Aloysius SuwardiBlacius SubonoDanis SugiyantoDedek WahyudiDjaduk FeriantoDody Satya EkagustdimanElizar KotoEmbi C. NoerFahmi AlatasGema SwaratyagitaI Made ArnawaI Nyoman AstitaIrwansyah HarahapIwan GunawanJoko Porong
| >> |
Gema Swaratyagita
Biografi
Lahir di Jakarta pada 8 Januari 1984, Gema Swaratyagita mengenal musik sejak usia dini. Oleh orangtuanya, pada usia 4 tahun Gema dimasukkan ke Kursus Musik Anak (KMA) Yamaha. Kemudian ia meneruskan pendidikan musiknya dengan mempelajari piano klasik dari sejumlah guru. Meski nenek dari ibunya berpendidikan musik—akibat pengaruh pendidikan Belanda—tapi kedua orangtua Gema tak memiliki latarbelakang musik sama sekali.
Soemitro Soeleiman, ayahnya, adalah seorang arsitek yang kemudian beralih profesi menjadi tenaga appraisal (penilai). Sedangkan ibunya, Etty Haryati, adalah seorang ibu rumah tangga yang sebelumnya bekerja di bidang akunting.
Ketika Gema belajar musik di Yamaha, bidang komposisi juga menjadi bagian dari materi yang diajarkan. Oleh Lena Yudha, guru pianonya, komposisi karya Gema dinilai bagus dan potensial untuk terus dikembangkan. Tapi Gema remaja tak pernah berpikir untuk menekuni bidang komposisi musik, karena kala itu ia sedang gandrung pada aktivitas band.
Selepas SMA pada 2002, Gema bersama keluarga hijrah ke Surabaya karena pekerjaan baru ayahnya. Di kota ini Gema meneruskan pendidikanya di dua tempat sekaligus, yakni Jurusan Sastra Indonesia Universitas Airlangga dan Pendidikan Sendratasik Jurusan Seni Musik Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Sekalipun harus menjalani dua kuliah, dan akhirnya menyelesaikannya selama 5,5 tahun secara bersamaan, tapi di sini pulalah Gema mulai berkecimpung di aktivitas seni, mulai dari teater, orkestra, hingga organisasi seni lainnya.
Adalah Endang Retnowati, seorang guru piano yang akhirnya mengembalikan gairah Gema dalam bermusik, khususnya musik klasik. “Beliau bisa ngembaliin feel dan cukup membantu dalam pendalaman pembawaan dan interpretasi musik, setelah sekian lama larut dalam aktivitas band,” ujar Gema. Sehingga, selama belajar dengan Endang, Gema merasa mulai kembali mendapatkan karakternya dalam bermain musik.
Keseriusannnya di bidang komposisi dimulai ketika ia mengerjakan sebuah proyek komposisi sebagai tugas akhir kuliahnya di UNESA. Walau sangat minim referensi apa pun tentang musik kontemporer, karya yang ia namakan Tarian Pelangi itu, kemudian juga turut ditampilkan di sebuah acara Dewan Kesenian Surabaya. Dalam proses pembuatan karya itulah, seorang teman menyarankannya untuk menemui Slamet Abdul Sjukur. Kala itu tahun 2007, dan inilah babak penting dalam kehidupan bermusik Gema. Ia menemukan musik dalam bahasa dan definisinya yang sangat lain. “Bagi dia (Slamet), aku bayi yang dia paksa minum bir,” kisahnya.
Slamet berpengaruh besar bagi Gema dalam membuat komposisi. Ia banyak memberikan semacam stimulus dalam proses berkarya, baik dari sisi analisis maupun struktur. “Kalau dulu garap komposisi masih seenaknya sendiri, sekarang agak mulai bisa merasakan ketepatan saat dan mempertimbangkan sisi menarik karya sehingga memiliki sesuatu yang berbeda,” ungkapnya. Konsep minimax yang dikembangkan Slamet juga cukup mempengaruhi Gema: untuk selalu memanfaatkan sesuatu yang minim menjadi maksimal. Slamet lebih banyak memberikan semacam stimulus, lalu membebaskan untuk mengembangkan dengan cara Gema sendiri. Sehingga, dalam membuat sebuah komposisi, ia mengarahkan untuk tetap mengarang sesuai dengan rasa dan apa yang ingin disampaikan.
