>>
StudiKlub Teater Bandung
Biografi
STUDIKLUB TEATER BANDUNG, STB, didirikan di Bandung, 13 Oktober 1958 atas inisiatif tujuh tokoh: Jim Lim, Suyatna Anirun, Sutardjo A. Wiramihardja, Adrian Kahar, Tin Srikartini, Thio Tjong Gie (Gigo) dan Soeharmono Tjitrosuwarno. Kecuali Soeharmono yang wartawan, enam sosok lainnya adalah mahasiswa yang telah melakukan pentas kecil-kecilan.

STB didirikan dengan maksud melakukan studi terhadap teater modern yang masih belum populer di masa itu. Kini, STB merupakan kelompok teater modern tertua di Indonesia yang menjadi tempat belajar bagi banyak seniman teater. Klub studi ini menyelenggarakan acting course yang merupakan studi praktis keaktoran dan teater. Acting Course pertama dilaksanakan pada 1962 di Jalan Kebun Bibit Bandung. Hingga kini, Acting Course STB sudah meluluskan Angkatan ke-21. Kurikulum Acting Course ini kemudian turut mempengaruhi kurikulum Jurusan Teater di Akademi Seni Tari (ASTI) Bandung.

STB memulai debut pada 1958, dengan mementaskan Jayaprana/Jeff Last, Arwah-Arwah, Di Pantai Baille karya WB. Yeats, dan Pinangan/Anton Chekov. Jayaprana disutradarai Jim Lim yang sekaligus berperan sebagai Raja Buleleng Anak Agung Gde Jelantik, sedang Suyatna sebagai I Gusti Ketut Putus. Artistiknya digarap secara abstrak dan sugestif dalam gaya tradisional Bali oleh Srihadi dan Sutrisno Sulono. Musik digarap Nyoman Tusan, penata cahaya oleh Gigo dan Rudi.

Pada masa-masa awal, STB dipimpin dwitunggal Jim Lim dan Suyatna. Jim menyutradarai dan memimpin latihan, Suyatna menggarap dan mengelola teknik artistiknya. Sepeninggal Jim Lim ke luar negeri, STB berjalan dengan sangat produktif dan mengagumkan di bawah komando Suyatna Anirun, seniman teater yang tak banyak bicara tapi sangat tekun berkarya. Ratusan produksi lahir di bawah kerja penerjemahan, adaptasi dan penyutradaraannya. Seniman-seniman teater di Bandung sebagian besar pernah belajar, berguru atau bergabung dengan STB. Sebut saja Rahman Sabur, Sis Triadji, Yoyo C. Durachman, Iman Soleh, Yusef Muldiyana, Wawan Sofwan, Retno Dwimarwati, Asep Budiman.

Sebagai klub studi, STB tidak terlalu terseret untuk merespon problem sosial-politik yang tengah terjadi. Atau, melakukan perlawanan secara diametral dengan penguasa di ruang politik aktual. Mereka melihat realitas nilai dan makna yang penting dalam khazanah lakon lokal dan dunia serta menerjemahkannya kepada masyarakat penontonnya lewat pemanggungan yang serius. Teater menjadi benar-benar sebuah studi. Studi nilai-nilai universal dan pemanusiawian ide-ide. Bagi Suyatna, teater dengan segala proses dan realitas nilai yang ada di dalamnya bertugas memanusiawikan manusia dan masyarakat.

Dalam menggelar lakon-lakon asing, Suyatna melakukan kerja penyaduran sebagai upaya menjembatani jarak estetik, sosial maupun kultural antara konteks asli lakon dengan publik penontonnya. Pada Volvone (1973) karya Ben Jhonson, misalnya, STB melakukan adaptasi dan mengganti judulnya, Karto Loewak. Disamping adaptasi setting dan penokohan, juga dicari kemiripan bahasa ungkap teksnya. Slank, bahasa jalanan yang kasar dan seronok di Inggris Selatan, dicari kemiripannya dengan meminjam bahasa Melayu-rusak gaya koran Keng-Po di Zaman Belanda dan gaya berbahasa masyarakat Batavia 1915-an. Namun, Suyatna selalu mempertahankan tatanan tema dan plot lakon-lakon yang disadurnya demi utuhnya gagasan, amanat dan visi universal dari pengarangnya.

