Pardiman Djoyonegoro
Biografi
Pemusik ini menambah ikon seni panggung khas Mataraman—satu wilayah kultural bergaya keraton Mataram-Jawa—di antara kelompok kesenian dari Yogyakarta yang lain, seperti Teater Jeprik, Gandrik, atau Orkes Keroncong Sinten Remen yang berangkat dari khasanah budaya Mataraman.
Datang bersama kelompok paduan suaranya yang bertabur citra Jawa—lewat kostum beskap, iket blankon, baju sorjan, atau kain lurik, selain tema lirik yang berbahasa Jawa—ia mengaduk-aduk audiens dengan ciri penmpillan yang ndagel, komedik, satire, namun digarap dalam adonan musik vokal yang kompleks.
Pardiman Djoyonegoro, demikian pemilik kelompok musik ini, mengembangkan gairah musiknya dari wilayah tradisi gamelan menuju olah vokal bergaya paduan suara: acapella. Ia lantas menamai kelompok vokal bentukannya ini sebagai “Acapella Mataraman”. Gaya komedi ala “dagelan mataraman” yang bercirikan humor-humor segar yang dikenal dengan guyon maton parikeno (lelucon asal kena, dan logik) itu, rupanya menjadi perhatian utama Pardiman ketika menggarap kelompok ini. Pardiman lantas identik dengan Acapella Mataraman, karena memang ia arsitek sekaligus ‘kepala suku’ di kelompok musik vokal ini. Bangunan lirik yang nakal dan cerdas itu, adalah core dari Acapella Mataraman.
Mengaku terlahir di sebuah desa di ujung selatan Kabupaten Bantul, Yogyakarta, sosok yang juga akrab dengan sapaan Fredy Pardiman ini terlahir memang digariskan sebagai seniman musik. Musik telah diakrabinya sejak kecil, terutama musik gamelan, juga wayang kulit. Dan lantaran garis hidup telah menuntunnya sebagai pemusik, maka cita-cita untuk menjadi ahli servis sepeda ontel amblas, dan mimpinya untuk memiliki bengkel sepeda pun terkubur.
Sadar potensi seninya lebih menonjol, ia kemudian memilih menggeluti musik karawitan dengan belajar di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Yogyakarta, tahun 1984. Di sini, pengetahuan dan kemampuannya memainkan gamelan semakin yahut. Ia mulai berani mengajar karawitan di sekolah-sekolah sekitar kampungnya, juga pada kelompok ibu-ibu PKK. Untuk mempertajam ketangkasannya bermusik, Pardiman pun ngangsu kawruh di beberapa padepokan, seperti Mardawa Budaya Pujokusuman, Suryo Kencana, higga Padepokan Seni Bagong Kussudiardja.
Pada tahun 1988, bersama beberapa pemusik tradisi lainnya, pardiman mendirikan Pusat Latihan Karawitan (PLK) Yogyakarta. Lembaga yang dipimpin oleh musikus Otok Bima Sidharta ini terkenal kreatif dan sohor dalam mengembangkan kebaruan musik karawitan. Pardiman pun ambil bagian dalam proses penciptaan komposisi baru. Ia terlibat dalam rekaman album Tembang Dolanan Kreatif dan Langgam Jawa Kreatif (diproduksi oleh Bintang Fajar Record). Salah satu langgam Jawa ciptaannya yang berjudul “Langen Sore” dinyanyikan oleh Waljinah—penyayi keroncong tersohor itu.
Dari SMKI ia meneruskan kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, di jurusan yang sama: Seni Karawitan. Di kampus ini, jejaring musiknya kian terbuka. Pergaulannya dengan pemusik dan komposer lintas disiplin semakin luas dan intensif. Ia mulai terdorong untuk menguatkan eksistensi diri. Ia kian bergairah menciptakan karya sendiri, baik untuk konser maupun iringan tari. Dan sebuah penghargaan sebagai Penata Musik Terbaik diraihnya pada Festival Kesenian Daerah Tingkat Nasional lewat karya koreografi ”Kuntu Tiflan” (1995). Di luar itu, Pardiman juga membuat iringan musik tari “Bedhaya Indonesia Emas” karya RM. Kristiadi (1995), ”Sang Aji” karya Bagong Kusudiardja, komposisi musik “Pathet Ruda Peksa” (2001), dll. Komposisinya yang berjudul “Tong-Tong” mendapat penghargaan garap musik terbaik pada Festival Musik Tradisi Nusantara (2000).
Setahun setelah tamat dari ISI (1995), ia aktif mendukung karya-karya musik Djaduk Ferianto dan bergabung dengan kelompok Kua Etnika. Di sini, Lelaki kelahiran 07 Agustus 1968 ini mendapat nama panggilan Fredy. Jadilah ia Fredy Pardiman. Kua Etnika telah mendewasakan sekaligus mematangkan karir musiknya. Mereka memberi suport untuk menggelar karya musik vokalnya yang telah disiapkan cukup lama. Dan konser bertajuk “Sketsa-sketsa Bunyi’ itu menandai awal musik mulut Fredy Pardiman yang kemudian dikenal sebagai Acapella Mataraman.
