>>
Sanggar Merah Putih
Biografi
SANGGAR MERAH PUTIH MAKASSAR, dijaga oleh Djamal Dilaga. Itulah sebuah organisasi teater dengan banyak sutradara, dan beregenerasi. Tidak punya bentuk. Setiap sutradara, dari generasi yang berbeda, masing-masing punya karakter dan gaya tersendiri. Tapi hubungan kekeluargaan di antara mereka sangat kuat. Motto yang jadi pegangan adalah, ‘Merah Putih Setiap Hati’. Djamal berujar sekaligus mengaku, “Saya banyak belajar di SMPM, Sanggar Merah Putih Makassar.”
   
Djamal Dilaga dikenali lewat garapan karyanya yang tak jarang menggunakan gaya teater konvensional. Lakon-lakon yang disutradarainya pun lebih bisa disebut sebagai drama realis. Meski, ada juga garapannya yang beraroma eksperimen dan ‘absurd’. Teater konvensional sebagai pilihan, dikerjakannya dengan ketaatan yang penuh terhadap prinsip dasar penggayaan, aturan estetika dan dramaturginya.

Djamal Dilaga banyak mengangkat karya yang merupakan tinjauan atau potret dari masalah-masalah sosial. Penyutradaraan pertamanya, monolog Dar Der Dor karya Putu Wijaya, digelar pada Temu Teater Sulawesi Selatan, 1999. Pementasan yang menggunakan iringan musik bernuansa lokal itu, terpilih sebagai Penyaji Terbaik. Penonton memang sempat terpukau.

Tahun 2000, pada Festival Teater Sulawesi Selatan, penyutradaraan Djamal yang diproduksi Sanggar Merah Putih, kembali merebut gelar Penyaji Terbaik. Lakonnya, sebuah saduran dari Dokter Gadungan karya Moliere. Dengan cerdik, Djamal memasukkan warna lokal, Sulawesi Selatan, ke dalam garapannya. Dari mulai tata artistik, sampai kepada dialek yang diucapkan para aktornya. Dengan demikian, keintiman terwujud. Penonton tak merasa sedang menonton drama asing, tapi seakan tengah melahap permasalahan diri sendiri.

Pada 2000, Djamal menggarap eksperimen berjudul Duka Kotaku. Karya itu dipentaskan di lapangan terbuka kota Makassar. Lakonnya bermaksud  bicara tentang kota yang kian hilang nilai-adat istiadatnya, tak acuh terhadap budaya sendiri, dan munculnya peradaban instan yang glamor. Burung-burung tak lagi berkicau, karena tiada lagi pohon tempat mereka bernyanyi. Hotel dan mal di mana-mana. Pertunjukan itu dimainkan oleh puluhan aktor Sanggar Merah Putih. Dan respon publik, sungguh luar biasa. Para penonton, tanpa disadari segera terlibat dan ikut berpartisipasi. Mereka lebur dalam suasana lakon.

Setahun kemudian, 2001, Djamal menyutradarai Pelangi karya N. Riantiarno. Ketika ditanya, mengapa memilih lakon itu, Djamal menjawab dengan sangat sungguh-sungguh, “Untuk memperbaiki kualitas ruang sosial, terlebih dahulu harus memberdayakan rumah tangga setiap keluarga. Di dalam Pelangi, terdapat banyak teks yang menyimpan tafsir serius pada ruang sosial kita.”

Tafsir Djamal terhadap teks, diungkap pula dengan kalimat, “… hidup ini bukanlah coba-coba, hidup hanya berlangsung satu kali, tak ada yang lebih berharga selain pengalaman dan kenyataan hidup, meski kenyataan terkadang tidak sesuai dengan keinginan dan impian setiap manusia.” Menurutnya, Pelangi adalah cerminan kisah eksistensi dan emansipasi perempuan.

Pada 2005, Djamal menggelar Egon karya Saini KM, di Teater Tertutup Gedung Kesenian Societeit de Harmonie, Makassar. Karya ini, banyak bicara tentang hak asasi manusia. Dan 2001, Djamal menggarap Kemana. Sebuah garapan out door. Pada 2002, dia menggarap dua karya. Yang pertama, Saat, karya Taufiq Al-Hakim. Kedua, Nyanyian Ruang, karya Djamal sendiri, yang dilengkapi nyanyian tradisi klasik Bugis Makassar.

