>>
Memet Chairul Slamet
Biografi
Komponis berperawakan ceking, berambut gondrong, ini sempat kondang sebagai illustrator musik film, sinetron, serta beberapa serial film kartun. Pernah pula menjadi music director bagi pertunjukan maestro mentalis Deddy Corbuzier. Namun di luar gemerlap musik hiburan itu, ia menggedor dengan perspektif penciptaan musik yang “tidak biasa”. Misalnya, menggelar konser bertajuk Sketsa Musik (1998) dan Jiwa-jiwa Mati (1999) dalam format orkestra nan megah berbalut gerak teatrikal.

Nafas dan aroma kampus ASDRAFI (Akademi Seni Drama dan Film), kampusya sebelum masuk Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, sangat kental. Lalu, dalam konsernya Nyanyian dari Seberang (1999),  ia menyuguhkan “sari musik Nusantara”. Di sini ia berujar, “Saya cuma ingin jujur dalam bermusik.” Sebuah kejujuran untuk menggarap khasanah “Musik Nusantara” sebagai basis penciptaannya—Sungguhpun ia dibesarkan dalam tradisi musik Barat yang absolut.

Dilahirkan di Kota Bangkalan, Madura, 16 januari 1958, komposer bernama lengkap Memet Chairul Slamet SA ini mewarisi darah ningrat Raja Madura, Cakraningrat VII. Ia anak kedua dari lima bersaudara keturunan pasangan RP. Yoesuf Sosroadipoetro dengan R.Ay. Halifati.

Perkenalannya dengan dunia musik ia lewati sedari kanak. Memet kecil kerap tertidur di pangkuan budhe-nya yang sedang berlatih gamelan. Di bangku sekolah dasar, ia mulai suka memainkan suling bambu. Bersama kakak dan adiknya, mereka pun membentuk ensambel trio. Memet bertidak sebagai pemain suling, sementara kakak dan adiknya memainkan bas kotak sabun dan kendang.

Ketika mereka sedang berlatih, pemusik Said Kelana, sahabat sang ayah, berkunjung. Said bilang, Memet bakal meneruskan bakat sang ayah. Dan kelak sejarah mencatat, peniup suling yang mengajar praktik flute dan komposisi di ISI ini mewarisi kebolehan sang ayah yang terkenal dengan panggilan “Pak Ocok si tukang trompet”. Meski sebenarnya ayahnya adalah pemain saxophone dan flute.

Menginjak remaja, Memet bergabung dengan grup kesenian MAYA Madura Young Artis di Surabaya. “Di situ saya berperan sebagai tokang soleng (pemain suling) yang kadang juga sebagai penari,” kisahya. Kelompok ini membuka jalan untuk menekuni lebih serius pada dunia musik. Setelah menginjak Jurusan Musik ISI Yogyakarta, ia mulai belajar komposisi pada Yoesbar Djaelani. Ia juga mengikuti workshop komposisi oleh Dieter Mack. Karya pertama yang dipresentasikan berupa ensambel string dan tiup kayu pada acara Festival IKI di Solo, 1981.

Karya demi karya dilahirkan kemudian. Bukan saja untuk musik konser, tapi juga untuk iringan tari maupun teater. Dipentaskan di forum-forum musik dalam maupun luar negeri. Ia juga mendirikan dan memimpin Indonesia Wind Orkestra (1983-1993). Pada tahun 2001 album bernuansa religi Orkes Dzikir ia terbitkan. Sementara konsernya “Doa Anak Negeri” di tahun 2003 memecahkan rekor MURI dengan melibatkan 1700 orang musisi.

Pada tahun 2004, Memet membentuk Gangsadewa Ethnic Ensemble. Kelompok ini memulai tampil pada Yogyakarta Contemporary Music Festival 2004, memainkan karyanya berjudul Slendro in A. Memet (dan Gangsadewa) memulai proyek musiknya dengan laku eksperimental: mengkomposisi beberapa bunyi—dengan tetap mempertahankan prinsip dasar musik agar nyaman didengar. Harmoninya mesti kuat dan masing-masing bunyi akan tetap punya karakternya. Sebab, menurutnya, setiap unsur bunyi yang dihasilkan dari instrumen-instrumen musik mewakili nilai budaya yang sangat tinggi. Alat musik modern maupun tradisional pasti mempunyai sejarah dan filosofinya masing-masing. “Saya memiliki tanggungjawab moral untuk menjaga keluhurannya dalam setiap karya. Sehingga dari komposisi yang dihasilkan harus tidak asal bunyi dan asal nempel saja.”

Bersama Gangsadewa, Memet selain telah melakukan konser di beberapa Negara asing juga menerbitkan album “Milangkori” (2006) dan “Mixture” (2008).
 
Joko S. Gombloh


 
Profil
Komposisi musik itu antara lain diramu dari berbagai alat musik tradisional Nusantara, juga perangkat musik modern. Petikan sape’ yang magis bersahutan dengan lembutnya suara flute. Sementara taganing Batak dan tuk-tuk Madura memberi aksentuasi ritme yang dinamis. Sebuah bangunan komposisi ekletik!

