>>
Gardika Gigih Pradipta
Biografi
Gardika Gigih Pradipta, lahir di Sragen, Jawa Tengah, 5 Agustus 1990. Gigih, begitulah panggilan akrabnya, merupakan putra tunggal dari pasangan Agus Purwoko, yang berprofesi sebagai peneliti tanaman dan Prasetyaningsih, guru Bahasa Jawa.

Gigih pertama kali berkenalan dengan musik bukan dari keinginnanya pribadi. Saat berusia 9 tahun, ia diikutkan kursus privat bermain keyboard oleh ibunya. Alasannya sederhana, agar anak semata wayangnya ini nantinya memiliki keahlian tambahan di bidang musik. Saat itu ibunya hanya berkata: “Orang pintar banyak, tapi kalau bisa main musik lebih menarik.”

Ternyata belajar musik bukanlah hal menyenangkan pada awalnya. Kerapkali jam latihan musik terasa membosankan. Baru setelah lima tahun lebih kursus berjalan, Gigih mulai menyukai musik dan tertarik untuk tekun mendalaminya. Saat itu, sang guru mulai mengajarkan ilmu harmoni dasar dan cara membuat melodi sederhana. Inilah ternyata kegiatan yang mulai memupuk rasa suka Gigih terhadap musik. Ditambah lagi, saat menginjak Kelas 2 di SMA Kolese De Britto Yogyakarta, banyak kegiatan musik dan berbagai kesenian lainnya di sekolah yang semakin menguatkan keinginan Gigih untuk serius menekuni dunia musik. Saat itu, ia paling senang jika membuat lagu dan bereksperimen dengan bunyi. “Sehabis pulang dari sekolah, biasanya membuat musik dengan program fruity loop di kamar kos. Kemudian juga dinikmati sendiri. Benar-benar tanpa beban. Kalau ada teman yang main ke kos dan ikut mendengarkan, rasanya sudah senang sekali,” kenang Gigih.

Untuk mengejar apa yang menjadi keinginan hatinya, usai tamat sekolah tahun 2007, Gigih memilih melanjutkan studi di Jurusan Musik, Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Ia mengambil minat studi utama Komposisi Musik, sesuai dengan kesukaannya sejak dari SMA, yakni bereksperimen dan berkreasi musik.

Di ISI Yogyakarta, Gigih belajar komposisi musik di bawah bimbingan Memet Chairul Slamet, Joko Lemaz, Haris Natanael, Budhi Ngurah, Royke B. Koapaha, dan Hadi Susanto. Selain minat utama komposisi, Gigih menekuni instrumen piano di bawah bimbingan Ike Kusumawati, Rianti Pasaribu, dan Agus Wahyudi.

Pada Januari 2011, Gigih lulus dari Jurusan Musik, FSP-ISI Yogyakartadengan karya tugas akhir “Impresi 6 Peristiwa”, sebuah komposisi untuk orkestra. Gigih menyelesaikan studinya dalam waktu tujuh semester.

Dimulai saat duduk di bangku kuliah, Gigih aktif dalam berbagai kerja kreatif di bidang komposisi musik, Ia aktif menjadi pengurus 6.5 Composers Collective, komunitas komponis muda di ISI Yogyakarta, yang banyak membentuk keberanian dan kreativitas Gigih dalam berkomposisi.

Ia juga pernah terlibat sebagai penggiat Art Music Today (AMT), komunitas musik seni baru. Dengan Art Music Today, Gigih pernah terlibat dalam kolaborasi dengan berbagai seniman. Di antaranya Agustus (2010), Gigih terlibat bersama Tristan Coleman, Gatot D. Sulistyanto, dan Tony Maryana dalam program “Menggelanggang”. “Menggelanggang” merupakan program Art Music Today (AMT) untuk residensi komponis selama sebulan dan pementasan karya electro-akustik dengan instrumen musik tradisi Indonesia di Auditorium Lembaga Indonesia Prancis, Yogyakarta. Program ini disponsori oleh Commonwealth of Australia.
Sejak tahun 2011 Gigih juga aktif sebagai anggota Forum Musik Tembi (FOMBI), di Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta. Di sini ia terlibat dalam kegiatan Festival Musik Tembi 2011, 2012 dan berbagai konser musik di Tembi Rumah Budaya. Fombi menjadi komunitas kreatif untuk menampung berbagai ide bersama rekan-rekan musisi muda yang tergabung di dalamnya.
Gigih berkolaborasi dengan Makoto Nomura, komponis, pianis, serta pemain pianika dari Jepang mementaskan duet pianika “Pak Dharma Bertemu Kawan Lama”, hasil komposisi kolaboratif di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta (2012). Sebelumnya, bersama Makoto Nomura, ia juga pernah beberapa kali pentas musik kreatif dengan anak-anak dan musisi lainnya, termasuk pentas kolaborasi improvisasi dengan Ai-note San, Kumiko Yabu, Memet Chairul Slamet, Jemek Supardi, Y. Subowo, di area pelataran Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada Juli 2011.

