>>
Teater Gidag Gidig
Biografi
TEATER GIDAG GIDIG didirikan pada 21 September 1976, di SMAN 4, Surakarta. Anggotanya, anak-anak SMA, dan Hanindawan masih seorang aktor. Pimpinan dan sutradaranya, Bambang Sugiarto, kakak kelas Hanindawan. Pada 1982, Hanindawan sempat menyatakan berhenti, tapi malah diminta memimpin kelompok itu. Maka, sejak itu hingga sekarang, tampuk pimpinan kelompok ada di tangan Hanindawan.
 
Hanin, demikian Hanindawan biasa disapa, dikenal sebagai dramawan yang mampu mengangkat persoalan-persoalan pelik kehidupan dengan ringan sehingga bisa dicerna penonton dari berbagai latar belakang. Dia juga sutradara yang mampu membesut naskah dramawan lain dengan garapan yang khas dia.

Pada 2004, kehadiran Hanindawan dan Teater Gidag Gidig pada Panggung Teater Realis di TIM Jakarta, mampu mencuri perhatian banyak pihak. Dia menggarap Dag Dig Dug karya Putu Wijaya secara mengejutkan. ’Teror’ bertubi-tubi ala Putu dibesut Hanindawan dengan gaya berbeda. Naskah tidak kehilangan ’roh’-nya, namun berhasil ditampilkan khas Hanin; penuh guyon.

Ciri menyampaikan pesan lewat guyonan telah terlihat sejak Hanin mulai menulis. Naskah pertamanya, Paing Si Bediende, ditulis 1982, adalah naskah ringan penuh banyolan. Hingga kini, naskah itu masih sering dipentaskan. Meski ringan, jejak kecerdasan Hanin sebagai dramawan sudah dapat dilacak. Paing Si Bedinde cukup utuh sebagai naskah panggung dengan teknik penggarapan ruang yang piawai.

Hanin memiliki sikap yang terbuka. Dia sudi belajar kepada siapa pun tanpa memperdulikan perbedaan pendidikan atau usia. ”Saya tidak pernah merasa besar atau merasa sebagai seniman dengan ukuran-ukuran tertentu. Saya hanya ingin mengekspresikan hasrat kesenian saya sesuai dengan ruang yang tersedia tanpa merasa terganggu ukuran-ukuran yang biasa dibuat orang,” ujar Hanin.

Bersama Gidag Gidig, setiap 17 Agustusan dan Desember (HUT Gidag Gidig), Hanin menggelar pentas di kampung-kampung dengan peralatan seadanya. Tak melulu teater, juga ketoprak atau pentas musik. Sambutan masyarakat kampung sangat antusias. Ikatan persaudaraan antara anak-anak sanggar (sebutan bagi anggota Gidag Gidig) dengan warga terjalin baik. Tak jarang para pemuda kampung tertarik, dan bergabung. Tak sedikit pula anak-anak sanggar yang menikahi warga kampung.

Model latihan mengalir seperti itulah, yang kian mematangkan pribadinya sebagai pekerja seni dan penulis drama. Dengan cara itu pula, Hanin mendidik anak-anak asuhannya. Beberapa murid Hanin, kini telah merintis dunia kesenimanan atau memiliki kelompok teater sendiri. Antaralain; Sosiawan Leak (sastrawan/pimpinan Teater Klosed), Joko Bibit Santosa (pimpinan Teater Ruang), Esha Kardus (penata panggung), Didik Panji (sutradara dan aktor), Meong Purwanto (aktor) dan lain-lain.

Hanin telah menulis lebih dari 25 drama. Keberpihakanya pada nilai-nilai kemanusiaan sangat kuat. Baginya, semua manusia adalah makhluk yang memiliki harkat sama di mata Tuhan. Dan hal itu tertanam di hampir semua karyanya. Namun, Hanin tak pernah menyampaikannya dengan meledak-ledak. Dia bungkus karyanya dengan santun, kalem, disisipi guyonan cerdas. Dan itulah karakter Hanin.

Hanin mengaku tak ingin memberitahu dengan anggapan orang itu bodoh atau samasekali tidak tahu. Dia lebih suka menganggap, penonton pementasannya adalah orang yang sebenarnya sudah tahu, tapi sedang lupa. Orang yang lupa, tak perlu diberondong dengan pernyataan-pernyataan keras. Katanya, “Cukup disentil saja, akan sadar kembali. Dengan diajak tertawa justru akan merasa lebih disodok tanpa harus membuatnya tersinggung. Jika dicecar dengan keras bisajadi malah menolak.”
 
