>>
Lab Teater Syahid
Biografi
Berbicara perihal LAB. TEATER SYAHID, akan keliru jika kita menganggap kelompok ini hanya melahirkan sejumlah pertunjukan teater. Sebagaimana diisyaratkan dalam namanya, dasar pendiriannya adalah untuk menjadi pusat kajian, penelitan dan eksperimen-eksperimen kreatif dalam proses penciptaan karya teater. Pertunjukan kemudian jadi salah satu dari serangkaian kegiatan lain terkait proses penciptaan serta perkembangan teater pada umumnya.

Cikal-bakal kelompok ini adalah Teater Syahid, kelompok yang merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (sekarang Universitas Islam Negeri Jakarta). Kelompok teater berbasis kampus itu, telah membuktikan kesungguhannya dalam menekuni seni teater.

Sejak didirikan pada 17 Oktober 1988, sejumlah pertunjukan telah dipentaskan dan kegiatan lain seperti workshop, lomba, telah diselenggarakan. Sebagai teater berbasis kampus, sudah tentu hal yang tak terelakkan adalah pergantian anggota yang berlangsung setiap tahun. Demikian pula sutradara. Tercatat nama-nama Aries Budiono, Aphiuni Ampbhibi, Ahsan Jamet Hamidi, dan Syeikh Fathurrahman.

Namun yang patut dicatat adalah keputusan mengikuti Festival Teater Jakarta, 2000, yang mengantar mereka sebagai salah satu penampil terbaik. Mereka membawakan Aduh karya Putu Wijaya, dengan sutradara M. Faisal Rasyidi. Bersaing dengan kelompok-kelompok lain yang notabene mengkhususkan diri di bidang teater, apa yang dicapai Teater Syahid sebagai teater kampus memang memaksa orang untuk terperangah.

Kemudian 2 tahun ke depan, berturut-turut Bambang Prihadi menyutradarai Umang-Umang dan Sandek Pemuda Pekerja, keduanya karya Arifin C Noer. Teater Syahid keluar sebagai penampil terbaik, dan Bambang Prihadi ditabalkan sebagai sutradara terbaik pula. Dengan kemenangan 3 kali itu, Teater Syahid menambah jumlah kelompok teater berpredikat senior.

Apa yang menjadi tema dari pertunjukan Lab. Teater Syahid adalah dinamika yang terjadi dalam masyarakat kaum urban. Dalam hal ini pelaku teater tidak berdiri sebagai penonton atau juru foto, melainkan terlibat dalam pergulatan yang sama.  Tujuannya adalah menemukan jalan  bagaimana proses teater dapat membuat aktor menjadi lebih manusiawi melalui pola dan metode latihan yang kreatif. Hal ini dimungkinkan dengan menggali potensi terdalam tubuh seorang aktor, untuk mencapai khazanah bahasa yang lebih kaya daripada dunia kata.

Kecenderungan tersebut sangat kuat terasa dalam pertunjukan Kubangan, salah satu karya yang membutuhkan waktu panjang dalam proses penciptaannya. Pertunjukan dipentaskan di sebuah panggung cat walk sepanjang 16 meter membelah ruangan, dan menempatkan penonton di sisi kiri kanan panggung. Pentas Kubangan mengungkapkan bagaimana dalam dunia urban tubuh sehari-hari kehilangan unsur-unsur naturalnya. Suatu kritik terhadap kehidupan modern yang ditampilkan dalam bentuk menarik dan mengejutkan. Kubangan digelar di Bentara Budaya Jakarta, Festival Seni Surabaya, Senayan City Jakarta dan beberapa kota di Sumatra.

Memberi gambaran tentang proses keatif dalam mempersiapkan pertunjukan, Bambang Prihadi selaku Direktur Kreatif menyatakan, “Saya menyukai proses ulang alik dalam latihan. Dari bentuk ke isi dan sebaliknya, dari pola akting realis ke akting non-realis dan sebaliknya. Atau kami bisa dengan entengnya mencampuradukan gaya, aliran atau jenis dengan semangat ujicoba. Tapi prinsip sebetulnya, menggali kedalaman, selain menguji coba daya aktif untuk menguak kemungkinan lain dari yang telah ada.”

Sebagai suatu laboratorium penciptaan, pola kerja dalam Lab. Teater Syahid sudah tentu sangat tergantung pada peran dan keterlibatan seluruh aspek artistik, khususnya aktor. Eksplorasi dan eksperimentasi yang mereka gali selama proses berlangsung akan menentukan hasil akhir. Dalam hal ini sutradara lebih bertindak sebagai koordinator ide dari seluruh elemen artistik, penonton yang kritis bagi proses latihan aktor dan elemen artistik dan pengemas pertunjukan. Tentu setelah peran utamanya sebagai penggagas dan humas bagi karya pertunjukannya.
Ags. Arya Dipayana - Penulis
Nano Riantiarno - Editor
Profil
BAMBANG PRIHADI merupakan salah satu sutradara muda yang diharapkan akan menjadi pewaris perjalanan Teater Indonesia di masa mendatang. Harapan yang tak berlebihan, jika mempertimbangkan kiprahnya dalam berbagai kegiatan teater. Dilahirkan di  Jakarta, 7 April 1976, dari keluarga berlatar etnik Cirebon, Bambang memulai keterlibatannya dalam dunia teater sebagai anggota Teater Kubur. Dia terlibat sebagai kru artistik merangkap pemusik dalam Sandiwara Dol (1999), jadi pemain dalam Trilogi Besi (2000). Dan dalam Sirkus Anjing (2004), karya sutradara Dindon W.S., selain main, juga merangkap sebagai pimpinan produksi.

