M. HalimMatius Shan BooneMemet Chairul SlametMichael AsmaraNyoman WindhaOtto SidhartaPardiman DjoyonegoroPeni Candra RiniPetermanRafilozaRahayu SupanggahSlamet Abdul SyukurSoe Tjen MarchingTony PrabowoTrisutji Kamal
| << | >> |
M. Halim
Biografi
Muhammad Halim yang biasa dipanggil Mak Lenggang atau M. Halim Sutan Malenggang lahir di Negeri Lasi, Kabupaten Agam, Propinsi Sumatra Barat pada tanggal 31 Desember 1962 adalah anak sulung dari delapan bersaudara. Ayahnya bernama Daman Huri dan ibunya Djusmar adalah petani yang sangat sederhana.
Kehidupannyanya yang sulit membuat kecil Halim sering harus membantu orang tuanya mencari nafkah antara lain dengan menggembalakan sapi di sawah. Disaat mengembala sapinya di sawah itulah Mak Lenggang kecil banyak mendengar suara saluang dan karena ketertarikkannya maka kemudian Halim sering ke tempat Mak Adang untuk mendengarkan saluang. Pernah ia berjalan kaki hingga 2 km hanya untuk melihat dan mendengarkan Saluang tersebut. Dari sini sedikit demi sedikit pengaruh musik merasuk kedalam dirinya. Dan sejak berumur 14 tahun tersebut dia mulai belajar meniup saluang, pertama dengan Atik Acin lalu Anas S.T Sakti sampai berumur 22 tahun.
Pada tahun 1979 Muhammad Halim masuk ke pesantren, di sela-sela belajarnya, ia berusaha mencari waktu untuk tetap bisa berlatih saluang , bahkan juga membuat alat musik saluang sendiri. Setelah tamat M. Halim pada tahun 1985 melanjutkan ke ASKI Padang Panjang hingga tamat tahun 1988, lalu melanjutkannya ke jenjang S1 di STSI Surakarta 1989 dan selesai tahun 1991. Kemudian pada tahun 2006 melanjutkan lagi di ISI Surakarta untuk program S2 dan tamat tahun 2008.
Selain sebagai komposer saat ini Muhammad Halim Sutan Malenggang juga bekerja sebagai dosen praktek untuk musik tradisi Minang (saluang, talempong, bansai, sarunai, gandang, dol bengkulu), dan komposisi musik di Fakultas Seni Pertunjukan Jurusan Musik ISI Padang Panjang, juga sering diundang untuk memberikan lokakarya dan melatih musik pada sejumlah kegiatan musik diluar kampus atau luar negeri seperti pada tahun 1994 bersama Boi G. Sakti memberikan Lokakarya di New Zealand tentang Randai dan Musik Iringan Randai. Pada 2005 melatih musik Randai mahasiswa Asean Theater di Department Theater Universitas Et Manoa Honolulu Hawaii USA. Disusul pada tahun 2009 melatih musik perkusi Minang di Tong-tong Festival Den Haag Belanda.
Kehidupannyanya yang sulit membuat kecil Halim sering harus membantu orang tuanya mencari nafkah antara lain dengan menggembalakan sapi di sawah. Disaat mengembala sapinya di sawah itulah Mak Lenggang kecil banyak mendengar suara saluang dan karena ketertarikkannya maka kemudian Halim sering ke tempat Mak Adang untuk mendengarkan saluang. Pernah ia berjalan kaki hingga 2 km hanya untuk melihat dan mendengarkan Saluang tersebut. Dari sini sedikit demi sedikit pengaruh musik merasuk kedalam dirinya. Dan sejak berumur 14 tahun tersebut dia mulai belajar meniup saluang, pertama dengan Atik Acin lalu Anas S.T Sakti sampai berumur 22 tahun.
Pada tahun 1979 Muhammad Halim masuk ke pesantren, di sela-sela belajarnya, ia berusaha mencari waktu untuk tetap bisa berlatih saluang , bahkan juga membuat alat musik saluang sendiri. Setelah tamat M. Halim pada tahun 1985 melanjutkan ke ASKI Padang Panjang hingga tamat tahun 1988, lalu melanjutkannya ke jenjang S1 di STSI Surakarta 1989 dan selesai tahun 1991. Kemudian pada tahun 2006 melanjutkan lagi di ISI Surakarta untuk program S2 dan tamat tahun 2008.
Selain sebagai komposer saat ini Muhammad Halim Sutan Malenggang juga bekerja sebagai dosen praktek untuk musik tradisi Minang (saluang, talempong, bansai, sarunai, gandang, dol bengkulu), dan komposisi musik di Fakultas Seni Pertunjukan Jurusan Musik ISI Padang Panjang, juga sering diundang untuk memberikan lokakarya dan melatih musik pada sejumlah kegiatan musik diluar kampus atau luar negeri seperti pada tahun 1994 bersama Boi G. Sakti memberikan Lokakarya di New Zealand tentang Randai dan Musik Iringan Randai. Pada 2005 melatih musik Randai mahasiswa Asean Theater di Department Theater Universitas Et Manoa Honolulu Hawaii USA. Disusul pada tahun 2009 melatih musik perkusi Minang di Tong-tong Festival Den Haag Belanda.
