Komunitas Seni INTRO
Biografi
Komunitas Seni INTRO didirikan di Payakumbuh, 2 Mei 1990, oleh Sigit A Yazid (alm), Iyut Fitra, Ijot Goblin, Cibot Irsa, Petra, Yusril Katil dan Rudi Cirut. Komunitas itu dimaksudkan sebagai wadah kegiatan anak-anak muda Payakumbuh. Anggotanya sekitar 100 orang. Pelacur, karya Jean Paul Sartre, merupakan karya penyutradaraan pertama Della, dan digelar pada 2003. Hingga 2006, setiap tahun Della menyutradarai drama, sebagai tugas mata kuliah, dengan penonton hanya masyarakat kampus saja. Tugas-tugas menyutradarai naskah realis maupun non-realis, harus dilewati Della.

Namun, Della juga menyutradarai karya-karya yang digelar di luar kampus. Antara lain, Perempuan, Dor! yang dipentaskan di aula kantor Wali Kota Payakumbuh pada acara pelantikan anggota Dewan Kesenian Kota Payakumbuh, 2004. Itulah karya perdananya yang dipublikasikan kepada masyarakat umum. Karya yang mengangkat perkara Kekerasan Dalam Rumah Tangga itu, dia akui masih banyak kekurangan. Tetapi dia sangat puas, karena pertunjukan itu sempat membuat penonton terpukau.

Sejak 2004 hingga 2009, Della telah menyutradarai 12 karya. Tahun yang paling produktif adalah 2005. Tercatat, Della menyutradarai Lysistrata karya Aristhopanes,  Perempuan Dalam Kereta, karya Hamdi Salad, dan Perempuan Dalam Mitos Yang Membatu, karyanya sendiri. Karya yang paling berkesan bagi Della, khusus dalam capaian estetis dan pesan yang disampaikan, adalah Pencucian karya David Guerdon.

Karya yang juga dianggap sukses adalah Samadengan Nol. Naskah yang dikerjakan bersama Mila K. Sari menyoroti pendidikan kita saat ini yang lebih memaksakan hapalan, tanpa berbuat sesuatu yang lebih bermanfaat, misal, menciptakan lapangan kerja baru. Pertunjukannya mampu menghipnotis penonton, sebagaimana ditulis oleh Koran Lampung. Della merasa, capaiannya pada karya ini terbilang optimal. Dia mampu menjadikan aktrisnya menghayati apa yang diinginkan. Salah satunya, Emilia Dwi Amoi, meski masih kelas tiga SMP, mainnya bagus sekali.

Sama dengan Nol, juga diakui Della masih banyak kekurangan. Tetapi dalam proses belajar menulis naskah, dia akan selalu mengoreksi berbagai kekurangan untuk perbaikan di masa mendatang. Dalam belajar menulis drama, Della mengaku kagum kepada Benny Yohanes yang dianggapnya sebagai penulis handal.

Melalui Garis Yang Hilang, yang dipentaskan tahun 2009 di Payakumbuh, Della benar-benar ingin menyelami implementasi pendidikan. Misal, anak-anak diwajibkan menghapal berbagai rumus ilmu eksakta dan berbagai hapalan ilmu sosial, tanpa peduli lingkungannya. Mereka terpaksa, bukan terobsesi, harus mendapatkan nilai-nilai bagus. Hampir seluruh energi anak dihabiskan untuk belajar. Padahal ada satu sisi kehidupan anak-anak yang tak boleh diabaikan; dunia kanak-kanak, dunia bermain, bercengkrama, yang sangat berpengaruh dalam perjalanan hidup mereka kelak. Itulah sisi yang hilang dari garis kehidupan anak-anak.

Pentas Garis Yang Hilang, yang dilakonkan oleh enam siswa SMP dan SMA, dapat dikatakan sukses. Mereka bermain lepas tanpa beban, dan sangat menikmati. Mereka juga mengakui, sangat senang memainkan naskah itu. Inilah salah satu strategi Della dalam berkarya, langsung menggunakan pemain yang memang mengalami persoalan yang tengah digarap. Anak-anak sekolah, dengan cepat dapat menghayati peran yang dimainkannya. Sebab, mereka memainkan diri sendiri.

Della, sebagai sutradara, agaknya telah menemukan ‘metode tersendiri’ dalam  berkarya. Della mengaku, dalam proses berkarya dia sangat tegas dan disiplin, kadang membutuhkan waktu panjang. Baginya, tidak hanya hasil yang penting, tetapi proses justru lebih penting dalam upaya mencapai hasil. Tak jarang dalam berproses dilakukan ‘bongkar-pasang’ pemain jika tak memenuhi sasaran yang diinginkan.
Asril Muchtar - Penulis
Nano Riantiarno - Editor
Profil
RAHMA DELLA NASUTION, lahir di Tanjung Karang, 29 Juni 1982, dari pasangan Sumerli Sahelan Nasution asal Mandailing (almarhum), dan ibu, Betris Wati asal Payakumbuh. Tapi dia lebih suka menggunakan nama Della Nasution. Sejak kelas V SD,  Della sudah berpisah dengan orang tua. Dia tinggal bersama nenek di Payakumbuh, sementara orang tua menetap di Tanjung Karang. Pendidikan dasarnya diselesaikan di SD 07, 1994. Lalu masuk SMPN 1, selesai 1997. Lanjut ke SMA Negri 1, dan selesai 2000, semua di Payakumbuh. Sarjana Seni (teater), diperolehnya dari STSI Padangpanjang, 2006. Sedang pergaulan, sosialisasi, dan ‘membaca’ budaya Minang, lebih banyak diserap Della di Payakumbuh.