Muchus Budi R - Penulis
Nano Riantiarno - Editor
Profil
HANINDAWAN dilahirkan di Solo, 4 Desember 1959. Ayahnya, Sutikno Soero Soemanto,  pejabat Kabupaten Karanganyar, yang masih keturunan bangsawan Mangkunegaran. Hanin, demikian dia akrab disapa, anak kesembilan dari dua belas bersaudara.   Setelah pensiun, Soetikno memutuskan hijrah ke Jakarta. Namun dua anaknya, salah satunya Hanin, tak mau diajak pindah. Hanin memilih tetap di Solo bersama neneknya, dari garis bapak, yang memiliki rumah dan hotel di Kestalan, tak jauh dari RRI Surakarta. Saat itu Hanin masih kelas satu SD.

RRI Surakarta, merupakan pusat kegiatan kesenian di Solo. Hampir setiap malam ada pementasan wayang kulit, wayang orang, ketoprak, pembacaan puisi, keroncong dan berbagai kesenian rakyat lainnya. Dalam lingkungan seperti itulah Hanin kecil mengawali perkenalannya dengan kesenian. Dia menonton pertunjukan di panggung RRI dengan cara mbludhus (masuk sembunyi-sembunyi tanpa membeli tiket). ”Hampir setiap malam saya melakukannya. Saya tidak tahu kenapa. Mungkin karena tak punya teman, jadi kira-kira butuh hiburan,” ujar Hanin.

Kegiatan menonton terhenti saat di kelas 4 SD dia harus ikut neneknya, dari garis Soenari, Sang Ibu, yang tinggal di Kampung Gremet, Kalurahan Manahan, Solo. Kampung itu berjarak sekitar 4 km dari RRI. Sehingga, sulit bagi Hanin kecil meneruskan kebiasannya mbludhus. Sebagai gantinya, dia jadi terbiasa ditemani radio dan suara hewan-hewan sawah. Gremet, waktu itu, dikelilingi areal persawahan.

Kenangan Hanin melayang, saat masuk SMAN 4, Surakarta, 1977. Atas ajakan teman dia bergabung dengan kelompok teater remaja yang semua anggotanya siswa SMA. Kelompok itu, Teater Gidag Gidig, didirikan pada 21 Desember 1976. Pimpinannya, Bambang Sugiarto, kakak kelas Hanin, yang juga sutradara.

”Waktu itu belum tahu yang namanya teater. Teater atau bukan, pokoknya main saja. Tapi malah ketagihan. Sejak itulah saya mulai terlibat teater. Tidak dengan keyakinan yang besar, tapi mengalir saja. Saya merasa menemukan keselarasan saja. Seperti orang yang sedang jatuh cinta. Masa remaja saya bisa tertampung di teater,” katanya. Selanjutnya Hanin sering dipercaya sebagai pemain utama.

Lulus SMA, 1980, Hanin masuk Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra UNS Solo. Padahal dia dari program IPA. Sastra Indonesia dipilih, karena menurut dia paling dekat dengan hobinya berteater.

Di kampus, aktivitas teater Hanin kian menjadi. Namun, dia malah merasa jenuh. Kejenuhan itu timbul, karena dorongan berteater dalam diri yang sangat kuat tapi tak terwadahi dalam ekspresi kelompok yang stagnan. Maka, pada 1982, Hanin memutuskan berhenti dari Gidag Gidig. Tapi beberapa bulan kemudian Bambang Sugiarto menghubunginya. Hanin diminta kembali aktif, bahkan ditawari untuk memimpin dan melatih anggota-anggota baru.

”Sejak saat itu hingga kini, kepemimpinan Gidag Gidig di tangan saya. Saya sendiri menganggap hal ini sebagai kepercayaan. Mas Bambang hingga sekarang masih aktif mendampingi saya,” kata Hanin.

Gidag Gidig dan Hanindawan selanjutnya bagai dua sisi mata uang. Anggotanya, kini tak lagi anak-anak SMA. Tapi, bersama kelompok ini pula Hanin menyebarkan ’virus’ teater di SMA-SMA Solo dan sekitarnya. Dan sempat booming di era 1990-an.

Sejak 1990, Hanindawan tercatat sebagai karyawan di Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta. Dia dipercaya mengurus komite teater yang bertugas melayani dan mengakomodasi kelompok teater yang hendak berpentas di TBJT.  

Muchus Budi R - Penulis
Nano Riantiarno - Editor
Karya
Dag Dig Dug,Dor (2004)
Bukan Boneka Patah (1998)
Merdeka Sakit(1994)
Pedati Kita Di Kubangan,Wabah (1993)
Obrok Owok-Owok, Ebrek Ewek-Ewek/Danarto
Tengul, Umang-Umang, Mega Mega, Kucak Kacik, Kapai Kapai/Arifin C. Noer
Karto Luwak



Kontak
Teater Gidag Gidig
Triyagan 02/06, Triyagan, Mojolaban, Sukoharjo Central Java
Phone:+62 271 821013 ; +628122605369
Email:hanindawan@yahoo.com
Galeri
 
Kunjungi blog kami di: www.kelola.or.id/blog
Informasi terbaru kegiatan Kelola, Klik disini