Agustus (2011), karya solo pianonya, “Kampung Halaman” , dipentaskan di Bank Art NYK, Yokohama-Jepang oleh Makoto Nomura. Persahabatan melalui musik dengan Makoto Nomura terus berlanjut. “Saya belajar banyak dari Makoto Nomura-san. Terutama belajar menikmati musik dan berbagi,” kata Gigih.

Februari lalu, komposisi Gigih untuk trio pianika berjudul “Melodi di Kampung” dimainkan oleh 3 musisi pianika Jepang: Makoto Nomura, Yusuke Kataoka & Suzuki Jun dalam konser musik bertajuk Kenhamo Trio Concert. Konser ini diselenggarakan oleh Japan Society for Contemporary Music, di Hyogo Prefectur, Osaka Jepang. “Melodi di Kampung” dipentaskan perdana bersama dengan karya-karya trio pianika dari dari 15 komposer, yakni Andrew Melvin, Ikeda Masako, Ojimi Ema, Kyama Hikari, Kondo Kohei, Takahashi Tetsuo, Motohide Taguchi, Nakamura Noriko, Nomura Makoto, Hiraki Satoru, Fukui Tomoko, Misawa Harumi, Minamikawa Mio, Morohashi Reiko.

Melalui karya “Ring Tone”, Gigih mendapat peringkat kedua, di Sfogato Art Festival, Krakow-Polandia. Berlanjut pada 18 Oktober 2012, karya “Night at My Homeland” untuk siter, suling, dan narator, dipentaskan Cultural Community Center Krakow dalam festival yang sama pada edisi ketiga. Dalam komposisi ini, Gigih terinspirasi suasana malam hari yang hangat di kampung dengan bunyi jangkrik yang begitu akrab di telinga. Ia ingin agar suasana kehangatan di kampung halaman bisa diperdengarkan nun jauh di sana.
Masih di tahun 2012, tepatnya pada bulan Maret Gigih mengadakan konser komposisi tunggal untuk format musik kamar dengan judul “Kita Memanggilnya dengan Momen” di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta. Kemudian berlanjut pentas 3 kota, dalam program “Menggelanggang#2” bersama Tristan Coleman - Australia, Gatot Danar & Tony Maryana - Indonesia) dan Warsana Kliwir. Dalam “Menggelanggang” pertama dan kedua, Gigih menggarap instrumen tradisi Indonesia dan instrumen barat. Ini merupakan pengalaman baru bagi Gigih membuat komposisi untuk instrumen tradisi Indonesia.

Pengenalan dengan musik tradisi berlanjut. Pada September 2012 Gigih ikut tergabung bersama beberapa pemusik tradisi Jogja, Suvarnabhumi yang tampil dalam Solo International Performing Arts (SIPA) 2012. Membawakan komposisi baru “Nyanyi Bumi” dengan berbagai instrumen tradisi Indonesia.

Di tahun 2012 pula, Gigih berhasil mendapat program Hibah Seni dari Yayasan Kelola untuk karya komposisi inovatif musik orkestra “Train Music” – The Journey of Indonesian Railways. Dalam konser ini, Gigih juga berkolaborasi dengan Eya Grimonia sebagai solis biola. Sebelumnya, violis muda berbakat dari kota Bandung ini pernah membawakan komposisi Gigih berjudul “Pertemuan dan Hujan” dalam pentas tunggalnya yang bertajuk “Konser Eya Grimonia di Jogja”, 26 Juli 2012 di Tembi Rumah Budaya.

