>>
Djaduk Ferianto
Biografi
Djaduk Ferianto adalah anak seorang tokoh tari dan pelukis moderen Indonesia, Bagong Kussudiardja. Ia lahir pada tanggal 19 Juli, 1964 di Yogyakarta. Ayahnya Bagong Kussudiardja bukan hanya seorang koreografer dan pelukis, tetapi ia juga seorang pendidik kesenian. Di Yogyakarya, Bagong mendirikan sebuah padepokan seni yang di kenal dengan nama Padepokan Kesenian Bagong Kussudiardja (PKBK). Padepokan ini menampung murid-murid dari hampir seluruh Indonesia.

Sejak kecil Djaduk Ferianto hidup di lingkungan kesenian seperti itu bersama para siswa PKBK dan keluarganya di Yogyakarta. Dengan bekal latar-belakang seperti itu, selesai sekolah menengah Djaduk memasuki sekolah tinggi kesenian yang kemudian bernama Institut Seni Indonesia (ISI).

Di ISI Djaduk tidak mengambil jurusan musik (Barat), tetapi jurusan Seni Rupa dan Desain. Namun pada akhirnya Djaduk menekuni bidang musik dengan serius, sehingga akhirnya ia di kenal sebagai salah seorang tokoh dunia musik kontemporer Indonesia generasi tahun 1980an. Akhir-akhir ini Djaduk juga menjadi penggerak musik jazz di wilayah Yogyakarya dan sekitarnya. Salah satu festival jazz yang ia selenggarakan dengan menarik adalah “Ngayojazz” di Bantul.

Franki Raden
Profil
Latar-belakang Djaduk di bidang musik bisa di bilang otodidak. Namun justru dengan latar-belakang ini Djaduk mampu membentuk visi musikal yang luas dan terbuka. Pengalaman hidup dalam lingkungan kesenian tradisional, terutama kesenian tradisional Jawa yang sangat kuat menjadi bekal musikalnya yang unik. Bekal seni tradisionalnya ini nampak membuat bentuk ekspresi musikalnya selalu menyertakan elemen teatrikal. Di samping itu, pergaulannya dengan kalangan seniman dan cendekiawan Yogyakarta yang kritis pada masa Orde Baru juga mempengaruhi karya-karyanya yang seringkali mengandung kritik sosial dan politik terhadap rezim Orba. Karya-karya Djaduk sejak periode awal hingga saat ini masih memiliki ciri kuat ini. Musik baginya mungkin hanya menjadi titik-tolak dari bentuk ekspresinya yang secara alami menjadi teatrikal.

Contoh karya awalnya yang menampilkan ciri ini dengan kuat adalah “Ngeng-Ngeng”  yang dipentaskan dalam sebuah festival seni eksperimental Nur Gora Rupa di Surakarta di tahun 1993 dan “Kompi Susu” pada acara berjudul “Renungan Reformasi” di Kampus UI, Depok beberapa hari sesudah Soeharto turun. Sebelumnya karya ini juga di pentaskan dalam “Jakarta International Percussion Festival” di Pekan Raya Jakarta.

Pada “Ngeng-Ngeng” Djaduk menunjukkan kemampuannya yang prima dalam menggunakan bahasa teatrikal secara non-verbal. Dalam konteks teatrikal ini Djaduk menggunakan unsur suara secara efektif dan sangat ekspresif. Ditengah suasana politik yang represif pada masa Orba, bahasa gerak simbolik dan asosiatif yang digunakan Djaduk dalam “Ngeng-Ngeng”  untuk menyampaikan kritiknya terhadap rezim Soeharto membuat karya tsb sangat kuat dalam penyampaiannya.

“Kompi Susu” adalah karya yang secara kuat mengritik militarisme rezim Orba, namun penyampaiannya dibungkus dalam sebuah komedi musikal yang teatrikal. Boleh di bilang ini adalah karya Djaduk yang berhasil menggunakan idiom pop secara sangat efektif.

