Papermoon Puppet TheatreSanggar Merah PutihSatu Merah PanggungSeni TekuSlamet GundonoStudiKlub Teater BandungTeater GandrikTeater GarasiTeater GardanallaTeater Gidag GidigTeater KalaTeater KamiTeater KitaTeater KomaTeater Kubur
| >> |

Teater Kita
Biografi
TEATER KITA MAKASSAR, dibentuk Asia Ramli Prapanca dan seniman-seniman muda Sulawesi Selatan dari berbagai disiplin seni, pada 1 Oktober 1993. Perjalanan kesenian Ram, panggilan akrab Asia Ramli, tak bisa dipisahkan dengan memori tradisi dari kampungnya, Usuku, Pulau Tomia. Tradisi itu dia bawa ke Makassar, lalu dipertautkan dengan bentuk-bentuk kesenian yang diserap dari pengalaman dan pergaulannya bersama Sanggar Merah Putih Makassar, Teater Makassar, dan Dewan Kesenian Makassar. Aktor dan sutradara Roland Ganamet dari Perancis, Afrizal Malna, dan paling utama, prosesnya bersama Dr. Halilintar Lathief dan Balai Pendidikan Pusat Kesenian Somba Opu, juga sangat mempengaruhinya.
Bentuk pertunjukan Teater Kita Makassar (TKM), selalu bernuansa kolaboratif. Ram menggabungkan gagasan atau ide-ide dari setiap individu, dari disiplin tari, musik, sastra, rupa, dan seni laku. Dia menumbuhkembangkan bentuk dengan menggali kekuatan-kekuatan budaya lokal tempat para pendukung dilahirkan dan dibesarkan. yang memiliki daya pengalaman dan cita rasa. Lalu, dikawinkan dengan peristiwa-peristiwa zaman, baik lokal, regional, maupun global, lewat berbagai tematik yang aktual.
Dalam proses penggarapan sebuah karya, TKM terlebih dahulu melakukan observasi terhadap masalah lingkungan, sosial, budaya, politik, hukum, ekonomi, dan agama. Berbagai masalah tersebut dibahas dan dikaji oleh para pendukung lewat dialog conflic resolution dengan mengundang narasumber yang kapabel. Hasil dialog diekspresikan lewat latihan dan eksplorasi. Cara itu merupakan ciri utama dari Ram dan TKM dalam melakukan proses menjejaki dan mencari hal-hal yang baru dan orisinil, baik berupa tema, judul, teks, gerak, bunyi, rupa, kostum maupun properti. Temuan itu, kemudian dikemas dan dibangun menjadi sebuah karya seni pertunjukan.
Misi Ram bersama Ishakim dan para pendiri TKM adalah merevitalisasi akar budaya lokal melalui karya seni teater yang bertolak dari jiwa, semangat, dan elemen seni tradisional. Juga merefleksikan dan mendialogkan problematika lingkungan alam dan lingkungan sosial dalam konteks ‘kekerasan’ modernitas dan keniscayaan globalisasi melalui bahasa artistik seni pertunjukan dan pemilihan tema yang relevan. TKM selalu ingin membuka pintu dalam hal peletakan dasar kerjasama berkelanjutan dan pembentukan jaringan untuk melahirkan kekuatan bersama.
Dalam kerja sama menggarap suatu tema, TKM tak mengalami kesulitan karena selama ini elemen teks pertunjukan TKM memang disunting dari berbagai sumber pilihan. Untuk keperluan persiapan pertunjukan, TKM hampir-hampir tidak memerlukan ‘naskah baku’ sebagai sumber acuan bermain. Nomor-nomor pertunjukannya hanya mengacu pada semacam catatan plot yang sangat lentur untuk berubah yang disebut “prosesi pertunjukan”.
