<<>>
Teater Kami
Biografi
KELOMPOK TEATER KAMI, merupakan satu dari sedikit kelompok teater yang sejak awal berkiprah di luar mekanisme festival. Didirikan di Jakarta, 21 Juli 1989, oleh Harris Priadie Bah, dan terhitung produktif. Paling tidak, ada karya baru sekali setahun. Cara memandang kelompok ini, menurut Afrizal Malna, bisa disederhanakan lewat ungkapan; ‘Mereka menggarap tema-tema realis dengan bentuk yang imajinatif’. Harris mengamini pernyataan itu, sekaligus mengakui, baik naskah sendiri ataupun naskah asing akan diperlakukan dengan cara seperti itu.

“Kami banyak memainkan naskah yang tidak ditulis pada zaman sekarang. Upaya kami, antaralain, mengaktualisasi jarak waktu. Bukan hanya secara bentuk saja, yang langsung terlihat, melainkan juga ide,” ujar Harris. Lebih jauh dia menyatakan, setiap proses kreatif sangat dipengaruhi kondisi sosial, politik, dan ekonomi masa kini. Tak heran jika teks-teks hari ini, sering muncul. Salah satu contoh, Bebasari, yang ditulis Roestam Effendi pada 1946 dan digelar Teater Kami, 2001.

Kelompok ini biasa memulai proses dengan pembongkaran teks dramatik habis-habisan. Lalu menghadirkannya kembali sebagai tafsir baru. Tafsir yang diperhitungkan dengan realitas keseharian aktor, kebutuhan naskah dan situasi sosial pada ruang waktu saat diwujudkan dalam pentas.

Upaya menghadirkan tafsir baru, bisa dikaitkan dengan ‘inovasi’, meski Harris lebih suka menyebutnya ‘re-kreasi’. Baginya, seniman harus memiliki ‘daya re-kreasi’ yang besar. Jika tidak, karyanya hanya akan merupakan pengulangan. Inovasi, bisa dimaknai dengan melakukan segala sesuatu secara berbeda, yang baru. Karena itulah yang dinilai dari seorang seniman. Jika tidak, maka cuma mesin belaka, reproduksi, craft ..

Pemeranan, bagi kelompok ini adalah proses menjelajahi tubuh sendiri, mencari, mengenali dan menemukan manusia sebagai esensi dari teater. Meragukan serta mempertanyakan pikiran dan perasaan. Lewat perjalanan mengolah tubuh, tulang dan otot, pengalaman batin aktor menelusuri dan menyusun kembali teks dramatik ditransformasikan untuk membangun makna baru sesuai pencapaiannya. Hal itu, barangkali, yang menyebabkan kelompok ini sering ditengarai sebagai yang mengeksplorasi tubuh sebagai bahasa utama pertunjukan.

Dalam sejumlah pertunjukan, dialog didekati dengan pola pengucapan yang khas, sebagai refleksi dari semangat menjajagi dan menggali kemungkinan penafsiran atas teks. Menitikberatkan pada keselarasan antara bahasa tubuh dan teks verbal dalam pemeranan.

Kelompok Teater Kami terbuka dalam memilih tema pertunjukannya. Bisa menyangkut masalah lingkungan sosial, ekonomi, budaya atau hak asasi. “Semua isyu, semua tema, harus didatangi, disambangi,” kata Harris. Dalam setiap kerja kreatif, apa pun naskahnya, isyu-isyu itu akan bermunculan dengan sendirinya, meski dengan sebaran yang berbeda. Hal itu diakui merupakan tanggungjawab sebagai mahluk sosial.

Kini, 2010, Kelompok Teater Kami berusia 21 tahun, dan berada di posisi cukup penting dalam Peta Teater Indonesia. Sesungguhnya, peran media massa bisa membantu. Sayang, nampaknya mereka lebih tertarik meliput pertunjukan di ruang besar ketimbang di komunitas terbatas. Padahal, Kelompok Teater Kami lebih banyak tampil di pusat-pusat kebudayaan asing, seperti Erasmus Huis, The Japan Foundation, Kedutaan Besar Australia, atau bahkan café dan kampus-kampus. “Kami memang main di kantung-kantung budaya, yang barangkali, media massa enggan datang,” kata Harris.

Kelompok Teater Kami, biasa menggaet dana produksi dari pihak yang diajak bekerjasama. Sejauh ini, cukup untuk membikin proses berjalan dengan baik. Dan belajar dari pengalaman banyak orang, mereka tak pernah mencoba meminta biaya dari pemerintah, yang memang terkesan kurang memiliki perhatian terhadap kesenian. 
Ags. Arya Dipayana - Penulis
Nano Riantiarno - Editor
Profil
HARRIS PRIADIE BAH dilahirkan di Jakarta, 7 Januari 1966. Mulai aktif dalam dunia seni peran melalui keterlibatannya sebagai aktor di Teater Sae, 1987. Sebelum itu, dia sempat menempuh pendidikan formal di Sekolah Teater dan Film Jakarta. Tidak sampai lulus karena sekolah itu cuma bertahan setahun, kemudian bubar.

