>>
Blacius Subono
Biografi
Anak dalang jadi dalang. Begitu kata orang. Pengetahuan  mengalir berkesinambungan,  turun-temurun sebagai pakem. Dari moyang ke anak cucu. Zaman dulu sekolah  dalang belum ada. Keluarga dan lingkungan adalah guru. Guru pakem tradisional, menurut tuntunan dan tuntutan ruang dan waktu dalam wilayah budaya.Begitulah munculnya asal-usul berbagai gagrak seni  (gaya atau genre) Surakarta, Yogyakarta, Banyumasan, Jawa Timuran dan sebagainya. Semua mengacu pada pakemnya masing-masing. Blacius SUBONO dilahirkan dalam lingkungan keluarga tradisional seperti itu. BONO, begitu ia dipanggil, adalah ke tujuh dari 9 anak dalang yang semuanya menjadi seniman. Sang ayah  adalah dalang.  Ibunya penembang. Para ahli keturunan bilang, seorang anak seperti Bono - yang lahir dalam lingkungan keluarga wayang dan gamelan - telah tersentuh transmisi suara (musik) sejak masih dalam kerahiman ibunya. Tak mengherankan, sejak umur 6 tahun Bono kecil telah akrab dan diajari menabuh gamelan. Beserta saudara-saudara kandungnya, Bono kecil sering diajak ayahnya pergi mendalang. Pada umur 12 tahun Bono  sudah mulai dikenal sebagi dalang cilik yang sering pentas di muka umum.

Blacius Subono dilahirkan di daerah Klaten-Surakarta, 3 Februari 1954. Setelah lulus dari Konservatori Karawitan Surakarta, tahun 1977 Bono meneruskan studinya di Jurusan Seni Pedalangan - Akademi Seni Karawitan Indonesia, ASKI Surakarta. Dekade 1970-1980-an sekolah-sekolah seni pertunjukan di Indonesia seperti ASKI, ASTI, AMI dan IKJ, sedang marak. Bono dan rekan-rekannya menikmati buah pertumbuhan hasil pendidikan seni pada era itu. Awal 1980-an menjadi titikbalik bagi Subono. Pada saat itu B.Subono telah dikenal bukan hanya sebagai dalang dan pengrawit, tetapi juga sebagai pencipa dan spesialis garap gending untuk berbagai seni pertunjukan tari, sendratari, wayang kulit, wayang orang, teater, pertunjukan multimedia, dan gamelan konser.

Seperti para komponis Indonesia yang berlatar seni tradisi sebagai pijakan sumber  penciptaan,  B. Subono hidup dalam wilayah kreatif yang cukup luas – dengan salah satu kakinya tetap perpijak pada tradisi - kaki yang lain di wilayah budaya masakini. Di antara kedua dimensi budaya itu Subono dianggap sebagai inovator dalam penataan geding  tari, teater wayang, gamelan liturgi dan gending upacara. Instrumentarium dan orkestrasi karya-karya musiknya yang bertolak dari seni karawitan Jawa mendapat perlakuan tehnik permainan baru yang eksploratif. Ia menggarap penataan gending untuk berbagai seniman kenamaan seperti, dalang Ki Mantep Sudharsono, Ki Anom Suroto – seniman tari Sardono W Kusumo, Retno Maruti,  Elly dan Dady Luthan. Di samping garap aransemen dan komposisi musik untuk gending-gending pakeliran baru - Wayang Kancil, Wayang Sandosa, Wayang Wahyu, dan Wayang Multimedia  dicatat orang sebagai karya inovativ  Subono dalam seni pedalanagn. Di antara karya garap aransemen dan komposisi Subono yang terpenting adalah, Rudrah, Bismo Gugur, Karno Tanding, Bhagawatgita, Kunti, Drupadi, Swaro Pencon, Dalang goyang gendheng gendhung, Griting Rasa, Kalabendu, Gamelan Liturgi, Gending Pambuka, dan lain-lain. Sebagai pengrawit, dalang maupun pencipta musik B. Subono telah diundang untuk pentas di Amerika Serikat dan Kanada, Ingris, Perancis, Italia, Belanda, Australia, Singapura, Hong Kong dan Jepang. Blacius Subono adalah sarjana karawitan dan pedalangan yang berpengalaman. Saat ini ia mengajar seni pedalangan di almamaternya,  Institut Seni Indonesia, ISI Surakarta.
Suka Hardjana
(Dari berbagai sumber dan catatan pribadi)
Profil
Lingkungan dan keluarga berpengaruh pada seseorang. Blacius Subono lahir dari lingkungan keluarga dalang. Bono remaja belajar seni karawitan di konservatori - dan ilmu pedalangan di akademi. Dunia dalang memberi kemungkinan dua wahana sekaligus kepada seseorang. Yaitu, dunia  seni pedalangan yang sangat komplek - dan dunia seni karawitan yang rumit. Bagi seorang dalang, kedua wilayah itu - kelir dan gending - adalah sebuah kesatuan yang simultan. Ia tak terpisahkan satu sama lain. Ada wayang ada gending. Hanya dalam kondisi seperti itulah dunia seni pedalangan diniscayakan. Tetapi dalam kenyataannya, banyak dalang kurang menguasai gending. Sebaliknya, tak semua pengrawit  memahami dunia wayang. Banyak dalang muda kemudian justru mendalami seni karawitan di perguruan tinggi untuk melatih penguasaan gending sebagai basis seni pedalangan. Subono mempunyai keuntungan tiga basis seni yang membentuk dirinya. Ia lahir dari lingkungan keluarga dalang, belajar ilmu seni karawitan di konservatorium, dan melengkapi dirinya sebagai dalang di akademi seni. Pada masanya, ASKI Surakarta seperti layaknya sebuah koloseum gladiator yang menempa anak-anak muda menjadi calon seniman tangguh. Banyak seniman terkenal dibesarkan dari lingkungan koloseum ASKI itu. B. Subono salah satu diantaranya. Ia hidup dalam dunia inovasi penciptaan musik dan teater sebagai pengrawit, dalang, arranger, komponis dan scriptor sekaligus.