Namun, yang terutama harus dijaga pada setiap garapan adalah logika pertunjukan itu sendiri. Agar pementasan tidak terjerumus ke dalam permainan ide dan bentuk yang amburadul tanpa juntrungan. Semua elemen harus fungsional keberadaannya sehingga tak hadir begitu saja dalam pertunjukan. Ram menerapkan logika puisi yang sangat ketat dan diberi suasana ritual.
Pertunjukan Ram selalu diakhiri dengan upacara bersama, semacam upacara penyucian bersama. Sekeras apa pun yang ditampilkan, selalu diakhiri dengan prosesi penyembuhan. Proses ini ditemukan ketika dia bersama Badik Pusaka di Benteng Somba Opu.
Tempat pertunjukan TKM bisa di mana saja sesuai tuntutan jiwa dan bentuk serta atmosfir yang hendak dihadirkan. Bisa di panggung prosenium, teater arena, halaman, aula, auditorium, monumen, taman, benteng, lobi, plaza, dermaga, pantai, pulau, bukit, dan gunung. Lewat karya-karyanya, sejumlah penghargaan telah diraih Ram. Pada 2002, dia mendapat Celebes Awards dari Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan.
Bentuk pertunjukan Teater Kita Makassar (TKM), selalu bernuansa kolaboratif. Ram menggabungkan gagasan atau ide-ide dari setiap individu, dari disiplin tari, musik, sastra, rupa, dan seni laku. Dia menumbuhkembangkan bentuk dengan menggali kekuatan-kekuatan budaya lokal tempat para pendukung dilahirkan dan dibesarkan. yang memiliki daya pengalaman dan cita rasa. Lalu, dikawinkan dengan peristiwa-peristiwa zaman, baik lokal, regional, maupun global, lewat berbagai tematik yang aktual.
Dalam proses penggarapan sebuah karya, TKM terlebih dahulu melakukan observasi terhadap masalah lingkungan, sosial, budaya, politik, hukum, ekonomi, dan agama. Berbagai masalah tersebut dibahas dan dikaji oleh para pendukung lewat dialog conflic resolution dengan mengundang narasumber yang kapabel. Hasil dialog diekspresikan lewat latihan dan eksplorasi. Cara itu merupakan ciri utama dari Ram dan TKM dalam melakukan proses menjejaki dan mencari hal-hal yang baru dan orisinil, baik berupa tema, judul, teks, gerak, bunyi, rupa, kostum maupun properti. Temuan itu, kemudian dikemas dan dibangun menjadi sebuah karya seni pertunjukan.
Misi Ram bersama Ishakim dan para pendiri TKM adalah merevitalisasi akar budaya lokal melalui karya seni teater yang bertolak dari jiwa, semangat, dan elemen seni tradisional. Juga merefleksikan dan mendialogkan problematika lingkungan alam dan lingkungan sosial dalam konteks ‘kekerasan’ modernitas dan keniscayaan globalisasi melalui bahasa artistik seni pertunjukan dan pemilihan tema yang relevan. TKM selalu ingin membuka pintu dalam hal peletakan dasar kerjasama berkelanjutan dan pembentukan jaringan untuk melahirkan kekuatan bersama.
Dalam kerja sama menggarap suatu tema, TKM tak mengalami kesulitan karena selama ini elemen teks pertunjukan TKM memang disunting dari berbagai sumber pilihan. Untuk keperluan persiapan pertunjukan, TKM hampir-hampir tidak memerlukan ‘naskah baku’ sebagai sumber acuan bermain. Nomor-nomor pertunjukannya hanya mengacu pada semacam catatan plot yang sangat lentur untuk berubah yang disebut “prosesi pertunjukan”.
Namun, yang terutama harus dijaga pada setiap garapan adalah logika pertunjukan itu sendiri. Agar pementasan tidak terjerumus ke dalam permainan ide dan bentuk yang amburadul tanpa juntrungan. Semua elemen harus fungsional keberadaannya sehingga tak hadir begitu saja dalam pertunjukan. Ram menerapkan logika puisi yang sangat ketat dan diberi suasana ritual.