“Aku memiliki kesetiaan terhadap segala sesuatu yang aku cintai. Jadi kalau sudah cinta, sudah senang, akan terus aku geluti,” Harris menjelaskan. Setelah sekolah bubar, dia gelisah. Kegelisahan itulah yang membawanya ke Taman Ismail Marzuki, tempat dia menemukan muara bagi kegelisahannya.

Saat itu ada penerimaan anggota baru di Teater Sae. Harris pun mendaftar bersama 40 orang yang lain. Lalu, selama tiga bulan dilatih para senior. Tapi akhirnya tinggal Harris yang tersisa. Maka, mulailah dia terlibat dalam produksi Teriakan-Teriakan Gelap karya Rolf Lauckner, lalu menyusul Rumah Yang Dikuburkan karya Sam Shepard.

Dua tahun kemudian, Harris berkeinginan membentuk kelompok sendiri. Sebagai aktor, dia merasa kurang total dalam menyampaikan hasrat-hasrat artistik dan estetik. Maka pada Juli 1989, dia mendirikan Kelompok Teater Kami dan dalam berbagai pentasnya bertindak sebagai aktor, penata artistik, pewujud, sekaligus pimpinan produksi. Dia juga menulis naskah, atau menurut istilahnya sendiri, ‘teks dramatik’.

Salah satu niatnya ketika membentuk Kelompok Teater Kami adalah memetakan jalan sendiri di luar mekanisme Festival Teater Remaja. Hal itu dilakukan melalui kerjasama dengan lembaga-lembaga kebudayaan asing, yang sering dikunjunginya sejak dia mulai menyentuh kesenian. Dari situ dia kemudian melihat kemungkinan dan peluang.

Sebagai keturunan Tionghoa, Harris mengaku satu-satunya yang ‘melenceng’. Sebagian besar keluarganya berkecimpung di dunia dagang. Katanya lagi, sejak kecil hingga lepas SMA, hidupnya lurus-lurus saja. Tak pernah pulang larut malam apalagi nongkrong dengan teman satu geng. Namun garis hidup kemudian berbelok setelah dia mengenal teater.

Untuk ‘ketersesatannya’ itu, Harris merasa wajib berterimakasih kepada almarhum Wahyu Sihombing, yang pernah mengasuh program Bina Drama di TVRI. “Aku termasuk orang yang jarang alpa menyerap program itu,” katanya. Melihat orang memerankan karakter lain, baginya sangat mengasyikkan.

Setelah melewati perjalanan 21 tahun, Harris merasa tujuan awal saat membentuk kelompok, tercapai. Tentu dengan catatan, selama itu pun banyak tujuan lain yang berkembang. Kelompok Teater Kami sudah dikenal, dihargai, dan setiap tahun tak pernah absen berkarya. Perlakuan Harris terhadap proses kreatif juga manusiawi. Dia tidak bersikap dan bertindak otoriter terhadap aktor-aktornya.

Pada 1994, Harris sempat bermukim di Sintang, Kalimantan Barat selama 6 bulan. Tujuannya, menggali potensi kebudayaan masyarakat Dayak. Hasil pengamatan dan penggaliannya terhadap potensi seni budaya masyarakat setempat, menelorkan pentas Dara Muning, yang teks dramatiknya ditulis oleh Ratna Sarumpaet, berdasar mitos lokal.

Ketika ditanya tujuannya berteater, Harris menyatakan, sekaligus berharap, lewat pertunjukannya semoga dia bisa menjadi garam dan terang bagi orang lain. Sesungguhnya, itu ungkapan menyangkut tanggungjawab sosial, politik dan budaya. Setiap warga negara wajib memiliki tanggungjawab tersebut, namun dalam mewujudkannya tentu tergantung profesi masing-masing.

Harris sempat bekerja sebagai sekretaris program, sekaligus Ketua Komite Teater, Dewan Kesenian Jakarta (2003-2005). Pada 2004, dia diundang Universiti Kebangsaan Malaysia sebagai pengamat Festival Seni Teater Melayu ASEAN. Dan pada 2009, dia juga diundang The Japan Foundation untuk mengamati serta mempelajari perkembangan seni pertunjukan di Jepang.

Ags. Arya Dipayana - Penulis
Nano Riantiarno - Editor
Karya
Gegerungan (2009)
MenOs (2008)
Perkamen Tanah Yang Sedih (2007)
Perjamuan Kata dan Tubuh-Tubuh Yang Membaca (2006)
Kwartet Kematian dan Berkas-Berkas Ingatan Sang Perawan
(Death And The Maiden), The Key (2005)
Kontak
Teater Kami
Jl, Joe, Gg. Haji Lahab No.20, Lenteng Agung, Jakarta Selatan Jakarta
Phone:+628158046099
Email:keteatrokami@yahoo.com
Website:kelompokteaterkami.blogspot.com
Galeri
 
Kunjungi blog kami di: www.kelola.or.id/blog
Informasi terbaru kegiatan Kelola, Klik disini