>>
Rahayu Supanggah
Biografi
Awal tahun 1965. Tanggal dan bulannya tak ada yang ingat. Bung Karno mengirim  misi kesenian Indonesia ke China, Korea dan Jepang. Itu adalah rombongan misi kesenian Indonesia ke China terakhir. Sesudah itu hubungan diplomatik Indonesia-China beku. Di antara orang-orang tua rombongan duta seni negara itu terselip seorang anak kecil penabuh gamelan. Umurnya baru 15 tahun.  Ia biasa dipanggil, Panggah. Panggah kecil terpilih karena bakatnya. Nasib. Sejak saat itu, Panggah tak pernah lagi berhenti menyeberang lautan untuk muhibah seni. Panggah telah menjadi salah satu bagian jaringan seni global masakini. Rahayu Supanggah lahir dari keluarga dalang di Boyolali, 29 Agustus 1949. Bapak ibunya dalang. Kakek, nenek dan moyangnya dalang. Ia  juga dalang, by nature. Tapi ia mengaku, sejak kecil tak ingin dan tak bercita-cita menjadi dalang - apa lagi menjadi seniman. Belajar gamelan di Konservatori Karawitan Surakarta karena kesasar, katanya. Terpaksa, karena tak ada pilihan lain. Lawatan ke negeri tirai bambu, bunga sakura dam akar gingseng menjadi titik balik angin sorgawi. Seni gamelan sebagai jalan hidup lantas ia tekuni dengan penuh iman dan sukses hingga hari ini. Dari Konservatori Karawitan Panggah melanjutkan studi ke Akademi Seni Karawitan Indonesia Surakarta. Di kampus seni ini Panggah dikenal sebagai trouble maker kemapanan estetik. Ia selalu ingin mencoba jalan lain yang tak jelas : “..... ketidakjelasan adalah satu kemungkinan....“, katanya. Awal tahun 1970-an Panggah merampungkan studinya di kampus ASKI (kini STSI/ISI) Surakarta dengan gelar Sarjana Karawitan. Namun kiprahnya ternyata jauh melampaui dinding kampus.

Dekade 1970-an lantas menjadi jembatan pembuka yang menempa kemampuannya sebagai pengrawit, komponis, penata musik (arranger), penulis, peneliti, guru, manajer dan  budayawan di masa depan. Ia mulai menjadi sahabat dekat bagi semua orang yang memerlukan kerjasamanya. Tahun 1972-1974 ia tinggal di Australia sebagai guru karawitan. Tahun 1976 Panggah berkeliling Perancis, Belanda, Swis dan Jerman Barat sebagai seniman. Dengan karya spektakular Gambuh, tahun 1979,  pamornya sebagai komponis dibaiat dalam forum Pekan Komponis-Dewan Kesenian Jakarta. Pada tahun yang sama ia tampil di Royal Albert Hall bersama London Symphonieta Orchestra. Awal tahun 1980-an Panggah kesasar lagi ke Perancis. Ia melanjutkan studi di Universite de Paris VII sampai mendapat gelar Doktor untuk bidang etnomusikologi. Kini, dalam tataran akdemik, panggilannya bukan lagi Panggah - melainkan Prof. Dr. Rahayu Supanggah S.Kar. Sebagai guru besar di almamaternya ia mengajar berbagai mata kuliah studio praktek dan teoritik. Prof. Dr. Rahayu Supanggah adalah mantan Rektor dan Direktur Program Pascasarjana perguruan tinggi seni Indonesia di Surakarta itu.       

Ratusan komposisi, dan penataan musik telah ia ciptakan dalam  berbagai genre seni pertunjukan tari, film, teater, opera, wayang, dan tentu saja musik konser. Diantaranya yang terpenting adalah, Wayang Budha, Gambuh, Sesaji Raja Suya, Keli, Jayaningsih, Passege through the Gongs, Sacred Rhythm, Unraveling the Maya, Realizing Rama, Garap, Paragraph, Song of Beginning, Megalithikum Quantum. Tetapi di samping Wayang Budha, Gambuh dan Passage through the Gongs – karya Panggah yang paling spektakular adalah karya musik untuk teater dan opera   Mahabarata, King Lear, I La Galigo, Opera Jawa dan Purnati untuk kwartet gesek dan gamelan. Karya-karya tersebut digarap dengan berbagai seniman lintas negara yang otoritasnya diakui secara luas.
Suka Hardjana
(Dari berbagai sumber dan catatan pribadi)

