran, sebab motto mereka; “Berjalanlah Bersama Cinta”, jadi panduan. Ukuran cinta, menurut Dindon, adalah kesetiaan, baik terhadap cita-cita maupun keinginan. Dia yakin fungsi teater memang untuk belajar bersama. Sah-sah saja bila dalam perjalanan ada anggota yang jadi besar sehingga bisa berjalan sendiri tanpa bersama kelompoknya lagi. Namun, dengan kesetiaan sebagai komitmen, maka apa yang telah mereka lalui bersama, tak akan mungkin terlupa begitu saja, dan pasti punya makna.
Profil
DINDON W.S., lahir di Jakarta, 10 Agustus 1960. Nama aslinya Wahyudin. Di belakangnya ditambahi nama ayah, Sukarja. Dan karena sejak kecil sering dipanggil dengan sapaan Dindon, maka jadilah dia menyandang nama lengkap, Dindon Wahyudin Sukarja, atau lebih dikenal dengan singkatan; Dindon W. S.
Sukarja, ayah Dindon, penggembira kesenian. Sejak kecil Dindon suka diajak menonton berbagai macam pertunjukan. Setiap Minggu misalnya, dia sering menonton pentas kesenian yang biasanya digelar di dekat Musium dan RRI, seperti wayang wong, dan seni rakyat lainnya.
Dari kedekatan Dindon dengan dunia seni pertunjukan, pelan-pelan tumbuh khayal kreatifnya untuk tampil di panggung. Melihat itu, Nafsiah, Sang Ibunda, memasukkan Dindon ke sanggar tari, padahal usianya baru 5 tahun. Saat itu, nampaknya belum terlalu lazim laki-laki menari. Namun karena keinginannya yang mendalam, Dindon pun dengan senang hati mengikuti kursus tari itu.
Dunia seni pertunjukan menyeret kian dalam saat dia masuk sekolah. Setiap libur, Dindon suka mudik ke kampung halaman ayahnya di Sumedang. Di kampung itu sering digelar topeng banjet. Dindon kecil, yang nakal, juga sering mencuri-curi masuk untuk menonton. Namun, kenakalan justru semakin mendekatkannya dengan grup topeng banjet. Tapi, tak jarang Dindon dimarahi keluarga akibat lupa waktu.
Di masa remaja, Dindon mengenal lingkungan sekitar yang penuh orang mabuk. Namun, dia juga mulai berkeliling ke banyak tempat untuk belajar teater. Dia berkenalan dengan Teater SAE, Teater Populer, Teater Kecil, dan Teater Adinda.
Setamat SMU, Dindon belajar filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Namun, dia lebih sering mendahulukan kegiatan berteaternya sehingga sering terjadi benturan waktu dengan kegiatan perkuliahan. Akibatnya, kuliah pun dia tinggalkan.
Sering orang bertanya, mengapa Dindon memilih ‘kubur’ untuk nama kelompoknya? Dan dengan rileks dia mengungkap, “Nama Teater Kubur, secara letak, memang ada di dekat kuburan. Sedang makna kuburan sendiri bisa diartikan, bahwa, kita bisa belajar dari yang sudah mati, untuk memaknai hidup kita agar lebih baik lagi. Jadi, kematian itu justru untuk kehidupan. Kita bisa belajar dari kegagalan dan kesuksesannya semasa hidup. Namun, meski filosofisnya begitu, nama Teater Kubur muncul secara spontan.”
Banyak hal mendorong kecintaan yang lebih mendalam terhadap teater. Tak heran jika dia kemudian memutuskan, teater adalah hidupnya. Pekerjaan lain yang dia kerjakan pun tetap tak jauh dari teater. Dindon sering tampil sebagai pelatih seni peran, pemandu workshop, pembicara di berbagai forum dan seminar. Pada 2000, dia menjadi pembicara di Forum Temu Teater Indonesia. Pada forum yang sama, hadir nama-nama besar seperti Putu Wijaya, dan N. Riantiarno.
Pada 1993, Dindon sempat mengunjungi Monash University dalam upaya membuat karya dan belajar bersama. Pada 1989-1990, dia juga berpartisipasi dalam sebuah kegiatan di Adelaide, Australia, berupa Forum Teater Anak Muda, yang berisikan berbagai seminar.
Di Amsterdam, Belanda, dia berpentas keliling, berkolaborasi dengan aktor-aktor Belanda dan Indonesia. Dia juga pernah meraih grant dari ANA, Art Network Asia, untuk studi banding Budaya India. Di India, dia belajar yaksagana, suatu kesenian ritual yang khas. Dindon menikahi Nadzeela, atau akrab dipanggil Sheila, dan dianugerahi tiga anak; Teatra Aulia Zahra, Camila Dara, dan Raula. Selain tempat tinggal, rumahnya juga sering dipakai sebagai tempat berkumpul Teater Kubur. Dan tempat berlatih mereka, memang dekat kuburan!
