Papermoon Puppet TheatreSanggar Merah PutihSatu Merah PanggungSeni TekuSlamet GundonoStudiKlub Teater BandungTeater GandrikTeater GarasiTeater GardanallaTeater Gidag GidigTeater KalaTeater KamiTeater KitaTeater KomaTeater Kubur
| >> |

Teater Gardanalla
Biografi
TEATER GARDANALLA diinisiasi Joned Suryatmoko bersama tiga temannya pada 1997. Mulanya bernama Teater Trotjoh lalu berganti nama jadi Gardanalla pada akhir tahun 1999. Anggota awal, yang berjumlah sekitar 20 orang, sepakat membentuk kelompok yang tidak saling mengikat satu sama lain. Artinya, sebagai kelompok yang memfasilitasi perkembangan setiap orang di dalamnya, tidak mengekang pertumbuhan setiap individu yang ingin mengembangkan dirinya di luar.
Pada mulanya kelompok dikelola empat orang dan selalu membuka kesempatan bagi pihak luar untuk terlibat dalam proses kreatif. Hal itu lahir dari pemikiran dasar yang telah disepakati bahwa sebagai media teater, Gardanalla seharusnya memberi ruang yang luas bagi pelakunya untuk menemukan banyak potensi, interaksi, juga dinamika yang diharapkan dapat saling mengembangkan.
Visi dan misi Teater Gardanalla adalah melakukan proses teater yang mengembangkan pribadi pelakunya, pribadi teater itu sendiri dan pribadi masyarakatnya. Dengan visi dan misi inilah beberapa pertunjukan teater berhasil diciptakan.
Pertunjukan Tiga Dara merupakan tonggak sejarah bagi Teater Gardanalla. Pada perkembangannya kelompok ini memilih realisme sebagai gaya teater yang dipercayai mampu mengucapkan pesan-pesan kepada publik. Teater Gardanalla cenderung mengangkat masalah remaja dan keseharian sebagai tema yang cukup relevan. Sebagai kelompok teater kontemporer, isu-isu keseharian dan kekinian jadi dasar pegangan. Kontemporer, menurut Joned Suryatmoko selaku penggagas ide, adalah selalu berkait dengan isu-isu kekinian. Sedangkan realisme merupakan media bentuknya.
Sosok Joned Suryatmoko memang punya peran besar bagi Teater Gardanalla. Pria yang memiliki anjing bernama Accord atau Accu ini, rumahnya juga sekaligus jadi sanggar Teater Gardanalla. Dan bisa dibilang, sekarang ini Teater Gardanalla tinggal Joned Suryatmoko seorang. Hanya, ketika dia atau Teater Gardanalla berproduksi saja, beberapa orang yang dulunya anggota kelompok akan membantu proses manajemen produksinya. Sedang seniman pelaku yang dilibatkan dapat berasal dari mana saja, dan bisa dari latar belakang yang berbeda-beda. Artinya, Joned mengambil aktor-aktor dari luar Teater Gardanalla.
Gardanalla itu nge-sel, tutur Joned. Nge-sel yang dimaksudkan adalah sel yang bisa membelah diri. Dia menyebut aktris Teater Gardanalla yang berkembang mandiri antara lain Maria Sulistyani dengan Papermoon Puppet Theatre, Anik Rusmawati dengan kesibukannya mengajar di SMA ternama di Yogyakarta, dan aktor-aktor lain. Tak bisa dipungkiri, memang hanya Joned Suyatmoko-lah yang tetap menjaga dan mempertahankan Teater Gardanalla agar terus bergerak.
Realistis dan logis saja bila melihat Teater Gardanalla sekarang. Realistis dan logis atas pilihannya menjadi sebuah company theatre. Proses kreatif yang ditangani proyek per proyek dalam skala yang tak besar, jadi konsekuensi yang diketahui sejak mula karena kelompok ini tidak berniat menjadi kelompok teater yang besar. Joned Suryatmoko sebagai penginiasi kelompok juga menyadari, sejak mula siapa saja dapat masuk dan keluar dengan bebas, asal masing-masingnya bisa saling berkembang.
Dengan kenyataan seperti itu, Teater Gardanalla tak memungkiri dalam proses kreatif banyak melibatkan seniman, lembaga, orang-orang di luar kesenian atau masyarakat umum. Beberapa seniman yang pernah terlibat antara lain: Ign. Sugiarto a.k.a Clink (Penata Cahaya), Ari Wulu (Pemusik), Puthut EA (Penulis Naskah). Sedang lembaga penyandang dana yang mendukung, diantaranya; Indonesia Perancis Yogyakarta, Yayasan Kelola Jakarta, Taman Budaya Yogyakarta.
