>>
KSST Noktah
Biografi
KSST (Kelompok Studi Sastra dan Teater) NOKTAH didirikan di Padang, 1993. Motor penggeraknya Syuhendri, Lilik Zurmailis dan Yusrizal KW. Dasarnya,  berangkat dari cita-cita sederhana; ingin bekerja serius dan berkelanjutan guna mengantisipasi iklim kesenian. Sebagai kelompok pemula yang independen, KSST Noktah berupaya selalu ada, terus bekerja dengan segala keterbatasan. Noktah adalah pemaknaan, wujud dari kemampuan menghadapi kebudayaan. Diharapkan, tindakan kecil dapat memberi warna bagi maraknya kesenian. Dari satu noktah, bias jadi garis-garis membidang, menjadi ruang. Proses inilah yang diyakini sebagai nadi bagi kreativitas. Mottonya; ‘Menyelami sastra dan teater dengan sederhana dan penuh keakraban’.

Syuhendri, salah seorang sutradara yang produktif dan konsisten di Sumatera Barat, setelah era Wisran Hadi. Dia mengawali karir sebagai aktor Teater Padang pimpinan Hardian Radjab, 1988 hingga ’90 awal. Waktu itu, dia mahasiswa Jurusan Sendratasik IKIP Padang. Ketika terjadi konflik internal, dia memutuskan keluar dan bekerja sebagai aktor lepas.  

Dia sempat disutradari BHR Tanjung dalam Monserrat karya Emanuel Robles, 1989, dan berperan sebagai Tukang Poci. Peran itu, merupakan perkenalan pertamanya dengan naskah ‘barat’ dan pola akting konvensional. Peran itu pula yang membuat dia menyadari akting sebagai sebuah studi.

Setelah mendirikan KSST Noktah, ketertarikannya terhadap studi akting berkembang dan mendapatkan saluran. Penerimaan anggota berdasarkan dua hal, yakni: minat terhadap kajian drama, dan minat terhadap studi keaktoran. Tapi karena semua hanya tertarik pada studi akting saja, Syuhendri terpaksa harus menyutradarai. Dengan sendirinya dia memulai ‘studi’ penyutradaraan.

Proses kreatif Syuhendri sebagai sutradara ditandai dengan studi panjang naskah-naskah Arifin C Noer. Studi itu, membuat dia sering ‘dituduh’ sebagai sutradara ‘spesialis’ naskah Arifin. Sesuatu, yang sering pula dia bantah.

Orientasi penyutradaraannya, adalah (hanya) mentransformasikan teks menjadi peristiwa panggung yang ‘enak’ ditonton. Karena itu, pada awal-awal proses kreatifnya, Syuhendri menerima kritik pedas, bahkan cemoohan. Kritikan itu terutama dialamatkan pada selera artistik-nya yang minimalis. Kritik, yang sebenarnya tak terlalu tepat, karena penyutradaraannya memang tidak berangkat dari gagasan artistik, tapi ‘studi’ atas naskah drama.

Melalui studi naskah-naskah Arifin, dia menemukan ‘ke-Indonesiaan’ dalam teater. ‘Ke-Indonesiaan’ yang artinya; berangkat dari tema-tema sosial masyarakat Indonesia, dengan gaya pentas yang ‘minimalis’. Setelah itu, proses kreatifnya ditandai dengan teks-teks sendiri, atau bersama istrinya, Zurmailis. Sebuah fase ‘merespons kultur sendiri’, upaya untuk menggeluti teks-teks budaya Minangkabau. Negeri Yang Terkubur karya Zurmailis, jadi pilot projek dan meraih Hibah Pentas Keliling Kelola, 2003.

Menyusul Perempuan Itu Bersama Sabai karya Zurmailis, 2005. Terjadi pergeseran ‘visi’ penyutradaraannya. Pergeseran bahasa utama, dari kosa-kata menjadi kosa-gerak, dari bahasa verbal ke bahasa visual. Namun, orientasi ‘studi’ tetap nampak, dengan dibukanya diskusi setiap akhir pertunjukan.

Setelah menyelesaikan pendidikan S2 di ISI Yogyakarta, dia mementaskan Rumah Jantan, 2009. Pentas itu berangkat dari teks drama berjudul sama, yang merupakan salah satu nomor dari tetralogi yang ditulisnya bersama Zurmailis (setelah Lin, Negeri Yang Terkubur, dan Perempuan Itu Bersama Sabai).

Kali ini, Syuhendri mulai mendekati teks drama tidak saja berdasarkan ‘pengalaman’ tapi juga dengan konsep penciptaan yang terukur. Idiom-idiom tradisi Minangkabau yang tetap ingin dia respon, tersusun dalam sebuah alur dramatik dan visual yang selektif. Rumah Jantan, barangkali refleksi dari pencapaian 17 tahun proses kreatif penyutradaraan Syuhendri, sesuatu yang dia namakan sebagai ‘studi’ itu.
Dede Pramayoza - Penulis
Nano Riantiarno - Editor
Profil
Syuhendri, lahir di Balingka, Kabupaten Agam, 10 Mei 1968, dari pasangan Syamsir St. Sati dan Yusrida. Ayah Syuhendri yang ‘perantau’, sering harus meninggalkan rumah dalam waktu yang lama. Karena itu, Syuhendri kecil lebih banyak bersama ibu. Dari Sang Ibu pula dia mendengar cerita-cerita kaba, dan mulai tertarik dunia cerita, tertarik randai dan silat. Jika kampung menggelar acara seusai panen, dia selalu menonton. Sebab, silat dan randai pasti ada.  