Tinggal di Payakumbuh, bagi Della ternyata membawa pilihan hidup pada dunia teater. Dia tinggal di lingkungan yang memang memiliki kegiatan seni dan  budaya. Di rumah neneknya, hampir setiap hari Della melihat mamak (saudara laki-laki dari ibunya) dengan beberapa rekan, mendiskusikan sastra dan musik, atau berlatih teater. Mamaknya, Iyut Fitra, adalah penyair nasional yang menetap di Payakumbuh.  

Della memutuskan ikut bermain teater ketika masih kelas tiga SMP, 1997. Sekedar ikutan, karena teman-temannya juga bermain teater. Tapi sejak itu, dia mulai mengakrabi teater. Della mengaku tak ada sosok atau tokoh yang mempengaruhinya agar memilih teater. Lingkunganlah yang banyak mempengaruhi.  

Selama kuliah di Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Padangpanjang, Della semakin produktif, baik sebagai pemain maupun sutradara. Selesai kuliah, Della tetap meningkatkan potensi diri dengan selalu berproses dan berkarya. Untuk menyalurkan hasrat kreatifnya, halaman belakang rumah nenek, yang berarsitektur rumah gadang, dibikin jadi tempat berlatih teater. Bahkan bisa juga jadi tempat pertunjukan.

Della beruntung, pada 2 Mei 1990, Iyut Fitra bersama teman-temannya mendirikan Komunitas Seni INTRO. Dia jadikan rumah gadang itu sebagai sekretariatnya. Komunitas itu didirikan sebagai wadah untuk berkreasi anak-anak muda Payakumbuh. Anggotanya sekitar 100 orang. Dengan modal anggota yang banyak, seharusnya Della tak kesulitan mencari aktor. Namun dia selalu melakukan pembinaan teater terhadap para remaja.

Apa yang dilakukan Della membuahkan hasil. Dan pementasan yang membikin Della lebih diperhitungkan adalah Gro Wong, karya Benny Yohanes. Monolog itu digelar pada Pesta Monolog di TIM, Jakarta. Bagi Della, pementasan itu adalah momen penting awal pemunculan dirinya dalam kancah Teater Indonesia.  

Pada 2007, melalui naskah Pencucian karya David Guerdon, Della meraih gelar Sutradara Terbaik Festival Teater Se-Sumatra Barat. Selain menyutradarai, Della juga berperan sebagai ibu. Bagi Della menjadi aktor pentas, sebagai bentuk artikulasi dirinya dalam berakting. Dia tidak hanya mampu melatih tapi juga bermain. Aktornya, Welcy Fine, terpilih sebagai Aktris Terbaik. Dan Komunitas Seni INTRO juga terpilih sebagai Grup Terbaik.  

Peristiwa teater yang juga cukup penting bagi Della, adalah Panggung Perempuan se-Sumatra di Bandar Lampung, Tanjung Karang, 2009. Untuk itu Della bekerjasama dengan Mila K. Sari menyiapkan naskah yang disutradarainya. Pertunjukannya terbilang sukses.  

Selama berproses, kendala yang selalu dihadapi Della adalah, datang dan perginya pemain. Dia menyadari, begitu tamat SMA, pemain-pemainnya akan pergi ke kota lain, misal Padang, Pekan Baru, Jakarta, untuk melanjutkan sekolah. Della jelas akan kehilangan pemain yang sudah ‘jadi’. Kemudian dia harus membentuk aktor baru lagi. Tapi bagi Della, hal itu dianggap sebagai investasi saja. Suatu waktu, bisajadi mereka rindu dengan Komunitas Seni INTRO. Bila bertemu bisa pentas bersama lagi.

 
Asril Muchtar - Penulis
Nano Riantiarno - Editor

Ket. Foto:
1. Pencucian - Asril Muchtar
2. Pencucian - Asril Muchtar
Karya
Garis yang Hilang (2009)
Samadengan Nol (2009)
Pakaian Sepi (2008)
Pencucian Letter P (2007)
Gro Wong Titik-Titik Hitam (2006)
Kontak
Komunitas Seni INTRO
Jl Hasanudin Kel Padang tangah No 40 Kota Nan Empat, Payakumbuh 26224 West Sumatra
Phone:+6281363181059
Email:kuperempuan_intro@yahoo.co.id
Galeri
 
Kunjungi blog kami di: www.kelola.or.id/blog
Informasi terbaru kegiatan Kelola, Klik disini