Pertunjukan Ram selalu diakhiri dengan upacara bersama, semacam upacara penyucian bersama. Sekeras apa pun yang ditampilkan, selalu diakhiri dengan prosesi penyembuhan. Proses ini ditemukan ketika dia bersama Badik Pusaka di Benteng Somba Opu.
Tempat pertunjukan TKM bisa di mana saja sesuai tuntutan jiwa dan bentuk serta atmosfir yang hendak dihadirkan. Bisa di panggung prosenium, teater arena, halaman, aula, auditorium, monumen, taman, benteng, lobi, plaza, dermaga, pantai, pulau, bukit, dan gunung. Lewat karya-karyanya, sejumlah penghargaan telah diraih Ram. Pada 2002, dia mendapat Celebes Awards dari Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan.
DR. Andi Halilintar Lathief - Penulis
Nano Riantiarno - Editor
Profil
ASIA RAMLI PRAPANCA, lahir 1960, di Desa Usuku, Pulau Tomia, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Ram, panggilan akrabnya, yang lahir dari keluarga pelaut, merupakan anak kelima dari sebelas bersaudara. Ayahnya, H. Ramli, pedagang kopra dan cengkeh. Dengan perahu-perahu layar miliknya, Sang Ayah berdagang kopra dan cengkeh hingga ke Jawa. Ibu Ram, Hj. Siti Salmah, usia 86 tahun, kini menetap di Pasuruan. Di hati Ram, ibunya bagai pahlawan yang telah membesarkan 11 putra-putri dan banyak anak angkat. Semasa gadis, Sang Ibu pernah menari tarian tradisional, Lareangi.
Ram tamat SD Negeri Usuku, 1972. Semasa kecil, dia hidup dalam lingkungan budaya kepulauan yang akrab dengan cerita-cerita rakyat, dongeng, tari, musik dan lagu-lagu pesisiran. Budaya Sulawesi, Maluku, Jawa, Malaysia, dan Arab, yang dibawa pulang orang-orang pulaunya, juga dia serap. Dia senang menyaksikan acara-acara kesenian yang ditampilkan pada pesta perkawinan. Orkes disuguhkan untuk berjoget sampai pagi, juga tarian Lareangi, Balumpa, Pakenta-kenta.
Dia punya segudang memori yang tak dapat dilupakan. Antara lain; sebelum tidur, neneknya selalu mendongeng disertai nyanyian. Ram mahir memainkan tari Eja-Eja yang diajarkan kakaknya, La Ode Ali Hanafi. Juga permainan dan upacara ritual saat Maulid Nabi; Luttu-luttunani (semacam permainan silat dengan tongkat), dan upacara ritual menghiasi perahu dengan telur, bendera-bendera dari uang, dan berbagai makanan tradisi, lalu di-larung ke laut. Setelah itu, upacara Kekewua.
Ram ingat, setiap bulan Puasa, para pelajar SMA dan mahasiswa pulang dari kota untuk berlibur di kampung. Lalu pementasan pun digelar di panggung besar di lapangan bola kaki, berupa visualisasi puisi, tarian, dan pertunjukan drama. Dan Ram selalu dilibatkan, terutama dalam visualisasi puisi dan pertunjukan drama.
Kala SD, Ram pernah diajak ayahnya berlayar, menjual kopra di Semarang. Ram jatuh ke laut akibat hilang keseimbangan. Begitu dia diangkat ke geladak, bukan kasih sayang yang diperoleh dari ayahnya, tapi tamparan dan kemarahan. Sampai sekarang Ram selalu merasa, pernah mati di laut.
Ram pernah pula dihukum ayahnya dengan cara digulung dengan tikar terbuat dari bilah bambu lalu diinjak-injak. Karena masih teriak-teriak, dia dimasukkan ke dalam karung goni dan diikat. Jangankan berteriak, nafas pun sesak karena dalam karung goni penuh debu sabut kelapa. Setelah hukuman dianggap cukup, Ram dikeluarkan lalu dimandikan dan beberapa permintaannya dikabulkan Ibunya. Bagi Ram, ayah dan ibunya adalah pertemuan antara ombak dan pantai, dan Ram sebagai buihnya. Tanpa ombak dan pantai, buih tak akan pernah ada.