 
Profil
Kronos adalah grup kwartet gesek Amerika paling bergengsi saat ini. Kolaborasi Rahayu Supanggah dengan kwartet legendaris itu adalah sebuah peristiwa langka. Dalam literatur musik dunia, belum pernah ada komposisi musik yang ditulis untuk kwartet gesek  dengan gender, kendang dan gong. Pada suatu ketika, Panggah berkolaborasi dengan sutradara terkenal Peter Brook mementaskan epik Mahabarta. Di kesempatan yang lain ia berkolaborasi dengan sutradara Ong Keng Sen untuk mementaskan naskah pujangga Shakespeare, King Lear. Kedua proyek tak saling berkaitan itu terlihat sebagai sebuah peristiwa unik silang budaya global antar seniman. Rahayu Supanggah juga berkolaborasi dengan sutradara kenamaan Robert Wilson untuk naskah terpanjang di dunia dalam sastra Bugis, I La Galego. Di waktu yang berbeda Panggah bekerjasama dengan sutradara lain yang tak kalah pamor, Garin Nugroho,  untuk produksi  film dan pentas drama musik Opera Jawa. Di periode waktu yang tak sama, Panggah berkolaborasi dengan sutradara legendaris film kolosal Sergio Leone - lalu dengan sutradara kenamaan Indonesia Teguh Karya.

Dalam teater tari Panggah juga berkolaborasi dengan seniman kenamaan Sardono W Kusumo dan Retno Maruti. Jangkauan wilayah kerja seni Rahayu Supanggah seperti tak bertepi. Di dalam catatan perjalanan karirnya ada juga tercantum nama-nama kondang yang tak saling  berkaitan. Di sana ada tercatat kerjasama kreatif dengan Warner Kaegl, Barbara Benary, Phillip Corner, Jody Diamond, Toshi Tsuchori, Katsura Kan, Jun Saptohadi, Suka Hardjana, Dwiki Dharmawan, Suprapto Suryadarmo, dan banyak lagi yang lain. Kerjasama lintasbatas Rahayu Supanggah dengan ratusan seniman dan ahli seni dari berbagai disiplin  - tak hanya membentuk jalinan kerjasama budaya, tetapi juga jalinan persahabatan dengan semua orang. Rumahnya di Karanganyar, desa Benowo, Solo menjadi semacam lokus budaya - tempat para sahabat bertemu untuk merancang kerja kreatif, berlatih dan bermain musik - atau hanya sekadar berguyon relaksasi dengan pak Panggah. Sesekali juga nampak hadir di rumah itu seniman-seniman terkenal Sardono W Kusumo, Garin Nugroho, Suka Hardjana, Idris Sardi, Nano dan Ratna Riantiarno, Dwiki Dharmawan dan masih banyak yang lain. Mahasiwa program pascasarjana ISI juga sering berkumpul di rumah itu. Pak Panggah memindahkan kuliah praktek dan teori seninya dari  kampus ke studio pendopo di rumahnya. Dari rumah di Benowo itu pula telah dikelilingkan puluhan karya terbaru musik masakini Indonesia ke banyak negara. Sebulan sekali berkumpul juga di sana empu-empu sepuh seni gamelan se Surakarta untuk bersama-sama memainkan gending-gending klasik kuno. Desa Benowo tak pernah senyap dari suara gamelan.

Prof.Dr. Rahayu Supanggah  juga melakukan berbagai penelitian musik rakyat Nusantara dengan topik The Musical of Javanese Bamboo Culture, Music of Ngada and Silka, Flores, The Music of Kwangkai, East Kalimantan, Music of Banjar Shadow Play, South Kalimantan. Di antara buku-bukunya yang telah diterbitkan berjudul Etnomusicology, Bothekan I, Bothekan II-GARAP, Mutar Muter, Gong, Pendidikan Seni Nusantara. Berbagai penghargaan dan awards terpenting yang telah diterima pak Panggah antara lain adalah, Best Composer dalam SACEM Film Festival Nantes 2006 di Perancis, Best Composer dalam Film Festival Asia di Hongkong, Best Composer dalam Festival Film Indonesia di Jakarta 2007, World Master on Music and Culture 2008 Seoul-Korea, Bintang Budaya Parama Darma dari Presiden R.I. 2010.  
                        Suka Hardjana
                        (Dari berbagai sumber dan catatan pribadi)
Karya
Anne, Cinta dan Sahabat (2011)
Tusuk Konde (2010)
Purnati, The Budha resides in Borobodhur, Detour to Paradise (2009)
Taklim, Garap, Iron Bed (2008)
Anane Ana ,  Trans Formation (2007)
Opera Jawa (2006)


Kontak
Rahayu Supanggah
Jl. Jayaningsih no. 13 RT 6/ RW 8 Benowo Ngringo Jaten, Karanganyer 57773 Central Java
Phone:+62 271 825473
Email:supanggah@yahoo.com
 
Kunjungi blog kami di: www.kelola.or.id/blog
Informasi terbaru kegiatan Kelola, Klik disini