Pada mulanya kelompok dikelola empat orang dan selalu membuka kesempatan bagi pihak luar untuk terlibat dalam proses kreatif. Hal itu lahir dari pemikiran dasar yang telah disepakati bahwa sebagai media teater, Gardanalla seharusnya memberi ruang yang luas bagi pelakunya untuk menemukan banyak potensi, interaksi, juga dinamika yang diharapkan dapat saling mengembangkan.
Visi dan misi Teater Gardanalla adalah melakukan proses teater yang mengembangkan pribadi pelakunya, pribadi teater itu sendiri dan pribadi masyarakatnya. Dengan visi dan misi inilah beberapa pertunjukan teater berhasil diciptakan.
Pertunjukan Tiga Dara merupakan tonggak sejarah bagi Teater Gardanalla. Pada perkembangannya kelompok ini memilih realisme sebagai gaya teater yang dipercayai mampu mengucapkan pesan-pesan kepada publik. Teater Gardanalla cenderung mengangkat masalah remaja dan keseharian sebagai tema yang cukup relevan. Sebagai kelompok teater kontemporer, isu-isu keseharian dan kekinian jadi dasar pegangan. Kontemporer, menurut Joned Suryatmoko selaku penggagas ide, adalah selalu berkait dengan isu-isu kekinian. Sedangkan realisme merupakan media bentuknya.
Sosok Joned Suryatmoko memang punya peran besar bagi Teater Gardanalla. Pria yang memiliki anjing bernama Accord atau Accu ini, rumahnya juga sekaligus jadi sanggar Teater Gardanalla. Dan bisa dibilang, sekarang ini Teater Gardanalla tinggal Joned Suryatmoko seorang. Hanya, ketika dia atau Teater Gardanalla berproduksi saja, beberapa orang yang dulunya anggota kelompok akan membantu proses manajemen produksinya. Sedang seniman pelaku yang dilibatkan dapat berasal dari mana saja, dan bisa dari latar belakang yang berbeda-beda. Artinya, Joned mengambil aktor-aktor dari luar Teater Gardanalla.
Gardanalla itu nge-sel, tutur Joned. Nge-sel yang dimaksudkan adalah sel yang bisa membelah diri. Dia menyebut aktris Teater Gardanalla yang berkembang mandiri antara lain Maria Sulistyani dengan Papermoon Puppet Theatre, Anik Rusmawati dengan kesibukannya mengajar di SMA ternama di Yogyakarta, dan aktor-aktor lain. Tak bisa dipungkiri, memang hanya Joned Suyatmoko-lah yang tetap menjaga dan mempertahankan Teater Gardanalla agar terus bergerak.
Realistis dan logis saja bila melihat Teater Gardanalla sekarang. Realistis dan logis atas pilihannya menjadi sebuah company theatre. Proses kreatif yang ditangani proyek per proyek dalam skala yang tak besar, jadi konsekuensi yang diketahui sejak mula karena kelompok ini tidak berniat menjadi kelompok teater yang besar. Joned Suryatmoko sebagai penginiasi kelompok juga menyadari, sejak mula siapa saja dapat masuk dan keluar dengan bebas, asal masing-masingnya bisa saling berkembang.
Dengan kenyataan seperti itu, Teater Gardanalla tak memungkiri dalam proses kreatif banyak melibatkan seniman, lembaga, orang-orang di luar kesenian atau masyarakat umum. Beberapa seniman yang pernah terlibat antara lain: Ign. Sugiarto a.k.a Clink (Penata Cahaya), Ari Wulu (Pemusik), Puthut EA (Penulis Naskah). Sedang lembaga penyandang dana yang mendukung, diantaranya; Indonesia Perancis Yogyakarta, Yayasan Kelola Jakarta, Taman Budaya Yogyakarta.
Hindra Setya Rini - Penulis
Nano Riantiarno - Editor
Profil
“Kesenian itu memperindah, kata orang tua ketika saya kecil,” ujar Joned Suryatmoko. Tiga Dara, merupakan karya terbaiknya sekaligus menabalkan Joned jadi sutradara teater realis. Dan Teater Gardanalla pun mengukuhkan diri sebagai kelompok teater bergaya realisme sejak 2000. Meski, Joned sempat pula menyutradarai pentas teater non-realis, Thekmu Thukno Thekku, 2003.