Selain Slamet, Andri Wirawan adalah gurunya yang lain dalam bidang elektroakustik dan audio. Konsep berpikir yang diajarkan cukup mempengaruhi dalam logika dan pengolahan musik yang berhubungan dgn komposisi di audio. Andri Wirawan juga mengajak Gema di dalam kelompok Dusun Rhythm yang menggarap genre etnik kontemporer dengan mengeksplorasi berbagai ragam bunyi, seperti eksplorasi toy piano yang dipadukan dengan suara suling dan kertas mika.
Mengajar musik dan bekerja di radio sebagai reporter dan produser adalah kesibukkan utamanya kala itu. Karena itu, komposisi belum jadi fokusnya. Ia lebih banyak membantu musik teater di kampusnya. Baru ketika pada 2010 diselenggarakan Yogyakarta Contemporary Music Festival (YCMF), Gema mencoba untuk lebih serius di dunia komposisi dengan mengirimkan sebuah komposisi untuk flute dan oboe bertajuk Serpih Biru.
Di ranah lain, Gema juga sempat menggarap musik untuk film dan kolaborasi musik puisi. Ia sempat berproses bersama sastrawati Lan Fang dengan membuat lagu berdasarkan salah satu puisi dalam novelnya, sebelum akhirnya pada 2011 Lan Fang meninggal dunia karena kanker. Terakhir, ia membuat lagu dan berkolaborasi seni dari beberapa cerpen sastrawati Surabaya bernama Wina Bojonegoro, yang kemudian dipentaskan di sejumlah kota.
Pada 2011 karyanya Angin Rampas dibawakan oleh swarawati Ika Sulistiyanto dan pianis Lestika Madina Hasibuan dalam konser Made in Indonesia: Indonesia Young Composer Composition di Rumah Budaya Tembi, Yogyakarta. Pada tahun yang sama, Gema mendapat hibah proyek seni dari Yayasan Kelola bernama Empowering Woman Artist (EWA).
Soemitro Soeleiman, ayahnya, adalah seorang arsitek yang kemudian beralih profesi menjadi tenaga appraisal (penilai). Sedangkan ibunya, Etty Haryati, adalah seorang ibu rumah tangga yang sebelumnya bekerja di bidang akunting.
Ketika Gema belajar musik di Yamaha, bidang komposisi juga menjadi bagian dari materi yang diajarkan. Oleh Lena Yudha, guru pianonya, komposisi karya Gema dinilai bagus dan potensial untuk terus dikembangkan. Tapi Gema remaja tak pernah berpikir untuk menekuni bidang komposisi musik, karena kala itu ia sedang gandrung pada aktivitas band.
Selepas SMA pada 2002, Gema bersama keluarga hijrah ke Surabaya karena pekerjaan baru ayahnya. Di kota ini Gema meneruskan pendidikanya di dua tempat sekaligus, yakni Jurusan Sastra Indonesia Universitas Airlangga dan Pendidikan Sendratasik Jurusan Seni Musik Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Sekalipun harus menjalani dua kuliah, dan akhirnya menyelesaikannya selama 5,5 tahun secara bersamaan, tapi di sini pulalah Gema mulai berkecimpung di aktivitas seni, mulai dari teater, orkestra, hingga organisasi seni lainnya.
Adalah Endang Retnowati, seorang guru piano yang akhirnya mengembalikan gairah Gema dalam bermusik, khususnya musik klasik. “Beliau bisa ngembaliin feel dan cukup membantu dalam pendalaman pembawaan dan interpretasi musik, setelah sekian lama larut dalam aktivitas band,” ujar Gema. Sehingga, selama belajar dengan Endang, Gema merasa mulai kembali mendapatkan karakternya dalam bermain musik.