Demikianlah satu frase kompositoris yang terdengar dari salah satu repertoar dalam konser bertajuk “Nyanyian dari Seberang”. Sang komposer, Memet Chairul Slamet, tak terlalu kaget ketika beberapa ulasan media menyebut, “musiknya sangat Indonesia”.

“Saya jadi seperti terkesan nasionalis dan patriotis,” komentarnya. Dan Memet memang tidak mengelak dari sebutan tersebut. Banyak bebunyian instrumen tradisional  tanah air yang muncul mewarnai karya-karyanya. “Musik tanah air kita yang benar-benar kaya ragam dan warna,” katanya, “tak akan pernah kering menginspirasi bila kita serius menggarapnya.” Ia menyayangkan, musik-musik tradisi tersebut belum cukup akrab bagi masyarakat yang selalu dicekoki warna musik industri yang populis. “Saya bersyukur bila yang saya lakukan dapat sedikit mengedukasi sebagian selera penggemar musik,” ujarnya.

Ia juga tak merasa risi, jika kemudian ada yang mengkategorikan musiknya mengacu genre tertentu. Sebutlah, kontemporer, misalnya. Sebab, baginya, kontemporer—atau apapun istilahnya—hanyalah sekadar istilah. “Buat saya, berkarya musik ya mengikuti naluri kreatif. Bukan lantaran tujuan-tujuan untuk bikin genre atau aliran-aliran,” terangnya meski ia juga tak menyangkal akan adanya pengaruh warna musik dari beberapa komponis lain di dalam proses kreatifnya.

“Rahayu Supanggah, Slamet Abdul Syukur atau Suka Hardjana sempat menjadi mentor saya. Kalaupun karya komposisi saya kemudian belakangan ini cenderung dikatakan kontemporer, maka ini adalah proses transisi dan sublimasi dari perjalanan karya-karya sebelumnya,” terang Memet.

Di sisi lain, perhatiannya pada musik-musik tradisonal Nusantara bukan saja menjadikan karya-karyanya lebih bernuansa “pelangi”, tapi juga munculnya sikap kurmat (“homage”) pada liyan, the others. Ia menjadi plural di musik, juga di kehidupan. Ketika amuk rasial yang memperhadapkan rakyat Sampit dan Madura pecah, Memet membuat konser “Nyanyian Dari Seberang” yang mengolaborasikan musik tradisi Madura dan Dayak. “Ini jawaban saya atas keniscayaan harmoni lintas entik ketika terjadi konflik antarsuku di Kalimantan waktu itu.”

Ia bersyukur telah mendapat lingkungan yang kondusif untuk berkarya. Profesinya sebagai pengajar di kampus almamater, menyediakan komunitas yang “siap”—hampir semua pemusiknya di kelompok Gangsadewa adalah mahasiswa dan pegajar di sana. Tapi justru dengan lingkungan seperti ini menuntutnya untuk senantiasa mengasah kualitas musikal.

Dukungan dari keluarga juga tak kalah penting dalam mengukir karir musiknya. Istrinya, Ike Kusumawati, pemain piano, adik kelasnya yang selalu mengiringi saat ujian praktek flute semsa kuliah dulu, sangat mendukugnya. “Saya sering libatkan juga isteri sebagai additional player pada instrumen piano dan organ,” ujarnya tentang istri yang telah melahirkan anak semata wayangnya, Kidung Grasio Nada Perkasa. Di rumahnya yang sekaligus sebagai studio dan tempat mengajar musik privat itu, Memet merancang mimpi dan gagasan kompositorik.

Dan dari rumah dua lantai di satu gang kecil menembus jalan Suryodiningratan, Yogyakarta, itu lamat-lamat alunan musik terdengar. Gugusan melodiya sedikit aneh. Ia seperti hendak merangkaikan keindahan “baru”. Keindahan yang haya bisa dinikmati oleh yang memiliki rasa hormat pada musik “yang lain”, musik yag kadang terasa “tidak biasa” di telinga awam.

Bersama musik yang tidak gampang dijual ini, Memet Chairul Slamet, telah menambatkan pilihannya. Tak kurang 4 album musik telah diterbitkan, bukan keuntungan komersial yang dicapainya. Hormatnya pada dunia penciptaan musik (baru) melebihi hasrat ekonominya.
Joko S. Gombloh
Karya

Milangkori,  Ruang Bunyi (2006)
Nyanyian Nusa, Culture Movement,  Overture, Angin dari Bukit (2007)
Sound of Imagination, Tune, Mixture (2008)
Water N I (2009)
Menunggu “Batu Bernyanyi” (2011)


Kontak
Memet Chairul Slamet
Jl. Suryodiningratan Gg. Sadewa 36 A, Yogyakarta 55141 Yogyakarta Special Region
Phone:+62274 381257
Email:memetchairulslamet@yahoo.com
Website:http://www.geocities.com/memetchairulslamet
 
Kunjungi blog kami di: www.kelola.or.id/blog
Informasi terbaru kegiatan Kelola, Klik disini