Sukarja, ayah Dindon, penggembira kesenian. Sejak kecil Dindon suka diajak menonton berbagai macam pertunjukan. Setiap Minggu misalnya, dia sering menonton pentas kesenian yang biasanya digelar di dekat Musium dan RRI, seperti wayang wong, dan seni rakyat lainnya.
Dari kedekatan Dindon dengan dunia seni pertunjukan, pelan-pelan tumbuh khayal kreatifnya untuk tampil di panggung. Melihat itu, Nafsiah, Sang Ibunda, memasukkan Dindon ke sanggar tari, padahal usianya baru 5 tahun. Saat itu, nampaknya belum terlalu lazim laki-laki menari. Namun karena keinginannya yang mendalam, Dindon pun dengan senang hati mengikuti kursus tari itu.
Dunia seni pertunjukan menyeret kian dalam saat dia masuk sekolah. Setiap libur, Dindon suka mudik ke kampung halaman ayahnya di Sumedang. Di kampung itu sering digelar topeng banjet. Dindon kecil, yang nakal, juga sering mencuri-curi masuk untuk menonton. Namun, kenakalan justru semakin mendekatkannya dengan grup topeng banjet. Tapi, tak jarang Dindon dimarahi keluarga akibat lupa waktu.
Di masa remaja, Dindon mengenal lingkungan sekitar yang penuh orang mabuk. Namun, dia juga mulai berkeliling ke banyak tempat untuk belajar teater. Dia berkenalan dengan Teater SAE, Teater Populer, Teater Kecil, dan Teater Adinda.
Setamat SMU, Dindon belajar filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Namun, dia lebih sering mendahulukan kegiatan berteaternya sehingga sering terjadi benturan waktu dengan kegiatan perkuliahan. Akibatnya, kuliah pun dia tinggalkan.
Sering orang bertanya, mengapa Dindon memilih ‘kubur’ untuk nama kelompoknya? Dan dengan rileks dia mengungkap, “Nama Teater Kubur, secara letak, memang ada di dekat kuburan. Sedang makna kuburan sendiri bisa diartikan, bahwa, kita bisa belajar dari yang sudah mati, untuk memaknai hidup kita agar lebih baik lagi. Jadi, kematian itu justru untuk kehidupan. Kita bisa belajar dari kegagalan dan kesuksesannya semasa hidup. Namun, meski filosofisnya begitu, nama Teater Kubur muncul secara spontan.”
Banyak hal mendorong kecintaan yang lebih mendalam terhadap teater. Tak heran jika dia kemudian memutuskan, teater adalah hidupnya. Pekerjaan lain yang dia kerjakan pun tetap tak jauh dari teater. Dindon sering tampil sebagai pelatih seni peran, pemandu workshop, pembicara di berbagai forum dan seminar. Pada 2000, dia menjadi pembicara di Forum Temu Teater Indonesia. Pada forum yang sama, hadir nama-nama besar seperti Putu Wijaya, dan N. Riantiarno.
Pada 1993, Dindon sempat mengunjungi Monash University dalam upaya membuat karya dan belajar bersama. Pada 1989-1990, dia juga berpartisipasi dalam sebuah kegiatan di Adelaide, Australia, berupa Forum Teater Anak Muda, yang berisikan berbagai seminar.
Di Amsterdam, Belanda, dia berpentas keliling, berkolaborasi dengan aktor-aktor Belanda dan Indonesia. Dia juga pernah meraih grant dari ANA, Art Network Asia, untuk studi banding Budaya India. Di India, dia belajar yaksagana, suatu kesenian ritual yang khas. Dindon menikahi Nadzeela, atau akrab dipanggil Sheila, dan dianugerahi tiga anak; Teatra Aulia Zahra, Camila Dara, dan Raula. Selain tempat tinggal, rumahnya juga sering dipakai sebagai tempat berkumpul Teater Kubur. Dan tempat berlatih mereka, memang dekat kuburan!
Karya
On/Off (2007-2008)
Sirkus Anjing, Jas Dalam Toilet (2004)
Danga-Dongo 1 & 2 (2000)
Sandiwara Doll (1998)
Tombol 13 (1993)
Sirkus Anjing, Jas Dalam Toilet (2004)
Danga-Dongo 1 & 2 (2000)
Sandiwara Doll (1998)
Tombol 13 (1993)
Kontak
Teater Kubur
Jl. Jatinegara Timur IV, Kober Kecil, RT 003, RW 08,
Jakarta Timur.
Telepon;
13350 Jakarta
| Phone | : | +6221 - 8511738 |
| : | dindontk@plasa.com |