Di SD Inpres Balingka, Agam, Syuhendri mulai kenal sandiwara. Malah terlibat sebagai pemain. Yang paling dikenang adalah ketika dia berperan sebagai ayah dalam sandiwara Salah Mencurahkan Kasih karya Anis Rasyid. Akibat main sandiwara, di kampung dia sering dipanggil Hen “ayah’. Sejak itu dia mengenal dunia seni peran dan sejarah sandiwara dari orang-orang tua di kampungnya, salah satunya yang berhubungan dengan Dardanella.

Akibat main sandiwara pula, Syuhendri kecil bisa melihat Padang, ibukota Provinsi, untuk pertamakalinya. Itu terjadi saat dia kelas VI SD. Ketika itu, sandiwara sekolahnya ikut PORSENI tingkat Provinsi di Padang, dan dia salah seorang pemainnya. Tamat SD, 1981, dia melanjutkan ke SMPN IV Koto Agam dan tamat 1984. Lulus SMAN IV Koto Agam, 1987, dia kuliah di IKIP Padang. Pilihan itu diambilnya dengan pertimbangan agar cepat bekerja jadi guru, karena sadar harus segera mandiri dan tidak membebani orang tua lagi.  

Sejak tamat SD, Syuhendri tak pernah main sandiwara lagi. Ketika ikut Ujian SIPENMARU, dia mematok Jurusan Sejarah sebagai pilihan pertama. Jurusan Sendratasik jadi pilihan kedua, hanya untuk ‘jaga-jaga’ kalau tidak lulus pilihan utama. Itu pun karena dia senang musik, bukan karena ingin belajar sandiwara. Ternyata ‘nasib’ berkata lain, Syuhendri justru lulus untuk pilihan kedua.

Di Jurusan Sendratasik, Syuhendri ternyata tak menemukan apa yang pernah dibayangkan. Hal itu sempat membuatnya kecewa, hingga sebuah kejadian mengubah motivasinya. Terdorong pengalaman masa kecil dengan sandiwara, Syuhendri tak sengaja kasih komentar pada sebuah latihan sandiwara mahasiswa di kampusnya. Siapa sangka, hal itu justru membuat Sang Sutradara, Deslenda (sekarang koreografer), tertarik mengajaknya ikut bermain. Maka, jadilah dia pemain Teater Kampus Selatan (nama grup teater Sendratasik IKIP),  1989, dan sempat ikut sebuah festival.

Peristiwa itu menyadarkannya, ternyata ‘sandiwara’ adalah dunia yang sebenarnya tetap terendap dalam diri, sebagai ‘bakat alam’. Syuhendri  melanjutkan kuliah, dengan motivasi lebih banyak mempelajari seluk-beluk ‘sandiwara’, drama. Dan, hanya Mata Kuliah Drama yang meraih nilai A, yang lain tidak. Kendati begitu, Syuhendri tetap bertekad menyelesaikan kuliahnya,  karena tak ingin mengecewakan orang tua. Pendidikan Program D-3 Jurusan Sendratasik IKIP Padang, diselesaikannya pada 1991.

Lewat Deslenda, Syuhendri mengenal Hardian Radjab, lalu jadi anggota Teater Padang, 1988. Tapi, dia akhirnya tidak bekerja sebagai guru, justru malah diterima menjadi staf di Taman Budaya Sumatera Barat. Kenyataan itu, lagi-lagi, diterimanya sebagai ‘garis nasib’. Kesenian memang dunia yang dipilihkan untuknya. Dan dia semakin dekat dengan  BHR Tanjung, A. Alin De, Wisran Hadi dan Muhammad Ibrahim Ilyas. Bekerja di Taman Budaya juga telah memberinya peluang menyelesaikan Program S-1 Jurusan Sendratasik IKIP Padang, 1999.

Tahun 2007, Syuhendri melanjutkan pendidikannya ke Jurusan Penciptaan Seni, Minat Utama Teater, Pasca Sarjana ISI Yogyakarta. Syuhendri, pernah menjabat sebagai anggota Komite Teater Dewan Kesenian Sumatera Barat.
Dede Pramayoza - Penulis
Nano Riantiarno - Editor

Ket Foto:
1. Rumah Jantan - Dok. KSST Noktah
2. Perempuan itu bernama Sabai - Dok. KSST Noktah
3. Perempuan itu bernama Sabai - Dok. KSST Noktah
4. Rumah Jantan - Dok. KSST Noktah
Karya
Rumah Jantan (2009)
Perempuan Itu Bersama Sabai, The Police (2005)
Oedipus (2004)
Negri Yang Terkubur (2003)
Pada Suatu Har/ (2002)

Kontak
KSST Noktah
Jl. Purus III No.30 e, Padang atau Jl Diponegoro No 31 Taman Budaya, Padang. 25161 West Sumatra
Phone:+62 751 28776
Email:noktah_freesoul@yahoo.com ; smarajo@yahoo.com
Galeri
 
Kunjungi blog kami di: www.kelola.or.id/blog
Informasi terbaru kegiatan Kelola, Klik disini