Banyak pementasan STB yang menuai pujian. Dan STB terus melambung dengan pentas-pentas realismenya, sehingga jadi salah satu ikon realisme teater modern Indonesia. Karya panggung STB Suyatna apik dan perfek. Kepekaan dan olahan teks, keindahan dan kerapihan bentuk, proporsi dan komposisi visual, olahan ruang menjadi karakteristiknya yang khas. STB identik dengan Suyatna yang bukan saja sutradara, tetapi juga aktor yang memukau.

Kepergian Suyatna pada 2002, tentu menimbulkan dampak yang tidak kecil bagi STB. Sebagian besar hidupnya didedikasikan bagi STB. Pengalamannya barangkali susah dicari tandingannya. Dia telah jadi mpu, jadi guru dan legenda.

Ada beberapa anggota STB yang kemudian menjadi sutradara pasca Suyatna: Ari Nurtanio, Tjetje Raksa, Wawan Sofwan, Yusef Muldiyana, Yoyo C. Durachman dan IGN Arya Sanjaya. Mereka menyutradarai dengan kecenderungannya masing-masing. Terlepas dari pencapaiannya, garapan-garapan mereka belum jauh beranjak atau masih mensifati karakteristik pementasan STB periode Suyatna.

Saat ini, dengan sutradara IGN Arya Sanjaya, STB menapak arah perjalanan baru sebagaimana yang ditempuh Suyatna di awal-awal kekaryaannya. Tak hanya menggarap lakon-lakon jadi, Arya juga menulis dan mementaskan karya sendiri. Dalam Kavia Sang Natha saduran King Lear karya Willliam Shakespeare (2009), Arya mulai menyajikan kerapihan bentuk dan perfeksi artistik. Kendati olahan ruang dan penggalian spirit ke-bali-annya belum maksimal, upayanya itu patut diapresiasi.

STB telah mencatat sejarahnya yang panjang di bawah Suyatna. Namun dia telah menjadi masa lalu. Kita tunggu bagaimana STB membangun masa depannya. Tantangan yang tidak ringan.
Silvester Petara Hurit - Penulis
Nano Riantiarno - Editor
Profil
I GUSTI NYOMAN ARYA SANJAYA adalah sutradara STB yang paling intens menyutradarai pentas-pentas STB pasca Suyatna Anirun. Lahir di Tabanan, Bali, 11 Agustus 1959 dari pasangan IGM Adnyana dan IGA Kt. Padmi.  

Dunia kesenian bukan dunia yang asing bagi Arya Sanjaya. Sebagai orang Bali sejak kecil dia sudah akrab dengan tontonan arja, joged bumbung, wayang kulit, drama gong dan tek-tekan. Tahun 1978, dia meraih penghargaan aktor terbaik dalam lakon Jayaprana karya Jeff Last pada Festival Drama di kota Mataram.

Max Arifin adalah orang pertama yang memperkenalkan teater padanya. Selanjutnya, dia mengikuti Acting Course STB Angkatan ke-5 dan berkenalan dengan Suyatna Anirun. Suyatna kemudian menjadi guru, aktor dan sutradara yang dikaguminya. Dan, STB menjadi rumah bagi proses pembentukan kesenimanannya.

STB adalah rumah kreatifnya. Dia aktif bermain dalam garapan-garapan STB. Tak terpikirkan sebelumnya, pada akhirnya dia menjadi sutradara di kelompok dengan nama besar itu, menggantikan almarhum Suyatna, mpu teater yang dikaguminya. Semuanya terjadi dan mengalir begitu saja.