JONED SURYATMOKO NDARU HADI, lahir di Surakarta, 21 Maret 1976. Anak bungsu delapan bersaudara dari pasangan Sumarno Hadi Saputro dan Purwanti Sri Oetari ini akrab dengan seni sejak kecil. Dia dididik dalam keluarga Katholik yang taat dan mematuhi tata krama Jawa dengan ketat. Ayahnya bukan seniman dan lebih berkarir di dunia politik. Namun, ayah dan ibunyalah yang justru mengantarkannya menjadi seniman. Selain itu, Solo, tempat keluarganya tinggal, juga memberikan pengaruh penting padanya dalam mengenal seni.
Joned kecil, yang gemar menggambar dan memelihara binatang, akrab dengan buku-buku sastra dari perpustakaan. Dan ayahnya jadi pembimbing. Ibunya yang sangat Jawa dan dekat dengan lingkungan Ndalem Tamtaman serta Laksmintorukmi (selir Kinasih Pakubuwono X, Solo), juga paling berpengaruh baginya. Kedua guru bahasa Indonesia di sekolah, Pak Naryo dan Pak Gun, berperan penting pula. Mereka ajarkan cara mengarang dan menulis dalam bahasa yang baik dan benar sesuai aturan EYD, Ejaan Yang Disempurnakan.
Sejak SD Joned sudah tak asing lagi dengan prosesi-prosesi kraton Solo yang melintas dari Ndalem Sunan ke Siti Hinggil. Dia juga biasa ‘nonton wayang. Selain itu, bersama empat kakak dia terlibat dalam teater rakyat. Mereka diperkenalkan oleh Romo yang mengembangkan teater rakyat di Solo, 1987. Dari sinilah dia melihat bagaimana kedua orang tua mendukung penuh. Orang tuanya melihat, teater tidak hanya melulu teater, tetapi bagaimana peran teater berkembang pada diri anak-anaknya. “Jadi, bagaimana proses teater itu bisa memfasilitasi pelakunya,” ujarnya.
Membuat teater pun sudah dilakoni sejak duduk di bangku SMA. Sempat ingin masuk IKJ, namun urung. Lalu Joned melanjutkan kuliah, mempelajari hubungan internasional dan komunikasi. Dia sadar, meski sangat menyukai teater dan itu pilihannya, dibutuhkan disiplin pengetahuan lain. Joned ingin teaternya bisa memfasilitasi perkembangan pelakunya, karena itu yang tertanam sejak kecil.
Usia 21, Joned membuat karya pertamanya berjudul Konglomerat Burisrawa, yang naskahnya dia peroleh dari Gunawan Maryanto, penulis dan sutradara Teater Garasi. Saat itu merupakan masa-masa pubernya dalam berkarya, berteater dengan referensi sangat minim. Tidak ada alasan khusus selain ingin membuat pentas teater. Tapi dia bersyukur pernah mengalami masa-masa ‘puber’.
Pada 1997, Joned bersama empat temannya mendirikan Teater Trotjoh, yang kemudian berubah jadi Gardanalla. Sampek Eng Tai merupakan karya terakhir Teater Trotjoh. Lalu lahirlah Tiga Dara.
Lelaki yang punya hobi nongkrong di keramaian ini, menyimpulkan, “Masyarakat yang dewasa, tidak asal gepruk (pukul) atau mateni (membunuh) hanya karena berbeda. Yang paling sederhana, misal, mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Kalau lampu merah itu tanda berhenti, ya artinya harus berhenti. Nah, fungsi sutradara di situ. Sutradara punya media dan punya cara untuk menyampaikan, bisa menulis, bisa bicara, bisa pentas. Dalam ilmu sosial dia disebut Agent of Change untuk pertumbuhan dan perubahan masyarakat yang lebih maju, dewasa, “ ujarnya.
Baginya, bentuk realisme yang ditawarkan adalah medium paling dekat dan paling bisa memfasilitasi apa yang ingin dia sampaikan. Isu keseharian dapat merepresentasikan peristiwa sehari-hari dimana orang bisa berpikir lebih besar tentang kehidupan. Kesenian adalah media tempat masyarakat bisa bercermin. Tempat orang bisa berefleksi, tindakan yang tak selalu didapatkan di keseharian.
Ags. Arya Dipayana - Penulis
Nano Riantiarno - Editor
Nano Riantiarno - Editor
Karya
Bertiga (2009)
Delailah Tak Ingin Pulang Dari Pesta (2008)Jam Sembilan Kita bertemu (2007)
Gardanalla, Toko Cerita 2006 (2006)
Jalur 17, Gardanalla, Toko Cerita Bukunya Bergerak-gerak (2005)
Kontak
Teater Gardanalla
Jl. Bener, RT 11, RW 03
No 53 Tegalrejo IV 55843 Yogyakarta Special Region
| Phone | : | +62 274 622413; +62817263465 |
| : | jonet_suryatmoko@yahoo.com |
Galeri