Mengaku bukan berasal dari keluarga seniman, sejak kecil Bambang cukup dekat dengan dunia panggung. Dia kerap tampil dalam acara 17 Agustusan atau pentas seni di pesantren tempatnya menuntut ilmu. Meski demikian, dia merasa keluarganya mendukung minatnya kepada dunia seni. Ayahnya, Dodo Samhudi, dan ibunya, Nurhani, menemani saat dia berpentas. Atau mengajaknya menonton berbagai hiburan seperti pertunjukan silat Cimande, dan Tarlingan. Hal inilah yang mungkin menumbuhkan minatnya terhadap dunia seni, khususnya teater.

Bambang memasuki dunia seni pertunjukan saat menginjak kelas dua Tsanawiyah. Waktu itu dia mengikuti lomba drama antar kamar dwi bahasa sepondok pesantren dan berhasil menjadi pemain terbaik. Sejak itu makin tumbuh minatnya, dan selalu tampil di atas panggung hampir di semua peristiwa rutin pesantren.

Saat kuliah, dia masuk Teater Syahid. Di sinilah dia mengenal Dindon WS, sutradara Teater Kubur, yang tengah melakukan workshop keaktoran. Perkenalan itu berlanjut dengan keterlibatannya di Teater Kubur, sejak 1997 hingga 2004. Upaya meningkatkan diri dia lakukan dengan jalan menonton berbagai pertunjukan, berdiskusi, mengikuti workshop dan menyimak pengalaman kreatif seniman-seniman di luar kegiatan lampus. Pada 1999, dia memberanikan diri menyutradarai Teater Syahid. Dimulai dengan menggarap pertunjukan yang berangkat dari puisi-puisi karya sendiri. Festival Teater Jakarta dapat dianggap sebagai ajang yang mendewasakan Bambang Prihadi dan Teater Syahid secara artistik.

Bambang mengaku, proses produksi Umang-Umang karya Arifin C Noer sebagai pengalaman yang sangat berkesan. Itu kali pertama Bambang menyutradarai naskah orang lain. “Waktu itu tidak ada bayangan konsep, kecuali naskah tekstual yang terus dibaca bersama tiap hari. Sampai kemudian perlahan meraba bentuk adegannya. Semua diselesaikan di tempat latihan,” paparnya. “Ada kekuatan yang tumbuh berkembang saat itu untuk menuntaskan garapan naskah Umang-Umang walaupun dihadang berbagai masalah.”

Sebagai sutradara yang berada dalam ranah kontemporer, Bambang mengaku  tidak tumbuh dalam lingkungan seni tradisi. Dia tumbuh di kota yang dipenuhi masyarakat urban. Hal inilah yang mendasari pilihan atas ruang kreatif yang digumulinya. “Saya mengartikan bentuk karya seni sebagai representasi masyarakat sekitar. Saya kira,  model kerja seni (teater) mesti berangkat dari persoalan dimana saya tinggal, juga persoalan dengan siapa saya bekerja,” tambahnya.

Meski demikian, dia tidak menafikan ketertarikan secara emosional bila menyaksikan pertunjukan seni tradisi. Dia menghormati, bahkan sering membayangkan spirit tradisi tersebut hadir dalam proses kreatifnya. “Saya coba pelajari untuk menjadi bahan dasar dan titik berangkat proses saya sendiri. Jadi bagi saya, masa lalu, masa kini dan masa depan adalah inspirasi.”   

Pada 2005, Bambang dan teman-temannya sepakat membuat kelompok independen, di luar struktur kampus. Maka dideklarasikan Lab. Teater Syahid, sebagai nama kelompoknya. Selain sebagai wadah alumni Teater Syahid, pilihan ini dilakukan justru untuk memungkinkan pembacaan ulang atas bentuk, model dan pendekatan teater yang lebih kontekstual.

Ags. Arya Dipayana - Penulis
Nano Riantiarno - Editor

Ket Foto:
1. Kubangan - Sinden
2. Kubangan - Dok. Lab Teater Syahid
3. Kubangan - Dok. Lab Teater Syahid
4. Kubangan - Dok. Lab Teater Syahid
5. Kubangan - Dok. Lab Teater Syahid
6. Kubangan - Dok. Lab Teater Syahid
Karya
 Kubangan dan Tubuh-tubuh Yang Terkontaminasi (2005)
 Ozone (Orkes Madun IV) (2003)
 Madekur dan Tarkeni (Orkes Madun I) (2002)
 Umang-Umang (Orkes Madun II), Telah Pergi Ia Telah Kembali Ia (2001)
 Eksodus (1999)

Kontak
Lab Teater Syahid
Jl Centex RT.006 RW 02 No.35 Ciracas Jakarta Timur 13740 Jakarta
Phone:+62813 9831 9830
Email:bapaustage@plasa.com
Website:www.labteatersyahid.org
Galeri
 
Kunjungi blog kami di: www.kelola.or.id/blog
Informasi terbaru kegiatan Kelola, Klik disini