Michael Asmara - penulis
Profil
Muhammad Halim meskipun lahir dengan situasi ekonomi yang sangat terbatas namun hal tersebut terbukti tidak bisa mengganjal bakatnya dalam bidang kesenian pada umumnya dan musik pada kususnya. Dia adalah seorang komponis dengan latar belakang musik Minang yang sangat kental dan berbakat.
Karya-karya Muhamad Halim rata-rata selalu mengambil unsur-unsur Minang yang kental. Meski kadang dibalut dengan unsur bunyi yang lain, dengan mengeksplorasi bunyi melalui saluangnya atau memadukan saluang dengan instrumen lain, tapi biasanya hasil eksplorasi tersebut diletakkannya sebagai pembukaan dari komposisi musiknya. Selain itu karena Halim adalah seorang pemain saluang yang handal maka dalam setiap komposisinya dia hampir selalu menyertakan instrumen saluang tersebut dalam setiap komposisinya. Seperti misalnya dalam karyanya yang berjudul " Bagurau" .
Dalam karya ini M. Halim menggunakan instrumen saluang dan klarinet. Setelah terlebih dahulu saluang memainkan multiphonic dan sejumlah motif untuk beberapa saat, lalu dia munculkan klarinet yang memainkan motif-motif yang dimainkan saluang sebelumnya, yang kemudian dikembangkan secara improvisasi, sehingga terkesan saling berdialog satu sama lainya silih berganti, tiba-tiba muncul suara rekaman dari seseorang yang sedang berpidato untuk beberapa saat. hilang dan muncul beberapa kali. lalu suara radio yang memainkan lagu rock dan ditutup dengan suara teriakan oleh beberapa pemain. Dalam karya Bagurau bagian pertama ini Halim mencoba bereksperiment dengan bentuk. Meskipun modus yang dia pakai tetap dalam modus Minang yaitu heptatonic (la, do, re, mi, fa, sol, la).
Selain membuat karya komposisi sendiri M. Halim juga sering mengaransemen atau membuat karya yang berdasarkan lagu-lagu klasik Minangkabau, seperti dalam "Mbolah," sebuah karya yang berdasarkan karya "Padagongan" karya musik yang lahir di Payah Kumbuah. Karya ini aslinya merupakan karya untuk sampelong, sebuah alat mirip suluang namun pempunyai warna suara yang lebih rendah, dengan empat lobang jari-jari. Kemudian M. Halim menciptakan melodi serta syairnya sehingga menjadikannya sebagai suatu kesatuan.
Karya-karya Muhamad Halim rata-rata selalu mengambil unsur-unsur Minang yang kental. Meski kadang dibalut dengan unsur bunyi yang lain, dengan mengeksplorasi bunyi melalui saluangnya atau memadukan saluang dengan instrumen lain, tapi biasanya hasil eksplorasi tersebut diletakkannya sebagai pembukaan dari komposisi musiknya. Selain itu karena Halim adalah seorang pemain saluang yang handal maka dalam setiap komposisinya dia hampir selalu menyertakan instrumen saluang tersebut dalam setiap komposisinya. Seperti misalnya dalam karyanya yang berjudul " Bagurau" .
Dalam karya ini M. Halim menggunakan instrumen saluang dan klarinet. Setelah terlebih dahulu saluang memainkan multiphonic dan sejumlah motif untuk beberapa saat, lalu dia munculkan klarinet yang memainkan motif-motif yang dimainkan saluang sebelumnya, yang kemudian dikembangkan secara improvisasi, sehingga terkesan saling berdialog satu sama lainya silih berganti, tiba-tiba muncul suara rekaman dari seseorang yang sedang berpidato untuk beberapa saat. hilang dan muncul beberapa kali. lalu suara radio yang memainkan lagu rock dan ditutup dengan suara teriakan oleh beberapa pemain. Dalam karya Bagurau bagian pertama ini Halim mencoba bereksperiment dengan bentuk. Meskipun modus yang dia pakai tetap dalam modus Minang yaitu heptatonic (la, do, re, mi, fa, sol, la).
Selain membuat karya komposisi sendiri M. Halim juga sering mengaransemen atau membuat karya yang berdasarkan lagu-lagu klasik Minangkabau, seperti dalam "Mbolah," sebuah karya yang berdasarkan karya "Padagongan" karya musik yang lahir di Payah Kumbuah. Karya ini aslinya merupakan karya untuk sampelong, sebuah alat mirip suluang namun pempunyai warna suara yang lebih rendah, dengan empat lobang jari-jari. Kemudian M. Halim menciptakan melodi serta syairnya sehingga menjadikannya sebagai suatu kesatuan.
Michael Asmara - penulis
Karya
- 2008 "The Crying Smile" -- alat tiup Mentawai, perkusi, empat helai plat seng, dan vokal
- 2012 "Aluang lou n ihet" -- sebuah komposisi untuk saluang besar dan saluang kecil.
- 2012 "Aluang lou n ihet" -- sebuah komposisi untuk saluang besar dan saluang kecil.
Kontak
M. Halim
West Sumatra
| Phone | : | 081374305825 |
| : | halim_mhd2002@yahoo.com |








