Celah Celah Langit
Biografi
CCL dipopulerkan oleh media massa sebagai singkatan dari Centre Culture of Ledeng. Namun, menurut  Iman Soleh, CCL lebih merupakan singkatan dari Celah-Celah Langit Ledeng. Karena CCL digagas sebagai ruang terbuka, ruang interaksi budaya masyarakat yang berbasis pada kesenian.  

Melihat CCL sebagai kelompok teater adalah melihat salah satu aspek spesifik dari keberadaan CCL sebagai komunitas budaya yang berfokus pada seni pertunjukan. Artinya, eksplorasi estetik yang dilakukan CCL dalam pentas-pentas teaternya selalu merujuk pada gagasan atau visinya untuk membuat teater dekat dengan masyarakat. Teater lahir dari masyarakat, belajar dari masyarakat, hadir untuk masyarakat. Dia adalah media penguatan nilai-nilai masyarakat.

Sebagai ruang publik, kelompok teater CCL yang secara resmi berdiri pada 22 Mei 1998, berwatak populis. Nama kelompok ini mengacu pada sebuah tanah lapang yang tidak lain adalah halaman rumah Iman Soleh. Di atas tanah lapang seluas 820 meter, dengan panggung tanah berukuran 7 x 12 meter, segala proses kreatif CCL berlangsung. Proses teaternya bersinggungan dengan ratusan mahasiswa penghuni kontrakan yang mengelilinginya, warga Ledeng, para pedagang, anak-anak dan bahkan ayam-ayam yang berkeliaran di halaman yang ditumbuhi pepohonan.

Dari prosesnya selalu saja ada anak-anak, tukang parkir terminal, para mahasiswa maupun warga Ledeng yang secara sengaja ataupun tak sengaja turut menyaksikannya. Sehingga, proses kreatif teater CCL senantiasa memperhitungkan dan mempertimbangkan kehadiran masyarakat Ledeng sebagai publik apresiatornya.

Oleh karena itu, melihat garapan-garapan CCL adalah melihat persoalan dan idiom yang dekat dengan masyarakat. Pilihan artistik, model perwujudan pentasnya dibuat sedekat-dekatnya dengan apa yang menjadi bagian keseharian masyarakatnya. Dengan mengangkat soal-soal yang biasa dan dekat, secara tidak langsung CCL mengajak warganya untuk melahirkan karya kreatif dari persoalan sehari-hari, dari apa yang ada  dan apa yang dimiliki.        
   
Ketika berkolaborasi dengan sejumlah seniman mancanegara dalam garapan The Tangled Garden (2007), sejumlah seniman seperti dari Austaulia, Brasil, Yunani, Mesir, Palestina berkesempatan menggali mitologi Sunda sebagai bahan kisah sekaligus berinteraksi secara langsung, melihat, merasakan dan mengalami suasana dan aktivitas keseharian masyarakat Sunda di Ledeng. “Saya akan merindukan penduduk di sini, tempat ini, anak-anak dan ayam-ayam yang berkeliaran di panggung”, ungkap Carlos Gomes sutradara asal Brasil.

Interaksi  yang dibangun CCL memungkinkan warganya akrab dengan kesenian dan para pelakunya. Pun karena seringnya CCL mengundang dan mengakomodir pementasan dari luar memungkinkan pertukaran budaya dan interaksi sosial terbina di sana. Masyarakat Ledeng, terutama anak-anak menjadi terbiasa oleh perbedaan dan keberlainan termasuk di dalamnya ekspresi estetik-artistik yang menyertainya.

Interaksi ini berdampak pada kesadaran dan semangat koeksistensi. Melahirkan pengertian, simpati, partisipasi dan kecintaan. Anak-anak adalah penonton teater yang sangat antusias di Ledeng. Tak sedikit warga Ledeng yang tidak punya latar belakang kesenian akhirnya turut bermain dalam garapan teater CCL. Kalau tidak bermain mereka bisa membantu, misalnya menyediakan konsumsi. Pengeras suara mesjid di samping rumah Iman Soleh biasa dipakai untuk pengumuman pementasan. Bahkan tak jarang tukang gorengan yang berjualan di terminal menyumbang sisa gorengannya buat konsumsi latihan CCL.

Inilah keunikan kelompok teater CCL. Tampak sekali, Iman Soleh sebagai motor penggerak CCL, tak begitu mengutamakan target kesempurnaan pertunjukan secara estetik dan artistik. Komunikasi dengan publik lebih jadi prioritas. Sebentuk usaha mendekatkan teater dengan masyarakat. Teater merupakan perayaan kebersamaan. Wahana pembelajaran, konsolidasi dan penguatan masyarakat. Melihat CCL adalah melihat wajah masyarakatnya, begitupun sebaliknya.

