>>
Dedek Wahyudi
Biografi
Sejak 1982, Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta—sekarang Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta—mencatat sosok ini terdaftar dalam nomor induk mahasiswa Jurusan Karawitan. Namun, hingga kini, gelar kesarjanaannya tak kunjung didekapnya. Ali-alih ditendang, ia justru diangkat sebagai tenaga studio karawitan di kampus tersebut. Kemahirannya memainkan gamelan, rupanya melampaui selembar ijazah yang banyak diidamkan banyak orang. Ia memang seorang “master” gamelan yang sangat diperhitungkan. Demikian banyak pengamat bilang.

Antonius Wahyudi Sutrisna, nama lengkap lelaki kelahiran di Klaten tahun 1960 ini, sedari kecil memang telah akrab dengan gamelan. Ayahnya sebetulnya seorang mantri kesehatan. Tapi, lingkungan keluarga kakek tempat ia tinggal—yang terdiri dalang, sinden dan para niyaga—telah menenggelamkannya untuk menggeluti dunia musik gamelan. Ketiga pamannya: Blasius Subono, Y. Subowo, dan almarhum FX Subanto yang tinggal serumah adalah para pengendang hebat yang, di kemudian hari, menjadi komposer kondang.

“Aku tidak ingat lagi kapan persisnya aku bisa memainkan gamelan. Tetapi menurut ibuku, sejak umur 4 tahun aku sudah bisa memainkan instrumen kendang,” tutur lelaki berperawakan kecil ini. Apakah kakeknya yang mengajarinya, atau salah satu dari ketiga pamannya itu, atau malah ketiga-tiganya? Sekali lagi, sosok yang akrab dipanggil Mas Dedek ini tak kuasa mengingat masa kecilnya yang gembira itu. Ia memang dikenal sebagai sosok pelupa di kalangan teman-temannya. Bahkan pernah, ia lupa “membawa” istrinya ke pusat perbelanjaan di tengah kota dan ditinggal pulang begitu saja. Kejadian ini tak sekali dua kali, juga untuk “lupa” kejadian sehari-hari lainnya.

Itu satu hal. Dan hal lain yang mesti diacungi jempol adalah ekstrem sebaliknya: ia pintar sekali menyimpan hafalan gending karawitan. Begitu cepat mengingat dan tak pernah lupa saat memainkannya. Karuan saja, seorang dalang terkenal dari Purworejo, Ki Suwandi, sempat terpukau oleh daya ingat dan kehebatan permainan kendangnya. Ki Suwandi pun langsung mengajak Dedek kecil untuk mengiringi pementasnya. “Seingatku, waktu pertama kali mencoba, tanpa berlatih aku sudah langsung bisa memainkannya,” kenang Dedek. Itu terjadi saat ia masih duduk di bangku SMP, tahun 1975, semasa bersama keluarganya pindah di Sentolo, Kulonprogo, Yogyakarta. Semula Dedek hanya mengiringi pada bagian tertentu saja. Selanjutnya, ia mengiringi semalam suntuk dan sering diajak pentas bersamanya.

Belajar secara oral dan “kupingan” (hearing) menjadi cara yang tepat bagi Dedek. Ia menguasai banyak vokabuler kendang tarian Jawa hanya dengan cara sering mendengar gending-gendingnya. Keajaibannya mengingat hafalan gending dan vokabuler garap adalah buah dari proses internalisasi secara oral tersebut. Tentu ini bukanlah alasan untuk tidak belajar secara formal. Buktinya, selulus SMP—kendati sang ayah menghendaki melanjutkan sekolah perawat—Dedek mendaftarkan di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Surakarta, bahkan kemudian melanjutkan ke ASKI di kota yang sama.

Di sekolah tersebut ia memulai karir di dunia penciptaan musik. Sebagai komponis yang telah mengantongi seabrek ketrampilan teknis, ia seolah tinggal menambah gizi (ilmu) pengetahuan dan terutama jejaring seni. Dedek tekun mengamati, mempelajari, bahkan ikut terlibat di dalam proses penciptaan dan penyajian karya komposer Rahayu Supanggah, B. Subono, Al. Suwardi, juga I Wayan Sadra. Dan selama mengarungi pengalaman 20 tahun lebih sebagai komponis, ia telah menciptakan musik untuk wayang, teater, ataupun tari garapan koreografer ternama seperti Sardono W Kusumo, Mugiyono Kasido, Dedy Luthan, Miroto, dan banyak lainnya. Ia komposer musik teater “Kisah Perjuangan Suku Naga” karya sutradara WS Rendra pada Art Summit 2004.