Mega-Mega karya Arifin C Noer digarap pada 2006. Dan pada 2007, dipentaskannya Nyanyian Urban, adaptasi Citra karya Bahar Merdhu. Lakon mengisahkan tingkat kemiskinan masyarakat kota yang begitu parah. Jumlah masyarakat miskin membengkak karena memang diciptakan oleh penguasa, kebijakan licik dan pemodal yang serakah. Pentas itu, bisajadi merupakan protes Djamal terhadap kapitalisme yang tak memiliki hati.
Arifin Manggau - Penulis
Nano Riantiarno - Editor


 
Profil
DJAMAL DILAGA lahir di Makassar, 7 Agustus 1971. Nama asli pemberian orangtua, Djamaluddin saja. Dilaga adalah nama tambahan ketika dia menginjakkan kaki di dunia teater pada 1993.

Djamal Dilaga menggeluti dunia seni, khususnya teater, berbekal ketulusan hati. Dia tekun, dan enerjinya ketika bekerja, amat total sehingga jalan teater? terbuka baginya. Djamal bukan lulusan lembaga formal pendidikan seni. Boleh dibilang, dia otodidak. Kesenian, terutama teater, dikenali dan dipahami dengan penuh semangat lewat pertunjukan, dan buku-buku yang dibacanya. Tapi dia tak pernah puas dan selalu merasa kurang. Maka, diikutinya berbagai workshop, rajin menghadiri diskusi dan kadang bicara di seminar. Semua itu untuk mempertajam kesiapannya hadir di dunia teater.

Sebelum menyutradarai, dia punya segudang pengalaman bermain teater di berbagai pertunjukan tari dan teater. Dia sering pula diarahkan oleh sutradara-sutradara senior Makassar. Dia juga pernah berpentas keliling di lorong-lorong bersama Rombongan Sandiwara Petta Puang dengan sutradara Bahar Merdhu. Pernah pula dia menjadi penari selama kurang lebih tiga tahun.

Dan sebagai aktor, Djamal pernah berpentas keliling Pulau Jawa. Lakon yang dimainkan berjudul Ketika Kita Kaku, sutradaranya Arman Dewarti. Dengan sutradara yang sama pula dia berpentas di Palu Dance Festival, 2002. Judul lakon yang dia mainkan, Kausal Tanah Batu. Pentas di Festival Ritual Toraja dilakukannya dengan lakon Menunggu Batu Tumbuh. Dan penghargaan sebagai Pemeran Pembantu Pria Terbaik, diraihnya pada tahun 1996 dalam Festival Teater Nasional di Bandung. Waktu itu, dia memperkuat kontingen Sulawesi Selatan. Nalurinya sebagai aktor agaknya tidak pernah padam. Pada beberapa karya garapannya sendiri, dia juga mendobel jadi aktor. Antaranya; Two Man Play Kereta Kencana (2003), Mega-Mega (2005), monolog Masa Kecil dan Bintang Kejora (2007-2008).

Djamal Dilaga bisa disebut serba bisa. Dia melakukan apa pun yang bisa dilakukan di teater. Selain menyutradarai, juga sering menjadi manajer panggung dan penata artistik. Dalam banyak pertunjukan kesenian di Sulawesi Selatan, dia sering pula dilibatkan. Enerji Djamal seakan tak ada habisnya. Tahun 1996, dia pernah meraih penghargaan untuk penataan artistik pada pagelaran dan Seminar Nasional Sultan Alauddin, 1996.

Meski Djamal Dilaga bukan lulusan pendidikan formal seni, khususnya teater, dia sering menjadi pelatih, pemandu lokakarya, fasilitator atau narasumber. Tentu, pengalamannya yang berbaga-bagai itu sangat berharga dan sayang kalau tidak dibagikan kepada lain orang.

Djamal Dilaga, adalah salah seorang penerima Celebes Award 2007. Sebuah penghargaan dari pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan di bidang teater. Saat ini di samping menggeluti teater, dia juga ikut mengelola Gedung Kesenian Societeit de Harmonie Propinsi Sulawesi Selatan. Bidang yang dia tangani adalah Artistik dan Manajemen Panggung.
Arifin Manggau - Penulis
Nano Riantiarno - Editor
Karya
Nyanyian Urban (2007)
Mega - Mega (2006)
Two Men Play, Kereta Kencana (2003)
Kemana (2001 - 2001)
Semua dari Kita (2000)
Kontak
Sanggar Merah Putih
Jalan Ribura'ne No. 15 Makassar South Sulawesi
Phone:+62411- 5085375 / +62812 - 4204126
Email:jmldilaga@gmail.com
 
Kunjungi blog kami di: www.kelola.or.id/blog
Informasi terbaru kegiatan Kelola, Klik disini