>>
I Made Arnawa
Biografi
Banyak orang yang mengatakan bahwa seni musik karawitan di Bali merupakan suatu keunikan dalam semesta kesenian Indonesia. Dilihat dari segi jumlah aktivitas seni, jumlah grup gamelan yang aktif serta peranan musik kontemporer di masyarakat umum, kesan tersebut tidak salah. Musik Karawitan Bali begitu erat terikat dengan filsafat dan agama orang Bali sehingga seni senantiasa merupakan "kebutuhan sehari-hari" bagi masyarakat Bali. Dilihat dari sudut ini, perkembangan jumlah kedatangan para wisatawan ke Bali tidak selalu perlu dinilai negatif, sebab dengan demikian kesenian Bali cepat sekali mendunia.. Akan tetapi yang tetap paling mengagumkan adalah aktivitas pembaharuan dalam seni musik karawitan yang dilakukan oleh seniman Bali sendiri, dan cara bagaimana mereka mampu mengintegrasikan pengaruh asing ke dalam konseptualisasi musik mereka, mengingat beberapa tokoh seniman lama  seperti Wayan Lotring, Gedé Manik, Wayan Beratha, atau yang sekarang dalam usia tahun 50an seperti Komang Astita, Gede Asnawa, Nyoman Windha dan Wayan Yudane.

Salam satu di antaranya, tetapi dari generasi yang lebih muda,  adalah I Madé Arnawa dari desa Tunjuk/Tabanan yang lahir pada tahun 1960. Walaupun beliau sudah berusia 51 tahun, rasa "ingin tahu" serta suatu keterbukaan terhadap seni lain masih tetap merupakan kepribadiannya yang amat menonjol.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Tunjuk dan Denpasar, Madé Arnawa masuk ke perguruan tinggi seni, yaitu STSI Denpasar (sekarang ISI Denpasar) dan lulus S 1 pada tahun 1989. Tidak lama kemudian ia menjadi staf pengajar di bidang karawitan Bali, dan pada satu ketika ia juga mengambil jabatan sebagai ketua jurusan karawitan di ISI Denpasar. Tahun 2001 – 2002 Madé Arnawa menjadi generasi pertama dari program studi S 2 "Penciptaan Seni" yang dibuka di ISI Surakarta, pada waktu itu di bawah bimbingan Dieter Mack.
Seperti kebanyakan seniman terkemuka di Bali, Arnawa diundang untuk berpartisipasi pada Pesta Seni di Bali, namun ia juga sempat diundang ke luar negeri, baik di Kalifornia maupun di Eropa. Di Kalifornia dia kerjasama dengan grup Gamelan "Sekar Jaya" lima kali sebagai "Guest Music Director"  pada tahun 1994/95, 1997/98, 2006/07, 2009, dan akhir-akhir ini (Mei 2011) sempat pentas di sana dengan seluruh sekaha "Taruna Mekar" dari Tunjuk.

Di antara aktivitasnya di Eropa terdapat beberapa undangan tunggal sebagai komponis ke festival gamelan di Rotterdam dan Amsterdam. Bersama dengan sekahanya "Taruna Mekar" dari Tunjuk, ia sempat pentas pada "Festival Musik Gamelan Kontemporer" di "House of World Cultures", Berlin pada tahun 2005 serta pada tahun 2009 di "Biennale Salzburg" di Austria (atas permohonan Steve Reich).

Pada tahun 2010 ia memulai menciptakan karya-karya baru untuk suatu perangkat gamelan baru yang disebut "Gamelan Pendro", yaitu suatu perangkat gamelan yang mengkombinasikan laras pelog dengan slendro. Hasil kreatif ini juga sempat dipergelarkan pada Festival Art Summit Indonesia 2010.

Akhir-akhir ini, Made Arnawa telah berhenti mengajar di ISI Denpasar, karena aktivitasnya, baik secara nasional maupun internasional makin meningkat. Namun aktivitas tersebut tidak bisa dilihat terlepas dari peranan serta dukungan dari sekaha "Taruna Mekar" di Tunjuk, yaitu salah satu grup gamelan desa yang telah mencapai suatu tingkat kesenimanan yang mengagumkan. Padahal kebanyakan penabuh bukan musisi profesional. Dengan kasus ini sekali lagi terbukti potensi kreatif yang tertanam di Bali. Kenyataan ini juga didukung oleh suasana sosial yang meyakinkan dan salah satu pimpinan seperti I Made Arnawa yang tetap menjadi" manusia biasa" walaupun keseniannya begitu terkenal secara internasional.