Di luar itu, Dedek aktif di berbagai even pementasan musik tradisional dan kontemporer, di dalam maupun luar negeri. Pada tahun 1994 diundang sebagai komposer tamu oleh Gamelan Pasifica Group di Seatle, Amerika Serikat, kemudian pada tahun 1997 diundang oleh South Bank Gamelan Group di London, Inggris. Selama kurun waktu itu, beberapa karyanya juga dipentaskan di Indonesia Dance Festival (1993 dan 1995), Chang Mu Festival I di Korea (1995), Tournament of Roses di USA (1995), World and Musik Festival di Inggris (1997). Ia juga banyak melakukan kolaborasi dengan pemusik lintas-budaya. Di antaranya, mengikuti program Asia Pasific Performing Exchange di Los Angeles, USA (2006). Sebelumnya, pada tahun 1998, terlibat dalam proyek Or LOKAL berkolaborasi dengan seniman dari Inggris, Belanda, dan Jerman.

Belakangan ini Dedek kerap didapuk sebagai komposer untuk pementasan wayang kulit Ki Enthus Susmono. Selain itu, ia juga menjadi penata musik “drama wayang” produksi Yayasan Senawangi dan Yayasan Swarga Loka Art Department Jakarta. Ia juga telah menggondol beberapa penghargaan, seperti Komposer Terbaik dan Penulis Komposisi Terbaik pada Kontes Karawitan Kreatif di Yogyakarta (1990), Komposer dan Penulis Lagu Terbaik dalam Festival Dramatari se Jawa Tengah (2002), Komposer Terbaik pada Festival Ketoprak se Jawa Tengah (2004), Komposser Terbaik pada Festival Tari Tradisional di Jakarta, Komposer Unggulan pada Parade Tari Nusantara di TMII Jakarta (2007), serta penerima penghargaan Musium Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas perannya sebagai Penata Musik Gamelan Coro Balen selama 36 jam, 36 menit, 36 detik dalam HUT TMII ke 36 (2011).
 
Joko S. Gombloh - penulis
Profil
Menjadi komposer adalah jalan yang penuh lubang dan batu rintang. Ini yang dihadapi Dedek Wahyudi saat awal-awal menekuni dunia penciptaan di kampus ASKI. Ia bahkan nyaris KO lantaran dibantai oleh seorang empu karawitan perihal 4 karyanya yang kesemuanya meraup jawara. Ceritanya, sang empu menanyakan tentang konsepnya dalam bermusik. Sayang, Dedek tak sanggup memberikan argumen yang menyelamatkan dirinya dari cakaran sang empu. “Waktu itu saya masih mahasiswa baru. Beruntung ada seorang calon doktor etnomusikologi yang membela saya, sehingga saya terselamatkan,” kenang Dedek.

Ia terselamatkan oleh calon doktor yang tak ia sebutkan namanya itu. Dan jalan menjadi komponis mulai terkuak. Dedek menelusuri jalan ini dalam semangat niyaga yang senantiasa gairah ketika memainkan gending. Maka, ia memilih jalur komposer sekaligus player (pengrawit) yang turut memainkan sendiri alat musiknya. Terutama kendang, alat musik yang telah digaulinya sejak kanak.

Komponis ini, memang, selain piawi dalam mengolah komposisi gending, adalah seorang virtuoso kendang yang kondang. Keelokan menabuh alat perkusi ini sudah tampak sedari kecil. Dari bermain kendang untuk kesenian Jathilan hingga untuk mengiringi pagelaran wayang kulit, ia lakoni penuh suka cita. Banyak sekali vokabuler kendang untuk iringan tari juga telah digenggamnya. Pantaslah, saat diterima di SMKI, ia langsung dipercaya sebagai pengendang musik tari.