Ram tamat di SMPN Usuku, 1976. Saat itu, bakatnya sebagai pembaca puisi semakin nampak. Dia selalu mewakili sekolahnya dalam lomba baca puisi. Selesai SMA, 1979, Ram diantar ayahnya ke Jakarta dengan perahu layar dan berlabuh di Tanjung Priok. Tujuannya, mendaftar di salah satu perguruan tinggi. Atau, ikut kerja di salah satu perusahaan keluarga di Jakarta. Tujuan itu buyar.
Tahun 1981, ayahnya wafat di pangkuan Ram. Dia sedih. Kakak-kakaknya menyuruhnya masuk IKIP Ujungpandang. Bakat Ram sebagai penulis sastra dan pemain teater kian nampak. Di luar kampus, Ram bergabung dengan Sanggar Merah Putih Makassar dan main drama-drama yang disutradarai Yoedhistira Sukatanya.
Lulus IKIP Ujungpandang, dia mendaftar sebagai PNS dan jadi guru di SMEAN Sengkang, 1987. Lalu pindah mengajar di SMKIN Somba Opu di Sungguminasa, Kabupaten Gowa, 1990. Pada 1995, dia diangkat jadi dosen luarbiasa di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Makassar.
Di rumah Ram, Teater Kita Makassar dan Teater Kampus UNM berdiskusi dan berlatih teater.
Ram selalu berangkat dari memori tradisi masa kanak-kanaknya. Dan sebagai landasan estetika teaternya, dia lebih banyak berangkat dari prosesnya bersama Badik Pusaka di Benteng Somba Opu. Di sana dia belajar dari Dr. Halilintar Lathief tentang nilai-nilai tradisi dan upacara ritual Bugis-Makassar. Dalam proses eksplorasinya, Ram mengembangkan dua bidang sekaligus; puisi dan teater.
Ram tamat SD Negeri Usuku, 1972. Semasa kecil, dia hidup dalam lingkungan budaya kepulauan yang akrab dengan cerita-cerita rakyat, dongeng, tari, musik dan lagu-lagu pesisiran. Budaya Sulawesi, Maluku, Jawa, Malaysia, dan Arab, yang dibawa pulang orang-orang pulaunya, juga dia serap. Dia senang menyaksikan acara-acara kesenian yang ditampilkan pada pesta perkawinan. Orkes disuguhkan untuk berjoget sampai pagi, juga tarian Lareangi, Balumpa, Pakenta-kenta.
Dia punya segudang memori yang tak dapat dilupakan. Antara lain; sebelum tidur, neneknya selalu mendongeng disertai nyanyian. Ram mahir memainkan tari Eja-Eja yang diajarkan kakaknya, La Ode Ali Hanafi. Juga permainan dan upacara ritual saat Maulid Nabi; Luttu-luttunani (semacam permainan silat dengan tongkat), dan upacara ritual menghiasi perahu dengan telur, bendera-bendera dari uang, dan berbagai makanan tradisi, lalu di-larung ke laut. Setelah itu, upacara Kekewua.
Ram ingat, setiap bulan Puasa, para pelajar SMA dan mahasiswa pulang dari kota untuk berlibur di kampung. Lalu pementasan pun digelar di panggung besar di lapangan bola kaki, berupa visualisasi puisi, tarian, dan pertunjukan drama. Dan Ram selalu dilibatkan, terutama dalam visualisasi puisi dan pertunjukan drama.
Kala SD, Ram pernah diajak ayahnya berlayar, menjual kopra di Semarang. Ram jatuh ke laut akibat hilang keseimbangan. Begitu dia diangkat ke geladak, bukan kasih sayang yang diperoleh dari ayahnya, tapi tamparan dan kemarahan. Sampai sekarang Ram selalu merasa, pernah mati di laut.