Dieter Mack

 
Profil
Kalau kita sempat membaca daftar karya dan aktivitas di luar negeri dari Madé Arnawa, maka timbul dugaan, bahwa musiknya bernafas hybrid, bahkan eksperimental, seperti misalnya pada rekannya Wayan Sadra (alm.) atau Pandé Madé Sukerta. Ternyata -  dalam hal ini Arnawa mirip rekannya Nyoman Windha – kenyataan sama sekali tidak demikian. Pengalaman bahkan perdalaman seni musik Barat, baik yang kontemporer maupun yang kuno, belum pernah menimbulkan semacam "Baratisasi" karyanya. Sebaliknya Arnawa memanfaatkan pengalamannya yang begitu luas untuk memikirkan kembali dimana dalam gramatik gamelan Bali sendiri adalah unsur-unsur yang patut dikembangkan tanpa meninggalkan estetika gamelan Bali. Misalnya fungsi suatu gongan tetap dapat ditemukan dalam karyanya. Akan tetapi daripada ada struktur reguler yang berdasarkan hitungan 2, 4, 8, 16 etc., Arnawa menggunakan 7, 9, 13, etc. bahkan pada suatu karya ("Perbawa") hitungan gongan diubah pada setiap ulangan.

Sama halnya dengan laras. Ketika ia menciptakan "Komposisi  5" (2003), Arnawa ingin menggabungkan gamelan angklung (slendro 4 nada) dengan gamelan gong kebyar (pelog selisir, 5 nada). Tentu, kombinasi  dua jenis gamelan di Bali bukan sesuatu yang baru. Yang baru adalah cara Arnawa menggunakannya seperti suatu laras baru dengan sembilan nada. Dari pengalaman pertama pada tahun 2003 itu, ia sempat mengembangkan suatu jenis gamelan baru, yaitu "gamelan pendro", salah satu perangkat gamelan dengan gabungan kedua laras tersebut.

Karya "Perbawa" (2005) tersebut di atas masih perlu disebut secara spesifik. "Perbawa" untuk gamelan gong kebyar diciptakan sebagai pembukaan pementasan festival di Berlin pada tahun 2005. Pada bagian akhir karya tersebut, Arnawa  menciptakannya puncak karya tersebut dengan empat lapisan polimetris (empat tempo yang berbeda). Kesan kerumitan seperti misalnya pada kuartet gesek komponis Amerika Elliot Carter atau pada "player piano studies" ciptaan Conlon Nancarrow sempat muncul pada banyak ahli musik di Eropa ketika mereka mendengar karya Arnawa itu. Namun puncak kerumitan ini sama sekali tidak merupakan hasil dari suatu proses adaptasi, melainkan merupakan akibat alamiah dan logis dari struktur karya itu secara keseluruhan.

"Setiap karya baru harus menjadi akibat logis dari tuntutan materi musik itu sendiri" pernah diutarakan oleh filusuf musik Theodor W. Adorno, berkaitan dengan musik Arnold Schönberg pada awal abad ke 20 di Eropa. Madé Arnawa adalah contoh terbaik, bagaimana tuntutan seperti itu bisa terwujud dalam konteks budaya lain.

Dieter Mack

 
Karya
Kerang-Kering, Aneka aransemen kreasi  lelambatan seperti "Catur Rebah"  (2011)
Pabuan, Ten-Ten, Mewali, Tebog (2010)
Mayatupatus (2009)
Perbawa (2005)


Kontak
I Made Arnawa
Bjr. Tunjuk Utara, DesaTunjuk, Kec./Kab. Tabanan, Bali Bali
Phone:+62 813 384 38 348
Email:koplet.tunjuk@gmail.com
 
Kunjungi blog kami di: www.kelola.or.id/blog
Informasi terbaru kegiatan Kelola, Klik disini