Di dalam pencahariannya, Djaduk adalah seorang seniman yang terus-menerus berusaha mencari sesuatu yang orisinal. Kegelisahannya sebagai pencipta nampak dari berbagai macam gaya bahkan genre kesenian yang ia gunakan sebagai bahasa ekspresinya. Karyanya dalam bentuk ansambel musik pertama-tama muncul bersama-sama Emha Ainun Najib, yaitu dalam bentuk ansambel yang bernama “Kyai Kanjeng”. Karya ini juga tidak lepas dari ciri yang tersebut diatas, yaitu teatrikal dan banyak mengandung kritik sosial dan politik. Keunikan Kyai Kanjeng sebagai sebuah ansambel adalah penggunaan alat musik Barat dan gamelan diatonik yang bercampur dengan menarik.

Lepas dari Kyai Kanjeng, Djaduk membentuk membentuk ansambelnya sendiri yang diberi nama Kua Etnika. Dengan Kua Etnika Djaduk boleh dibilang memulai sebuah periode yang baru dalam kariernya sebagai komponis, pemain dan aktor. Salah satu pertunjukkan Kua Etnika yang sukses secara komersiil adalah acara bulanan RCTI yang berjudul “Dua Warna” pada tahun 1990an. Dalam acara ini Djaduk bergabung dengan Aminoto Kosim dan menciptakan sebuah gaya musik fusion yang sedang popular pada saat itu.

Pada awalnya penampilan Kua Etnika hampir tidak menggunakan alat musik Barat samasekali, dan periode ini mungkin masih merupakan periode karya-karya Kua Etnika yang orisinal dan terbaik. Salah satu contohnya adalah karya-karyanya yang muncul dalam album “Orkes Sumpeg” (1997). Disini garapan Djaduk masih sangat mengandalkan teknik dan alat musik tradisional namun dalam bahasa musik yang moderen dan eksperimental, sehingga karya-karya tsb terasa orisinal dan mencuatkan proses pencarian kreativitas musik yang sangat mengagumkan. Dari segi idiom, penjelajahan orkestrasi, struktur dan tekstur kompisisi karya-karya yang ada di dalam album ini luarbiasa kayanya. “Orkes Sumpeg” dapat dikatakan adalah karya masterpiece Kua Etnika.

Dewasa ini gaya musik Djaduk di Kua Etnika telah semakin mendekati gaya musik pop komersiil dengan sedikit bumbu warna etnis, sehingga menjadi mirip dengan grup-grup serupa yang dewasa ini banyak bermunculan di Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Denpasar. Dengan kata lain, orisinalitas yang nampak pada periode awal Kua Etnika tidak kelihatan lagi.

Mengamati karir Djaduk Ferianto secara keseluruhan, ia bisa dikatakan adalah seorang seniman Indonesia yang sangat unik dan komplit. Perkembangan pribadi berkeseniannya merupakan sebuah cermin dari dinamika kehidupan seni di negeri ini sendiri. Thus Djaduk boleh dibilang adalah seorang anak zaman, sehingga kedudukannya di dalam sejarah dunia seni kontemporer Indonesia menjadi sangat khusus. Dengan kehadiran Djaduk Ferianto dan Kua Etnika, dunia musik Indonesia tampil dengan mantap di panggung musik internasional. Hal ini terbukti dengan keberhasilan Kua Etnika dalam pementasan-pementasannya di panggung mancanegara.
 
Franki Raden

 
Kontak
Djaduk Ferianto
Desa Kembaran RT 04 / RW 21 No. 146 Tamantirto - Kasihan Bantul Yogyakarta Special Region
Phone:+62811 269186
Email:djadukf@yahoo.co.id
Website:http://www.kuaetnika.com
 
Kunjungi blog kami di: www.kelola.or.id/blog
Informasi terbaru kegiatan Kelola, Klik disini