Perjalanan Gigih terkini yakni sebagai peneliti musik, khususnya Musik Tradisi Indonesia dengan menjadi bagian dari Tembi Rumah Budaya. Ia aktif menulis di www.tembi.net untuk berita budaya. Gigih memang selalu merasa gelisah dalam dunia musik yang telah banyak menginspirasinya. Ia juga terus berkarya dengan banyak membuat karya musik untuk berbagai instrumen dan beragam gaya musik, serta mencoba berbagai kemungkinan kreatif dalam komposisi musik, “Musik itu perjalanan. Perjalanan hidup,” terangnya.
 
FG. Pandhuagie - penulis
 
Profil
Proses untuk Berbagi

Proses bermusik bagi Gigih menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan. Seringkali ‘bermain-main’, begitu pula proses pencarian ide musik. Seperti dalam proses menciptakan komposisi. Gigih kerap mencermati setiap suara kereta, menirukan ritmenya, serta hiruk-pikuk atmosfer stasiun. Hingga berhasil melahirkan 8 komposisi Train Music: “Cerita dari Perlintasan Kereta Api”, “Keretamu Berlalu dan Hujan pun Turun”, “Hujan dan Pertemuan”, “Percakapan dalam Kereta Malam”, “Kereta dan Perjalanan Impian”, “Kita kan Naik Kereta yang Sama”, “Kereta Senja”, “My Story-Sky Sailor”.

Sejauh ini, karya musik Gigih memang masih didominasi oleh karya musik orkestra, meski karya-karya tunggalnya dalam lingkup kecil saat meramu beragam komposisi musik melalui instrument pianika dan piano juga sudah banyak hadir ke ranah publik yang lebih luas saat tampil dibeberapa event musik komposisi.

Setiap proses menciptakan komposisi untuk musik orkestra tak lagi menjadi kendala berarti. Bekal ilmu orkestrasi yang diperoleh dari almamaternya sangat membantu dalam berkarya. Meski, semua itu hanya sebagai dasar. Pada akhirnya proses penciptaan kembali itu, alamiah mengikuti naluri dan rasa atau feeling, seperti yang kini mengalir deras di tubuhnya. Ilmu yang diperoleh sekedar pendukung menuangkan imajinasi dan mengembangkan potensi ide agar tak terjebak ke persoalan teknis.

Bagi Gigih, bermusik adalah proses saling berbagi. Lantas, apa esensi bermusik baginya? “Bermusik adalah tempat atau wadah bagi kita berbagi ide, rasa, semangat, kenangan, dan sebagainya. Maka saya juga meyakini bahwa antara proses kreatif, musik itu sendiri, dan audiens menjadi satu jalinan komunikasi yang asyik dan saling mengisi satu sama lain,” paparnya bersemangat suatu ketika.

Sebagai seorang komponis muda, Gigih tak mau membebani proses kreatif dengan berbagai pemikiran dan konsepsi musik yang berat. “Saya harus lebih terbuka dan fleksibel untuk bermusik. Apa yang saya rasakan, ide apa yang ada di kepala, saya tuangkan langsung dalam instrumen dan musik sesuai yang saya inginkan. Saya juga jarang berpikir mengenai aliran musik dan seringkali mengkombinasikan berbagai ide musik untuk mengolah komposisi,” tandasnya tegas seputar proses kreatif dalam bermusik.

Ruang dan Buny
i

Lebih jauh, terjun ke musik komposisi merupakan perjalanan yang tak akan pernah ada habisnya. Selalu ada yang baru saat kita ‘gelisah’ mencari ide-ide musik dalam ruang dan bunyi yang baru dan selalu ‘bermain-main’. Gigih seringkali mengawali proses kreatifnya dengan ‘mencoba-coba’ atau ‘mainkan saja dulu’. Misalnya, ketika jenuh membuat komposisi untuk piano, bisa saja bereksperimen, suara piano digabungkan dengan suara anak kecil dan kendang Jawa, dan sebagainya, begitu seterusnya.