Karya-karya Subono dapat dipilah menjadi dua wilayah garap aransemen dalam bentuk ensemble dan orkestral. Karya-karya garapnya untuk  teater tari dan wayang melibatkan gamelan orkestra dalam format besar. Karakteristik seni drama musik sangat ditekankan pada khasanah karya-karya literatur tari dan teater wayang - yang banyak mengambil latar belakang legenda Mahabarata dan Ramayana. Sebagai iringan drama tari maupun teater wayang, garap orkestrasinya - yang bersumber dari repertoire dan literatur budaya musik gamelan -  cenderung masif dan ekspresif. Sebagai sebuah reinterpretasi budaya, Subono sangat piawai merancang konstruksi jalinan suara gending-gending masa lalu ke dalam wacana karakteristik baru yang lebih dramatis. Orkestrasi garapnya dalam karya tari Rudrah, Bismo Gugur, Ronggolawe Gugur, Kunti, Drupadi, Bhagawatgita, Boma, Hadeging Mataram, Banjaran Hadiwijaya, Savitri Padneswara, dan Matah Ati - menunjukkan kelihaian Bono dalam dramaturgi musik tari. Suara-suara orkestral yang masif dan dramatik juga kita jumpai dalam garap musiknya untuk wayang orang pada Seno Krido - atau pada berbagai garapnya untuk mengiringi dalang kondang Ki Mantep Sudharsono dan Ki Anom Suroto. Pada karya-karya ini - dengan segala kiat pembaruan musiknya – B. Subono masih kokoh berada pada lingkar-dalam budaya klasik Jawa. Ia juga menciptakan kurang lebih 16 karya gending-gending Gerejani untuk misa-misa Ekaristi, ibadah Natal dan Paskah.

Sebagai dalang, Subono juga menulis naskah dan iringan gending Wayang Wahyu yang bersumber dari kitab Injil. Tahun ini (2011) Blacius bahkan mulai menyadur teks Injili kedalam bentuk Macapat Jawa dan membuat Kidung Lelayu - semacam lagu ibadah kematian atau requiem. Khasanah garapnya di atas, jauh berbeda dengan karya-karya barunya yang cenderung terkesan eksperimental untuk gamelan ensemble. Karya-karya baru itu antara lain, Owah-Owah, Swara Pencon, Griting Rasa, Lingga Yoni, Karno Tanding, Saija dan Adinda, Kalabendu dan Suryo Gumlewang. Di sini ia merevisi ulang kebiasaan budaya Jawa dalam permainan musik gamelan. Hal serupa ia lakukan juga dalam eksperimennya pada wayang Kancil, wayang Sandosa, Wayang padat, Wayang Wahnyu, teater wayang multimedia dan tv. Blacius Subono adalah seorang pembaharu lingkara-dalam budaya Jawa.
 
                        Suka Hardjana
                        (Dari berbagai sumber dan catatan pribadi)

 
Karya
Pambuka Mitra Budaya Pl. dan Slendro, P. Pambuka Sadya Kusuma Bangsa Pl. 5, Boma, Hadeging Mataram, Matah Ati, Gendhing Gereja (2010)
15 Gendhing (2009)
Pambuka Sekar Laras Pelog 6 (2007)
Pambuka Darmokusuma Laras Pelog Pathet 6 (2006)
Pambuka Wayang Wahyu Pelog 6, Pambuka Sekar Budaya Nusantara Pl.6 (2005)


Kontak
Blacius Subono
Kulon RT 05 / RW 20 Jebres, Surakarta 57126 Central Java
Phone:+62 271 647140
Email:b_subono@yahoo.com
 
Kunjungi blog kami di: www.kelola.or.id/blog
Informasi terbaru kegiatan Kelola, Klik disini