Ram pernah pula dihukum ayahnya dengan cara digulung dengan tikar terbuat dari bilah bambu lalu diinjak-injak. Karena masih teriak-teriak, dia dimasukkan ke dalam karung goni dan diikat. Jangankan berteriak, nafas pun sesak karena dalam karung goni penuh debu sabut kelapa. Setelah hukuman dianggap cukup, Ram dikeluarkan lalu dimandikan dan beberapa permintaannya dikabulkan Ibunya. Bagi Ram, ayah dan ibunya adalah pertemuan antara ombak dan pantai, dan Ram sebagai buihnya. Tanpa ombak dan pantai, buih tak akan pernah ada.
Ram tamat di SMPN Usuku, 1976. Saat itu, bakatnya sebagai pembaca puisi semakin nampak. Dia selalu mewakili sekolahnya dalam lomba baca puisi. Selesai SMA, 1979, Ram diantar ayahnya ke Jakarta dengan perahu layar dan berlabuh di Tanjung Priok. Tujuannya, mendaftar di salah satu perguruan tinggi. Atau, ikut kerja di salah satu perusahaan keluarga di Jakarta. Tujuan itu buyar.
Tahun 1981, ayahnya wafat di pangkuan Ram. Dia sedih. Kakak-kakaknya menyuruhnya masuk IKIP Ujungpandang. Bakat Ram sebagai penulis sastra dan pemain teater kian nampak. Di luar kampus, Ram bergabung dengan Sanggar Merah Putih Makassar dan main drama-drama yang disutradarai Yoedhistira Sukatanya.
Lulus IKIP Ujungpandang, dia mendaftar sebagai PNS dan jadi guru di SMEAN Sengkang, 1987. Lalu pindah mengajar di SMKIN Somba Opu di Sungguminasa, Kabupaten Gowa, 1990. Pada 1995, dia diangkat jadi dosen luarbiasa di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Makassar.
Di rumah Ram, Teater Kita Makassar dan Teater Kampus UNM berdiskusi dan berlatih teater.
Ram selalu berangkat dari memori tradisi masa kanak-kanaknya. Dan sebagai landasan estetika teaternya, dia lebih banyak berangkat dari prosesnya bersama Badik Pusaka di Benteng Somba Opu. Di sana dia belajar dari Dr. Halilintar Lathief tentang nilai-nilai tradisi dan upacara ritual Bugis-Makassar. Dalam proses eksplorasinya, Ram mengembangkan dua bidang sekaligus; puisi dan teater.
DR. Andi Halilintar Lathief - Penulis
Nano Riantiarno - Editor
Karya
Pelayaran Menuju Ibu (Jangan Lupakan Warna Merah), Mati Listrik (2009)
Sawah Yang Mengetuk Jendelaku (2008)
The Eyes Of Marege (2007)
Wa Ina Wandiu-diu (Tarian di Atas Rok Ibuku), The Crocodile Hotel (also known as The Eyes of Marege), Aku Bermain di Ruang Kecil Ini, Ayam Berwarna Hijau Jatuh Dari Mulutku (2003)
Opera Tanpa Kata, Empat Paragraf dari Ibu (2002)
Sawah Yang Mengetuk Jendelaku (2008)
The Eyes Of Marege (2007)
Wa Ina Wandiu-diu (Tarian di Atas Rok Ibuku), The Crocodile Hotel (also known as The Eyes of Marege), Aku Bermain di Ruang Kecil Ini, Ayam Berwarna Hijau Jatuh Dari Mulutku (2003)
Opera Tanpa Kata, Empat Paragraf dari Ibu (2002)
Kontak
Teater Kita
Jl Daeng Tata I, Hartaco Indah Blok IV/AD/10
Kotamadya Makassar South Sulawesi
| : | teaterkita@hotmail.com |
Galeri










