>>
Komunitas Seni Hitam - Putih
Biografi
KOMUNITAS SENI HITAM-PUTIH, Sumatra Barat, awalnya adalah kelompok teater yang tumbuh di lingkungan SMU. Didirikan pada 1992 dengan nama Teater Plus sebagai salah satu kegiatan ekstra-kurikuler di SMU Plus INS Kayu Tanam, Sumatera Barat. Berbagai pertunjukan telah digelar, antara lain: Anggun Nan Tongga (1993), Ring (1994),  Interne dan Kado (1996).

Kemudian, pada 31 Oktober 1997, atas pertimbangan beberapa siswa dan alumni yang aktif, akhirnya disepakati untuk membentuk kelompok independen dengan nama Komunitas Seni HITAM-PUTIH. Salah satu pendirinya, Yusril Katil. Saat itu, bertepatan dengan harijadi INS Kayutanam yang ke-71.

Yusril, atas permintaan A.A Navis, mengajar teater di SMU PLUS sejak 1994. A.A. Navis adalah Ketua Yayasan Badan Wakaf INS Kayutanam. Yusril mengakhiri kariernya di perguruan itu sebagai Direktur Kerohanian (1995-1997). Sebab, atas permintaan Prof. Dr. Mursal Esten, dia menyanggupi jadi dosen Jurusan Teater di ASKI Padangpanjang yang baru saja dibuka. Dan tentu saja, Komunitas Seni HITAM PUTIH, yang terlanjur didirikannya itu, dibawa serta ke Padangpanjang.

Hingga saat kini, Komunitas Seni HITAM-PUTIH tetap eksis dan selalu memberi warna baru bagi ranah seni pertunjukan Indonesia, khususnya di Sumatra Barat. Dan berbagai pertunjukan, khususnya dengan pendekatan teater tubuh telah dipentaskan, baik di tingkat regional Sumatera hingga di beberapa tempat di Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali.  

Di samping melakukan eksplorasi, riset dan eksperimentasi untuk mencari bentuk-bentuk alternatif seni pertunjukan, Komunitas Seni HITAM-PUTIH, juga ikut mengembangkan bidang kesenian lain. Antaranya, dengan menjadi penyelenggara beberapa peristiwa seperti pemutaran film kerjasama dengan Jiffest, In-Doc, dan Eagle Award (sejak 2003). Mereka juga membantu Sukri Dance Theatre dalam setiap proses dan pertunjukan tari yang dirancang.
Dede Pramayoza - Penulis
Nano Riantiarno - Editor
Profil
YUSRIL KATIL, dilahirkan di Payakumbuh, Sumatera Barat, 5 September 1967. Ayahnya, Ilyas Yusuf (1930) dan ibunya, Ramani (1942). Masa kecilnya selalu berpindah-pindah, karena harus mengikuti bapaknya yang tentara. Dia hidup dari asrama ke asrama di Payakumbuh, Solok dan Sawahlunto. Keadaan itu pula, yang membuat dia dibesarkan dalam tradisi yang militeristik, dengan disiplin dan aturan yang tak boleh dilanggar.

Namun hidup berpindah-pindah pula yang membuat Yusril bersentuhan dengan kesenian. Pada satu waktu, Sang Bapak yang telah pensiun bekerja sebagai pengawal alat-alat berat, waktu itu disebut Polisi RCA, sebuah proyek pembangunan jalan dari Solok sampai Sungai Dareh, Sumatera Barat. Di asrama RCA, Yusril berkenalan dengan orang-orang Korea, para profesional yang mengerjakan proyek jalan. Dia berkesempatan menonton TV, yang saat itu masih merupakan barang langka.

Dari tontonan itu, dia berkenalan dengan kesenian populer, dan mulai bercita-cita menjadi orang seni. Agaknya, pola berfikir Yusril telah banyak dipengaruhi akibat persinggungannya dengan orang-orang Korea. Dari asrama RCA itu pula Yusril berkenalan dengan tontonan Kuda Kepang, Reog dan Layar Tancap, yang digelar komunitas orang Jawa di Sawahlunto.

Setelah orangtua bercerai, Yusril ikut Ibu dan tinggal di Rumah Gadang di kampungnya, Kabupaten Limapuluh Kota. Hidup berpindah-pindah, ditambah keadaan ekonomi yang kurang baik, membikin Yusril akhirnya terlambat masuk sekolah. Waktu itu, Ibunya tidak sanggup menyumbang 2 helai atap seng, sebagai syarat masuk sekolah. Orang-orang di kampungnya lalu bermusyawarah, dan memutuskan untuk beriuran membeli atap seng sehingga Yusril bisa sekolah. Nilai-nilai sosial tradisional seperti itu, tidak saja membuat Yusril kenal aturan adat Minangkabau, namun dirasakan tetap berpengaruh hingga dia dewasa.