Keseriusannnya di bidang komposisi dimulai ketika ia mengerjakan sebuah proyek komposisi sebagai tugas akhir kuliahnya di UNESA. Walau sangat minim referensi apa pun tentang musik kontemporer, karya yang ia namakan Tarian Pelangi itu, kemudian juga turut ditampilkan di sebuah acara Dewan Kesenian Surabaya. Dalam proses pembuatan karya itulah, seorang teman menyarankannya untuk menemui Slamet Abdul Sjukur. Kala itu tahun 2007, dan inilah babak penting dalam kehidupan bermusik Gema. Ia menemukan musik dalam bahasa dan definisinya yang sangat lain. “Bagi dia (Slamet), aku bayi yang dia paksa minum bir,” kisahnya.
Slamet berpengaruh besar bagi Gema dalam membuat komposisi. Ia banyak memberikan semacam stimulus dalam proses berkarya, baik dari sisi analisis maupun struktur. “Kalau dulu garap komposisi masih seenaknya sendiri, sekarang agak mulai bisa merasakan ketepatan saat dan mempertimbangkan sisi menarik karya sehingga memiliki sesuatu yang berbeda,” ungkapnya. Konsep minimax yang dikembangkan Slamet juga cukup mempengaruhi Gema: untuk selalu memanfaatkan sesuatu yang minim menjadi maksimal. Slamet lebih banyak memberikan semacam stimulus, lalu membebaskan untuk mengembangkan dengan cara Gema sendiri. Sehingga, dalam membuat sebuah komposisi, ia mengarahkan untuk tetap mengarang sesuai dengan rasa dan apa yang ingin disampaikan.
Selain Slamet, Andri Wirawan adalah gurunya yang lain dalam bidang elektroakustik dan audio. Konsep berpikir yang diajarkan cukup mempengaruhi dalam logika dan pengolahan musik yang berhubungan dgn komposisi di audio. Andri Wirawan juga mengajak Gema di dalam kelompok Dusun Rhythm yang menggarap genre etnik kontemporer dengan mengeksplorasi berbagai ragam bunyi, seperti eksplorasi toy piano yang dipadukan dengan suara suling dan kertas mika.
Mengajar musik dan bekerja di radio sebagai reporter dan produser adalah kesibukkan utamanya kala itu. Karena itu, komposisi belum jadi fokusnya. Ia lebih banyak membantu musik teater di kampusnya. Baru ketika pada 2010 diselenggarakan Yogyakarta Contemporary Music Festival (YCMF), Gema mencoba untuk lebih serius di dunia komposisi dengan mengirimkan sebuah komposisi untuk flute dan oboe bertajuk Serpih Biru.
Di ranah lain, Gema juga sempat menggarap musik untuk film dan kolaborasi musik puisi. Ia sempat berproses bersama sastrawati Lan Fang dengan membuat lagu berdasarkan salah satu puisi dalam novelnya, sebelum akhirnya pada 2011 Lan Fang meninggal dunia karena kanker. Terakhir, ia membuat lagu dan berkolaborasi seni dari beberapa cerpen sastrawati Surabaya bernama Wina Bojonegoro, yang kemudian dipentaskan di sejumlah kota.
Pada 2011 karyanya Angin Rampas dibawakan oleh swarawati Ika Sulistiyanto dan pianis Lestika Madina Hasibuan dalam konser Made in Indonesia: Indonesia Young Composer Composition di Rumah Budaya Tembi, Yogyakarta. Pada tahun yang sama, Gema mendapat hibah proyek seni dari Yayasan Kelola bernama Empowering Woman Artist (EWA).
Roy Thaniago - penulis
Profil
Mungkin karena pernah terlibat dalam kegiatan teater di kampus, secara tidak sadar musik-musik karya Gema Swaratyagita banyak mengeksplorasi corak teater. Bukan, bukan musik untuk menjadi ilustrasi pementasan teater. Tapi struktur maupun tampilan musiknya kerap diekspresikan secara teatrikal. Cara tutur dan logika dalam teater menginspirasinya dalam mengarang komposisi.