Dari pengalaman awal di SMKI itu, Dedek lantas tahu bagaimana menyusun iringan tari. Dan ia pun mulai mencobanya. Debutnya diawali saat duduk di bangku kelas 3. Di bawah bimbingan guru yang sekaligus pamannya, FX Subanto, Dedek menyusun iringan drama tari. Judulnya, “Retno Dumilah”. Vokabuler gendingnya sebagian besar adalah gending-gending yang sudah ada ditambah beberapa gending baru yang ia ciptakan. Dedek mengaku, karya perdananya ini masih sangat sederhana. “Masih seperti penataan gending semata,” ujarnya.

Pencapaian yang belum maksimal itu ternyata tak membungkus niatnya sebagai komposer. Semangatnya untuk mencipta terus menyala. Hasilnya, sampai dengan kelas 4 (waktu itu SMKI sampai kelas 4), lebih dari 10 garapan musik tari telah ia lahirkan—di samping garapan untuk konser musik berjudul “Basulakardha” serta Gending “Mars Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta”. Ini sebuah prestasi yang luar biasa bagi komponis muda sekelas sekolah menengah kejuruan.

Laik dicatat adalah bahwa kedekatannya dengan dunia tari itu menjadikan karya-karyanya lebih tampak “mengiringi” dan cenderung ilustratif. Sementara, kepiawiannya dalam memainkan kendang telah menempatkan karya-karya Dedek lebih terdengar energik, dinamis, dan “bergelora”. Ia pun moncer sebagai komponis sekaligus pengendang kelas wahid di dunia karawitan.

Akan halnya kedekatannya pada dunia tari, Dedek pun kebanjiran order dari para koreografer tingkat kampus hingga yang sudah kondang semacam Sardono W Kusumo, Mugiyono Kasido, Dedy Luthan, atau Eko Supriyanto. Bahkan kepintarannya membuat musik iringan ini merambah ke dunia teater, seperti untuk Teater Gapit dan Bengkel Teater milik WS Rendra. Karya-karya Dedek mulai mengalir produktif dalam energisitas tari, teater, dan wayang.

Pada tahun 2000 ia membentuk Dedek Gamelan Orchestra (DGO). Kelompok ini tentu untuk menyalurkan gairah kekaryaan komponis berambut keriting ini. Namun pada perkembangannya, DGO juga menyajikan karya-karya yang dilahirkan oleh para anggotanya yang terdiri para musisi, penari, dalang, sastrawan, dan pemain teater. Dan sebagaimana sang pendirinya, DGO banyak menelurkan karya, baik untuk konser musik, maupun untuk mengiringi tari, teater, film, sinetron, dan wayang.

Joko S. Gombloh - penulis


 
Karya
2012, musik untuk drama wayang “Abimanyu Ranjab”, sutradara Irwan Riyadi
2012, komposisi musik “Umbul Donga”
2011, musik untuk tari “Ejecting Human”, koreografer Mugiyono Kasido
2011, musik untuk tari “Memory Shinta”, koreografer Mugiyono Kasido
2011, musik untuk drama wayang “Ciptoning”, sutradara Dewi Sulastri
2011, musik untuk wayang multi media “Serat Nusa Raya”, sutradara Anton Ratumakin
2010, drama musikal “Kidung Dewi Sri”
2010, drama musikal “Ruwat Reruwet”
2010, musik untuk wayang “Minggatnya Cebolang”, dalang Ki Slamet Gundono
2010, musik untuk tari “Samodra Raksa”, koreografer Eko Supriyanto
2010, musik untuk tari “Sangkakala”, koreografer S.Pamardi
2010, musik untuk drama wayang ”Srikandi Senopati” sutradara Dewi Sulastri
2010, musik untuk drama wayang, “Maha Barata”, sutradara Dewi Sulastri
2009, musik untuk wayang “Dewa Ruci”, dalang Ki Enthus Susmono
2009, musik untuk wayang “Minggatnya Cebolang”, dalang Ki Slamet Gundono
2009, musik untuk konser “Indahnya Kebersamaan”
2008, musik untuk tari “Bedaya Sarpa Rodra”, koreografer Saryuni Padminingsih
2008, musik untuk tari “Alas Karoban”, koreografer Jonet Sri Kuncoro

Kontak
Dedek Wahyudi
Jl. Petruk 19 Ngringo Indah, Jaten, Karanganyar, Surakarta, Indonesia 57772 Central Java
Phone:0271827163/02719376535
Email:dedekwgamelan@yahoo.com
 
Kunjungi blog kami di: www.kelola.or.id/blog
Informasi terbaru kegiatan Kelola, Klik disini