Silvester Petara Hurit - Penulis
Nano Riantiarno - Editor
Profil
IMAN SOLEH, penggagas dan motor komunitas seni CCL, lahir di Bandung 5 Maret 1966. Kendati belakangan konsen menyutradarai pentas-pentas teater CCL, namun publik senantiasa rindu pada penampilan Iman sebagai aktor monolog dan pembaca puisi yang handal. Dia pernah mendapat anugerah sebagai Pembaca Puisi Terbaik Tingkat Nasional pada 1989.

Riwayat kesenimanannya sangat dipengaruhi oleh masa kecilnya sebagai orang kampung yang kaya akan kesenian tradisi. Ada grup wayang, calung, pencak silat, longser nagrak, tradisi kesenian mesjid, sandiwara dan musik tagonian. Situasi berubah manakala di sekitar rumah tinggalnya, Ledeng, dibangun terminal yang membawa serta perubahan sosial masyarakatnya. Dan kampung persawahan ayahnya di Cigondewah pun disulap jadi kawasan industri.

Iman yang mencintai kesenian sejak kecil berniat jadi seniman teater. Ibunya Hj Komasih dan ayahnya H. Mohamad Mas’ad, mendukung niat Iman tersebut. Berkat dorongan kakaknya Tisna Sanjaya yang juga seniman, Iman kemudian kuliah di Jurusan Teater STSI Bandung.

Ternyata Iman sangat berbakat di dunia keaktoran. Dia pernah menjadi aktor Studiklub Teater Bandung (STB), Payung Hitam dan Teater Kecil Arifin C Noer. Pada tahun 1998-1999, dia berkeliling ke berbagai kelompok teater di Hokkaido, Hiroshima, Kyoto dan Tokyo, terlibat dalam kolaborasi teater Indonesia, Jepang dan Philiphina.

Pada 2000, dia bergabung dengan Teater Talipot Perancis dan berproses di Reunion Island dekat Madagaskar untuk garapan L Porter d’ eau yang dipentaskan di lebih dari sepuluh negara di Eropa dan Asia. Pernah mengikuti Festival Monolog Les Mateores di Hipodrome Prancis (2002) dan mengikuti workshop Suara dan Tubuh di Douai Prancis pada 2006.

Pengalaman proses dan perjalanannya ke luar negeri ternyata menginspirasi dan mendorong dia untuk membangun kantong budaya di kampung halamannya. Memulihkan dan membangun kembali  spirit serta antusiasme berkesenian sebagaimana yang pernah dialaminya waktu kecil. Jika rumah terlalu kecil maka halamannya pun dapat dimanfaatkan untuk pelbagai aktivitas budaya. Maka lahirlah CCL yang merupakan ruang publik terbuka tempat interaksi seniman dengan masyarakatnya dalam proses dan peristiwa pertunjukan (teater).

Iman secara intens dengan modal sosial membangun CCL. Karya-karya yang disutradarainya berwatak populis. Dibuat akrab dan dekat agar bisa menyapa warganya, dari mulai anak-anak sampai yang sudah lanjut usia. Dari pengamen, tukang parkir sampai seniman, pejabat dan kalangan intelektual.

Selain berpentas di beberapa kota di tanah air, pada 2007, Iman dan CCL-nya diundang mementaskan Air di Lahore Pakistan. Juga berkolaborasi dan pentas keliling bersama Sidetrack Theatre dalam produksi The Tangled Garden di Darwin dan Sidney Australia.

Arti hidup bagi seorang Iman adalah; ‘Hidup dan bertumbuh bersama masyarakatnya di kampung Ledeng’. Mengajak mereka menghormati perbedaan dengan cinta melalui teater dan kesenian dalam arti yang lebih luas. Keikutsertaan anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak di Ledeng dalam teater adalah kemajuan dan kegembiraan bagi Iman.

Bersama CCL-nya dia ingin terus berkarya. Mengakomodasikan pelbagai seni pertunjukan. Teater tradisi dan teater modern, teater rakyat dan teater orang sekolahan (akademis). Menjadikan kampung halamannya, Ledeng, sebagai kampung seni.

Silvester Petara Hurit - Penulis
Nano Riantiarno - Editor

Ket. Foto:
Air - Dok. CCL
Karya
For The Good of The Game (2007,2009,2010)
Lautan Bernyanyi (1989,2010)
Kucing Hitam (1999,2001,2005)
Air Burung (2001,2002)
Bedol Desa 1 & 2 (1998, tiap tahun dipentaskan)



Kontak
Celah Celah Langit
Jl. Setia Budhi, Gang Bapak Eni no. 8/169 A Ledeng Bandung West Java
Phone:+62 222004815 ; +6281 224 51031
Fax:+62 22 2012177
Email:cclledeng@yahoo.co.id
Galeri
 
Kunjungi blog kami di: www.kelola.or.id/blog
Informasi terbaru kegiatan Kelola, Klik disini