Misalnya pada karya Angin Rampas (2011). Ini karya untuk piano dan sopran. Pada vokal, ada bagian yang dinyanyikan lewat kata-kata tanpa nada, ada yang sprechgesang, dan ada yang hanya mengekspresikannya seperti membaca puisi atau dialog dalam teater. Sang pianis juga diberikan bagian agar ia juga ikut bersuara sambil bermain piano—juga disuarakan tanpa nada. Kata-kata tersebut berbunyi: "Kuberlari...kuberlari...", yang harus diekspresikan seperti orang dikejar-kejar dan harus terus berlari.
“Saya lebih suka membuat kata-kata atau lirik yang dibuat seperti sedang berdialog, baik hanya melalui musik atau melalui kata-kata,” terang Gema.
Angin Rampas adalah karya Gema yang terinspirasi dari penyakit asma yang dimilikinya. Asma itulah yang menjadi materi utama di komposisi ini: suara orang bernapas, hingga sesak napas. Ia mengeksplorasi berbagai bentuk suara pernapasan. Sedangkan pada piano ia menerapkan pengembangan dari beberapa motif yang disiapkan, serta teknik memukul senar dan badan piano untuk memberi efek tegang dan tergesa. Pada karyanya ini, ia ingin menggambarkan kesibukkan manusia dalam beraktivitas, sampai tak ada sedikit waktu pun untuk bernafas.
Karyanya yang lain, Swaraga (2012), adalah karya yang terdiri dari tiga bagian: CUKo-CUKi, Cermin, dan Roda-Rodi. Lewat karyanya ini, Gema ingin mengumpat. Ia resah atas keadaan manusia yang semakin diperbudak oleh uang. Karena itu, umpatan “jiancuk” diolahnya menjadi materi soundscape untuk bagian CUKo-CUKi, dengan juga melibatkan dominasi suara koin, keadaan kota, dan ungkapan-ungkapan khas masyarakat Surabaya.
Sedangkan pada bagian Cermin yang menggunakan instrumen piano dan darbuka, pada beberapa bagiannya Gema terapkan konsep improvisatoris dengan memberikan kaidah di tiap strukturnya. Ia mengembangkan motif yang ada melalui teknik canon, mirror, dan juga ritmis yang berseberangan. Pada bagian Roda-Rodi, ia gunakan piano, rebab, dan darbuka, dengan konsep minimalis yang statis. Dengan menggunakan metafora roda yang statis berputar dari atas ke bawah, nada dan ritmik yang ada ia gunakan terus secara berulang, dengan penambahan efek delay dan distorsi dari piano.
Karya sepanjang 40 menit yang dibuat untuk acara pentas seni Pasar Seni Lukis Indonesia, Balai Pemuda Surabaya, ini dibuat Gema dalam kondisi mendadak. “Tapi saya cukup suka hasilnya.” Ceritanya, ketika dihubungi untuk membuatnya, ia sedang mengikuti workshop soundscape bersama Piet Hien. Dalam situasi yang membutuhkan kefokusan pada dua hal tersebut, akhirnya ia libatkan karya musik soundscape hasil workshop menjadi bagian dari materi komposisinya. “Sebenarnya konsep ini sudah ada lama, dan saya akhirnya menggarapnya dalam sekejap.”
Misalnya pada karya Angin Rampas (2011). Ini karya untuk piano dan sopran. Pada vokal, ada bagian yang dinyanyikan lewat kata-kata tanpa nada, ada yang sprechgesang, dan ada yang hanya mengekspresikannya seperti membaca puisi atau dialog dalam teater. Sang pianis juga diberikan bagian agar ia juga ikut bersuara sambil bermain piano—juga disuarakan tanpa nada. Kata-kata tersebut berbunyi: "Kuberlari...kuberlari...", yang harus diekspresikan seperti orang dikejar-kejar dan harus terus berlari.
“Saya lebih suka membuat kata-kata atau lirik yang dibuat seperti sedang berdialog, baik hanya melalui musik atau melalui kata-kata,” terang Gema.