Kereta Api Bumel karya Volker Ludwig dan Rainer Hachfield yang dipentaskan di Selasar Sunaryo Art Space (2003) adalah karya penyutradaraannya yang pertama.  Awal yang membuat stress tapi kemudian menimbulkan ketagihan.  Sang Kuriang lakon Utuy Tatang Sontani (2004), karya penyutradaraannya yang pertama kali dalam produksi STB, disusul Malam Keseratus karya Yukio Mishima di tahun yang sama. Sang Kuriang yang disutradarainya ikut berpartisipasi dalam Festival Schouwburg GKJ (2005). Sampai saat ini sudah lebih dari empat belas produksi STB yang disutradarai olehnya.

Rupanya watak Suyatna yang tidak banyak bicara tapi banyak berkarya begitu  mempengaruhi dirinya. Di samping mengajar pemeranan di dalam Acting Course, Arya juga mulai menulis naskah dan menyutradarainya untuk produksi STB. Karyanya Symphoni Patet Pat (2009) dipentaskan di Mimbar Teater Indonesia, Solo (2009).

Dia pernah berkolaborasi dengan Bulan Tresna Djelantik dalam Legong Asmarandana saat kunjungannya ke Moscow, St. Petersburg dan Paris. Juga pernah membuat video art Wayang Machine bersama Krisna Murti yang ditampilkan di Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Denpasar, Singapura dan Tokyo. Dan mementaskan teater boneka buah yang dikreasikan dari buah-buahan dan sayur-sayuran.

Menanggapi intensitasnya menyutradarai STB dalam beberapa tahun terakhir, Arya menyatakan, dia hanya menjalankan apa yang dikatakan oleh Pak Yatna; “Untuk memuliakan seni peran”. Panji Koming karya Saini KM yang disutradarainya pada 2005 pernah dikritik sebagai pentas satire yang nyaris gagal namun sangat di puji oleh penulisnya. Namun, baginya, yang utama adalah berkarya. Melakukan yang terbaik buat STB terlepas seperti apa hasilnya.

Kerapkali garapannya dibanding-bandingkan dengan garapan Pak Yatna. Arya justru bersyukur memiliki guru yang mengajarkan tentang perfeksi dan totalitas berkarya. Model ideal karya yang menginspirasi dan dapat dijadikan acuan. Hadir dan mengalir, bertumbuh sambil belajar. Berbagi sesuatu bagi kehidupan dan kemanusiaan seperti yang dilakukan Suyatna sampai akhir hayatnya.

Segala hal bisa dipelajari. Memberi kontribusi bagi penguatan dan pengayaan pentas. Itu yang dia lakukan misalnya, ketika menggarap Kavia Sang Natha. Digunakannya biografi kulturalnya sebagai orang Bali untuk mendekati lakon tersebut. Tak harus menjadi seperti Pak Yatna. Jika dia terus menyutradarai, semuanya mengalir mengikuti konsep desa-kala-patra (tempat-waktu-keadaan). Belajar dari saat ke saat, dari proses ke proses berikutnya.
Silvester Petara Hurit - Penulis
Nano Riantiarno - Editor

Ket. Foto:
1. Kavia Sang Natha - Dok. STB
2. Kavia Sang Natha - Dok. STB
3. Kavia Sang Natha - Dok. STB
Karya
Senandung Pandung (2010)
Kavia Sang Natha (2009)
Satu Malam Tiga Repertoar (2008)
Symponi (2008)
Kereta Api Bumel (2004)



Kontak
StudiKlub Teater Bandung
Jl. Parakan Resik no. 14, Bandung 40266 West Java
Phone:+62 22 7501232; +6285220882535
Email:ganda.diana@gmail.com
Galeri
 
Kunjungi blog kami di: www.kelola.or.id/blog
Informasi terbaru kegiatan Kelola, Klik disini