>>
Satu Merah Panggung
Biografi
Di Indonesia, tak banyak kelompok teater yang dipimpin oleh seorang perempuan. SATU MERAH PANGGUNG salah satunya. Dan Ratna Sarumpaet adalah motor penggerak kelompok itu. Dia pribadi pemberontak. Sejak pertama muncul, berbagai kontroversi mewarnai perjalanan karirnya sebagai sutradara. Perjalanannya cukup unik dan mencengangkan. Banyak yang mencaci tapi tak sedikit yang menyanjung.

Satu Merah Panggung sering disebut teater khas perempuan. Problematika gender menjadi ciri dan tantangan yang selalu dihadapi kelompok teater ini. Ciri khas ini mungkin sejalan dengan suasana feodalistik dalam dunia teater yang pernah dirasakan Ratna. Dia juga merasakan ketimpangan kelas dalam dunia seni di Indonesia. Dominasi kaum laki-laki begitu kental mewarnai dunia Teater Indonesia kala dia memulai kariernya.
    
Ratna tak pernah belajar teater secara formal. Dan sejak berdiri pada 1974, Satu Merah Panggung mengkhususkan produksi karya-karya Barat seperti Hamlet, Romeo dan Juliet, Othello, dan Antigone. “Mementaskan karya dunia penting bagi saya waktu itu, karena saya sedang belajar. Saya harus belajar dari guru-guru dunia,” ungkapnya.
    
Seiring waktu, pengakuan baru diraih Ratna dan Satu Merah Panggung, pada pementasan Antigone karya Jean Anouilh. Daya kritis Ratna kian menguat. Kejatuhan pemerintah otoriter Orde Baru tidak lantas membuat Ratna tenang. Kegelisahannya terus berlanjut. Konflik kekerasan di Aceh, pluralisme dan hak azasi manusia menjadi fokus karya-karyanya. Karya yang sangat disukainya adalah Alia: Luka Serambi Mekkah. Karya itu memantapkan posisi Satu Merah Panggung sebagai kelompok teater yang penting dan diperhitungkan. Ratna tak lagi dipandang sebelah mata.
    
Karya Ratna yang juga penting, Jamila dan Sang Presiden, dibuat untuk menanggapi fenomena pemasungan pluralisme. Lakon mengisahkan tentang pelacur yang menyerahkan diri pada polisi setelah dia membunuh pejabat pemerintah. Atas pengakuannya, Jamila dihukum mati. Namun sebelum eksekusi, Jamila ingin bertemu presiden dan ulama terkenal sebagai permintaan terakhirnya. Sebuah permintaan yang membuat banyak orang marah, sebab pelacur tidak memiliki hak untuk diampuni. Lakon itu kemudian diadaptasi menjadi sebuah film yang mendapat berbagai penghargaan internasional.
    
Banyak kritik ditujukan kepada karya-karya Ratna dan Satu Merah Panggung. Katanya, Ratna telah mendegradasi seni ke semacam politik permukaan. Namun, berbagai kritik ini tidak lantas membuat Ratna surut. Dia berpendapat, politik dan kesenian adalah dua sisi mata uang. Tidak bisa dianggap yang satu lebih penting ketimbang yang lain. “Teater kita, hidup kita, makan kita semuanya politik,” katanya. “Kalau seniman mengatakan politik itu tidak penting, bodoh namanya,” lanjutnya bergelora.
    
Karya-karya Ratna lahir dari kegelisahan yang mendalam. Sebagai kreator, dia tidak mau terjebak oleh suatu keharusan untuk terus menerus berpentas hanya demi pengukuhan diri. “Saya tak mau berkarya untuk memenuhi hasrat diakui,” ujarnya. “Saya berkarya ketika saya marah akan suatu fenomena. Ketika fenomena itu menjengkelkan saya dan tidak ada satu pun orang bersuara.”
    
Tidak hanya berteater, Satu Merah Panggung juga aktif dalam berbagai aksi kepedulian sosial. Kepedulian ini ditunjukkan dengan mendirikan Ratna Sarumpaet Crisis Center. Pusat penanggulangan krisis ini melakukan berbagai kegiatan dari memberi bantuan obat-obatan dan pakaian di daerah konflik Aceh, menangani kasus lingkungan dan pelanggaran hak azasi manusia di Porsea, Sumatera Utara serta berbagai kegiatan sosial lainnya.
    
Sebagai pejuang kemanusiaan, Ratna sangat berharap dunia kesenian Indonesia bisa maju dan tak dianggap sebagai pelengkap kehidupan saja. “Kalau kita bicara kemajuan dunia seni, tidak adil jika hanya seniman yang memikirkannya. Pemerintah harus bergerak lebih dulu,” tegasnya.
Mirza Jaka Suryana - Penulis
Nano Riantiarno - Editor

 
Profil
RATNA SARUMPAET dilahirkan di Tarutung, 16 Juli 1949. Perangainya yang keras bisajadi hasil didikan ayahnya, seorang mantan tahanan politik di era Orde Lama. Dari Tarutung, keluarganya pindah ke Jawa. Perpindahan ini cukup membikin Ratna tertekan. “Kami sekeluarga pindah ke Jawa karena ayah ditahan di Kaliurang. Kami, yang terbiasa berbahasa Batak, dipaksa berbahasa Jawa karena lingkungan. Ini membuat kami stres,” ungkapnya.