Angin Rampas adalah karya Gema yang terinspirasi dari penyakit asma yang dimilikinya. Asma itulah yang menjadi materi utama di komposisi ini: suara orang bernapas, hingga sesak napas. Ia mengeksplorasi berbagai bentuk suara pernapasan. Sedangkan pada piano ia menerapkan pengembangan dari beberapa motif yang disiapkan, serta teknik memukul senar dan badan piano untuk memberi efek tegang dan tergesa. Pada karyanya ini, ia ingin menggambarkan kesibukkan manusia dalam beraktivitas, sampai tak ada sedikit waktu pun untuk bernafas.
Karyanya yang lain, Swaraga (2012), adalah karya yang terdiri dari tiga bagian: CUKo-CUKi, Cermin, dan Roda-Rodi. Lewat karyanya ini, Gema ingin mengumpat. Ia resah atas keadaan manusia yang semakin diperbudak oleh uang. Karena itu, umpatan “jiancuk” diolahnya menjadi materi soundscape untuk bagian CUKo-CUKi, dengan juga melibatkan dominasi suara koin, keadaan kota, dan ungkapan-ungkapan khas masyarakat Surabaya.
Sedangkan pada bagian Cermin yang menggunakan instrumen piano dan darbuka, pada beberapa bagiannya Gema terapkan konsep improvisatoris dengan memberikan kaidah di tiap strukturnya. Ia mengembangkan motif yang ada melalui teknik canon, mirror, dan juga ritmis yang berseberangan. Pada bagian Roda-Rodi, ia gunakan piano, rebab, dan darbuka, dengan konsep minimalis yang statis. Dengan menggunakan metafora roda yang statis berputar dari atas ke bawah, nada dan ritmik yang ada ia gunakan terus secara berulang, dengan penambahan efek delay dan distorsi dari piano.
Karya sepanjang 40 menit yang dibuat untuk acara pentas seni Pasar Seni Lukis Indonesia, Balai Pemuda Surabaya, ini dibuat Gema dalam kondisi mendadak. “Tapi saya cukup suka hasilnya.” Ceritanya, ketika dihubungi untuk membuatnya, ia sedang mengikuti workshop soundscape bersama Piet Hien. Dalam situasi yang membutuhkan kefokusan pada dua hal tersebut, akhirnya ia libatkan karya musik soundscape hasil workshop menjadi bagian dari materi komposisinya. “Sebenarnya konsep ini sudah ada lama, dan saya akhirnya menggarapnya dalam sekejap.”
Roy Thaniago - penulis
Karya
- Tarian Pelangi (2007), untuk piano dan cello.
- Tanpa Cinta (2008), dari puisi Lan Fang dalam novel Lelakon.
- Serpih Biru (2010), untuk flute dan oboe.
- Angin Rampas (2011), untuk piano dan vocal.
- Cermin (2012), untuk piano dan darbuka.
- Cuko Cuki (2012), untuk soundscape.
- Swaraga (2012), untuk soundscape, dua swarawati, piano, rebab, dan darbuka.
- Jendela (2012), artsong dari puisi Joko Pinurbo untuk piano dan tenor.
- Batu (2012), artsong dari puisi Sutardji Calzoum Bachri untuk piano dan soprano.
- Tanpa Cinta (2008), dari puisi Lan Fang dalam novel Lelakon.
- Serpih Biru (2010), untuk flute dan oboe.
- Angin Rampas (2011), untuk piano dan vocal.
- Cermin (2012), untuk piano dan darbuka.
- Cuko Cuki (2012), untuk soundscape.
- Swaraga (2012), untuk soundscape, dua swarawati, piano, rebab, dan darbuka.
- Jendela (2012), artsong dari puisi Joko Pinurbo untuk piano dan tenor.
- Batu (2012), artsong dari puisi Sutardji Calzoum Bachri untuk piano dan soprano.
Kontak
Gema Swaratyagita
Jl. Karang Menjangan no. 54 Surabaya 60286 East Java
| Phone | : | 0817-9319-262 |
| : | swaratyagita@gmai.com |