Selain mendalami teori komposisi, Gigih juga acapkali belajar komposisi dari mana saja. Dari ritme dan suasana hujan, suara jangkrik dan kodok di persawahan, mendengarkan pengamen, obrolan di angkringan, dan sebagainya. Dari sini kemudian tercipta diantaranya, komposisi “Melodi di Kampung” (2012), “Kampung Halaman (Homeland)” (2011), “Pertemuan dan Hujan” (2011), “My Story” (2011). Baginya, dunia adalah sekolah komposisi nyata yang menawarkan kekayaan bunyi kreatif dan tak ada habisnya dalam ruang eksploratorium bunyi yang universal.

Dalam perjalanannya Gigih juga kerap dimintai bantuan untuk menggarap berbagai jenis musik untuk ilustrasi musik pengiring pertunjukan, seperti “Antenna” (2012), “Nyanyian Bumi” (2012), “Mr. Dharma Meet His Old Friend” (2011). Pada posisi ini, Gigih selalu terbuka dengan berbagai kemungkinan berinteraksi lewat karya komposisinya dengan membuka peluang untuk menciptakan ‘kompromi’ untuk sinergisitas karyanya. Beda dengan karya musik tunggal yang hadir lebih personal untuk mengakomodasi ide-ide musikalnya.

Setelah giat bertekun melakukan berbagai kemungkinan bermusiknya. Kini, proses kreatifnya mulai semakin terakomodasi setelah mendapat kesempatan untuk bergiat di Tembi Rumah Budaya sebagai Periset Musik untuk musik tradisi yang mulai menjadi ketertarikannya belakangan ini. Setelah melihat dikotomi antara musik Barat dan Timur. Serta diskursus musik tradisi Nusantara, pada akhirnya tak luput dari perhatiannya. Karena Gigih melihat masih ada banyak peluang yang bisa dimaksimalkan di ranah ini.

Sebagai komposer, Gigih mengakui yang kini terjadi di jagat World Music. Potensi menggali local genius dalam karya musik tradisi Nusantara sebagai sumber penciptaan musik kreatif, ibarat masih “Jauh Panggang daripada Api”. Hal ini melahirkan perenungan panjang dengan apa yang tengah suntuk digelutinya. Hingga, tak heran Gigih pun merasa terpanggil untuk mulai rajin melihat dan mengapresiasi berbagai pentas musik untuk memperkaya wacana dan wawasan sekaligus menjawab kegelisahannya dalam bermusik.
 
FG. Pandhuagie - penulis

 
Karya
2012
ANTENNA in collaboration with silent movie, for solo piano and pianica
MELODI DI KAMPUN for Pianica Trio
TRAIN MUSIC (8 movements) for Orchestra
NIGHT AT MY HOMELAN for Javanese sitar, piano, and electronic
NYANYIAN BUMI for ethnic music group ‘Suvarnabhumi’
KAPAL KAPAL KECIL (LITTLE SHIPS) for Javanese sitar, gong, kendang, narator, pianica, and clarinet
PRAYING for piano, two violins, and two cellos
I SEE THE MILITARY MARCHING BAND for piano, two violins, and two cellos
PIANIKA SEKETIKA for solo pianica

2011
KAMPUNG HALAMAN HALAMAN (HOMELAN) for Solo Piano
Mr. DHARMA MEET HIS OLD FRIEND, 10 compositions with Makoto Nomura for Pianica Duet
PERTEMUAN DAN HUJAN for solo violin and piano
MY STORY for solo oboe, piano, and chamber string
SATURDAY NIGHT FLYING TRAIN for soprano and piano
IMPRESI 6 PERISTIWA for Orchestra

2010
AH for Javanese siter, kendang, dodoghan, sinden (Javanese traditional singer) and electronic
VO-CAL for Soprano, Alto, Tenor, Bass
NIGHT CALL for electronic
LAMENT AND DUMMIES for solo cello

Kontak
Gardika Gigih Pradipta
Jl. Palagan, Desa Jatirejo, Dusun Sendang, RT/W: 05/22 No. 91B, Mlati Sleman 55285 Yogyakarta Special Region
Phone:+628562806161
Email:gigihrika@yahoo.co.id
Galeri
 
Kunjungi blog kami di: www.kelola.or.id/blog
Informasi terbaru kegiatan Kelola, Klik disini