Karena tertarik teater, dia putuskan berhenti kuliah di jurusan arsitektur Universitas Kristen Indonesia, Jakarta. Ketertarikan ini timbul ketika dia menonton pertunjukan Kasidah Berjanji, garapan Bengkel Teater Rendra. Kemudian dia tinggal di kediaman Sang Maestro di Yogyakarta, untuk belajar teater. Sempat ikut pentas Macbeth, tapi memutuskan keluar dari Bengkel Teater dan membentuk kelompok sendiri, Satu Merah Panggung. Keputusan  keluar dari Bengkel Teater berawal dari ketidaksukaannya pada pola feodalistik yang diterapkan Rendra. “Saya berasal dari keluarga yang tidak mengenal feodalisme. Saya dididik untuk menjadi kritis,” ujarnya.
    
Pada 1974, dia menggelar pentas perdananya, karya saduran Rubayyat Umar Khayam, di TIM, Jakarta. Namun tak mendapat sambutan baik. Dewan Kesenian Jakarta bahkan dikecam karena telah memperbolehkan pementasan Ratna. Banyak yang meragukan kapasitasnya. Polemik mewarnai perjalanan karir Ratna sebagai sutradara. “Saya pikir lebih karena kecemburuan mereka,” tuturnya. “Mereka bahkan mempermasalahkan pengalaman saya sebagai sutradara. Bagaimana saya bisa bagus kalau tidak diberi kesempatan?”
  
Pertunjukan keduanya, Romeo dan Juliet, mulai banyak menarik perhatian. Dengan menggunakan sosok terkenal Ahmad Albar, dia berhasil menggaet penonton dalam jumlah besar. “Waktu itu, penonton Romeo dan Juliet membludak. Ini membuat saya semakin dikenal di dunia teater,” kenangnya.
Pengakuan akhirnya tiba ketika 1991 dia mementaskan Antigone, karya Jean Anouilh. Antigone disadur oleh Ratna untuk mengungkap kedudukan perempuan di ranah Batak. Pujian berdatangan, antaralain dari Teguh Karya yang mengatakan, Ratna satu-satunya perempuan sutradara yang dimiliki Indonesia. Lalu, Ratna mulai menulis naskah dramanya sendiri.
    
Ratna, sejak awal sudah menghembuskan aroma perlawanan. Melalui Marsinah: Nyanyian dari Bawah Tanah, 1994, dia mempertanyakan keadilan yang tidak diberikan penguasa kepada rakyat. Terlebih, dia melihat, perempuan selalu menjadi objek yang dipinggirkan oleh kekuasaan. Karya kedua yang ditulisnya ini mendapat pencekalan.
Ketika kasus Marsinah dibekukan oleh kepolisian, Ratna langsung merespon dengan menggelar Marsinah Menggugat. Karya ini membuat namanya dikenal di seantero dunia. Dia pun sempat ditangkap penguasa Orde Baru dengan tuduhan merencanakan makar. Namun, disebabkan oleh maraknya pembicaraan Marsinah di dunia internasional dan tuntutan untuk membebaskan Ratna dari penjara, dia akhirnya dibebaskan.
    
Ratna tidak pernah menyatakan diri sebagai seorang feminis, namun karya-karyanya banyak berbicara tentang perempuan, hak azasi manusia dan seksualitas. Tajamnya kritik Ratna mengantarnya jadi salah satu dari lima perempuan penulis naskah drama paling kuat di dunia. “Saya berkarya berdasarkan kemanusiaan,” tegasnya. “Dan ketika orang menganggap karya saya kuat, itu sudah lain soal,” lanjutnya.
    
Pada periode 2003-2006, Ratna menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta. Di bawah kepemimpinannya, Dewan Kesenian Jakarta berhasil mendapatkan dana anggaran dari pemerintah Daerah Khusus Ibukota (DKI) sebesar lebih dari 7 miliar rupiah. Jumlah ini menurun signifikan di tahun-tahun setelah kepemimpinannya berakhir. Hal ini cukup membuatnya kecewa. Menurutnya, penurunan anggaran menunjukkan ketidakpedulian pemerintah terhadap dunia kesenian. “Kita harus membuat kesenian sepenting beras bagi perut. Dan semua itu harus dimulai dari pemerintah,” tuturnya. Dia malah berharap, setiap kecamatan di Indonesia memiliki gedung pertunjukan.
Mirza Jaka Suryana - Penulis
Nano Riantiarno - Editor

Ket. Foto: Pelacur dan Presiden - Dok. Dewan Kesenian Jakarta
Karya
Jamila dan Sang Presiden (2006)
Anak-anak Kegelapan (2003)
Alia: Luka Serambi Mekkah (2000)
Marsinah Menggugat, Pesta Terakhir (1997)
Terpasung (1996)
Marsinah: Nyanyian dari Bawah Tanah (1994)  



Kontak
Satu Merah Panggung
Bukit Duri Tanjakan Jl. Kampung Melayu Kecil No. 24 Jakarta Selatan Jakarta
Phone:+62811-950450
Email:sarumpaet_r@live.com
 
Kunjungi blog kami di: www.kelola.or.id/blog
Informasi terbaru kegiatan Kelola, Klik disini