Setelah lulus SD, Yusril masuk SMPN 1 Payakumbuh. Di sinilah, dia mulai berkenalan dengan sandiwara, yang waktu itu selalu dipertunjukkan di hampir setiap kampung. Pertunjukan Sandiwara tidak saja berisikan drama, juga berbagai kesenian lain, seperti tari, band dan musik. Pada awalnya dia hanya jadi penonton, kemudian, mulai terlibat sebagai pemain karena diajak teman. Hal itu menjadi awal ketertarikannya dengan dunia kesenian secara umum.

Ketika di SMAN 1 Payakumbuh, Yusril tertarik kepada syair dan puisi. Ketertarikan itu bermula dari syair-syair lagu Iwan Fals, Ebiet G Ade, Leo Kristy, Doel Sumbang dan Papa T Bob (Wanda Chaplin). Dia tertarik dengan cara mereka melakukan kritik sosial melalui syair. Di SMA itu pula, dia meninggalkan kelas Fisika dan pindah ke kelas sosial. Tidak puas juga, dia bolos sekolah setiap Sabtu, agar bisa ikut mata pelajaran Kajian Budaya di sekolah lain. Di sanalah dia mengenal Iwan Simatupang, Budi Darma dan Danarto, lewat bacaan.  

Tahun 1998, Yusril lulus SMA dan langsung mendaftar di Fakultas Sastra UNAND Padang. Dan dia akhirnya berkenalan dengan teater. Ternyata dia lebih tertarik mengekspresikan diri secara visual, dan tergolong mahasiswa sastra yang tidak terlalu tertarik menulis puisi dan cerpen. Dia lebih tertarik ikut lomba baca puisi, dramatisasi puisi, bahkan break dance yang tengah digemari saat itu. Tapi, dia juga  mendirikan Dangau Seni RELL dan anggota Kelompok Diskusi Teraju. Dan tetap menulis puisi-puisi aneh, yang disebutnya ‘puisi pamflet’. Dia bacakan puisi-puisinya itu di dalam bus kota, atau di ruang publik kota Padang.

Merasa sastra tidak memberi ruang baginya, Yusril lalu main ke Taman Budaya. Dia berkenalan dengan Wisran Hadi, pada 1989, dan tertarik ikut belajar teater di Bumi Teater. Yusril  belajar banyak hal, terutama yang berkaitan dengan kerangka filosofis, konsep dasar dan budaya Minangkabau. Dia bahkan sempat bergabung dengan kelompok Randai di Blanti, Padang, dan belajar sekitar satu setengah tahun. Selain mempelajari randai dan silat, di Bumi Teater pula dia melakukan riset, mempelajari mitos, folklore dan berbagai kesenian tradisional Minangkabau.

Setelah itu, Yusril mendirikan kelompok latihan teater bersama teman-teman sekampus, yang kebetulan tinggal satu kos. Di kelompok yang bernama TEATER KAMAR inilah Yusril menemukan gaya penyutradaraannya sendiri. Pada saat yang sama, dia juga Ketua Teater SEMA dan Wakil Ketua TEATER LANGKAH. Keduanya berbasis di Fakultas Sastra UNAND. Ruang bagi eksplorasi artistik kian luas, hingga akhirnya dia sama sekali berhenti menulis. Kendati begitu, dia tetap berhasil menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Sastra, 1993.

Sekarang Yusril bekerja sebagai Dosen Jurusan Teater STSI Padangpanjang, dan Ketua I Bidang Program Dewan Kesenian Sumatera Barat.
Dede Pramayoza - Penulis
Nano Riantiarno - Editor

Ket. Foto:
1. Tangga - Yose
2. Tangga - Yose
3. Tangga - Yose
4. Tak Ada Sabtu Sampai Minggu - Yudi
5. Pintu Baru - Yudi
Karya
Tangga (2008)
Tak Ada Minggu Sampai Sabtu, Hanya Siang Dan Malam (2007)
Pengantin Darah (2006)
Aksioma (2005)
Indonesia Darahku Tumpah, Welcome To Milenium, Pintu, Kolaborasi Selamat Datang (2004)
Kontak
Komunitas Seni Hitam - Putih
Jalan Bintungan Panyalaian No. 118, Padangpanjang, Tanah Datar West Sumatra
Phone:+62 752 83097 ; +6285669012561,+628197543141
Email:yusril2001@yahoo.com
Galeri
 
Kunjungi blog kami di: www.kelola.or.id/blog
Informasi terbaru kegiatan Kelola, Klik disini