Saat ini—di studionya Omah Cangkem yang sekaligus menjadi hunianya di Dusun Karangjati Rt 07 Bangunjiwo Kasihan Bantul Yogyakarta—Pardiman bukan saja sibuk oleh aktifitas Acapella Mataraman, tapi juga menyiapkan musik untuk pertunjukan tari, kethoprak, wayang, dan teater di samping kepadatannya sebagai fasilitator atau memberi workshop musik di sekolah-sekolah. Ia bahkan juga membentuk kelompok kerja Sragam ABG (Srawung Gamelan Ayo Bermain Gamelan) yang bergerak di wilayah anak-anak.
Joko S. Gombloh
Profil
Sekali waktu, di tahun 2008, Pardiman bersama kelompoknya Acapella Mataraman, pernah membuat merinding tapi juga terbahaknya audiens. Ini terjadi saat ia hendak mengikrarkan NKCI. Maksudnya, Negara Kesatuan Cangkem Indonesia. Audiens di gedung pertunjukan itu pantas kaget, meski sebenarya tak perlu risau karenannya. Sosok yang mengusung NKCI ini memang terbiasa ndagel alias melawak. Ikrar dalam pertunjukannya di Festival Salihara 2008 kali itu, ternyata hendak mengkritisi wajah bangsa, lewat karya-karya musik cangkemnya yang parodik.
Pardiman yang menjadi arsitek kelompok tersebut, memang dikenal mahir melucu—meski tak diorientasikan sebagai seorang komedian. Karya-karyanya dalam Acapella Mataraman sepenuhnya berupa komposisi musik, tepatnya musik vokal, sungguhpun dikemas secara komedik.
Sepintas, kelompok yang dilahirkan sekitar lima belas tahun silam itu tak berbeda dengan grup acapella pada lazimnya. Hanya saja, di sini Pardiman mengangkat spirit musik tradisi sebagai basis penciptaannya. Ia menggarapnya secara lebih kreatif dan progresif. Cangkem alias mulut para pemusiknya menirukan suara alat musik etnik.
Pardiman bilang, format musik ini lahir dari situasi yang serba terbatas: terbatas alat musik, tempat latihan, pemusik, dan uang. Ini dialaminya ketika masih kuliah, saat ia kesulitan untuk mencari pemusik dan tempat latihan untuk membuat iringan musik tari atas permintaan seorang mahasiswa Jurusan Tari. Pardiman kebingungan dan sangat tertekan lantaran dikejar waktu. Dalam situasi tergencet itu, ia memutuskan untuk tidak menggunakan gamelan sebagai alat musik. Ia mentransformasi suara-suara gamelan ke dalam bentuk permainan vokal. Hasilnya, sebuah permainan ”gamelan cangkem” yang justru jauh lebih memikat audiens.
Dalam format gamelan cangkem tersebut, Pardiman menata harmoni dari bermacam melodi yang bersumber pada tembang dan bentuk olah vocal tradisi Nusantara. Malah, ia juga melakukan eksplorasi kata (bermakna ataupunn tidak) dan eksplorasi bunyi alat-alat musik yang ditransformasi ke dalam olah vokal. ”Semua suara yang keluar dari mulut manusia, disikapi sebagai sumber bunyi yang potensial,” terang Pardiman. Sebab itu, seburuk apapun suara, bisa diolah menjadi materi yang ciamik olehnya. Kesemuanya ditata dan digarap dalam komposisi musik.
Pardiman pun melenggang dengan gamelan cangkem yang dinamai ”Acapella Mataraman” itu. Tampil perdana pada saat Dies Natalis ISI tahun 1992. Istilah Mataraman merujuk pada permainan komedi gaya “dagelan mataraman” yang melahirkan humor segar, guyon maton parikeno. Kelak, kekuatan bunyi dengan lirik nakal namun cerdas ini menjadi daya tarik utama kelompok ini. ”Semua suara yang keluar dari mulut manusia, disikapi sebagai sumber bunyi yang potensial,” tegas Pardiman yang akrab dipanggil Fredy Pardiman ini.
Selanjutya, karya musik mulutnya lahir bergelombang. Karya-karya tersebut antara lain dipentaskan dengan tajuk “Sketsa-Sketsa Bunyi” (1997). Dua repertoar yang sangat fenomenal dalam pertunjukan itu adalah nJeplak Thung-thung dan Oral Kambang. Repertoar lainnya yang tak kalah elok di antaranya: Pucung Millenium, Malioboro, Melodi Gangga, Derap Keparat, Meong-meong, Ombak, Sejenak ke Bali kemudian ke Jawa Lagi, Cangkem Bertaburan, Cokolokomok Suku Nga Fredy-nan, Jalan Jogja Tolak Belok, The Song of Me-liuk-liuk, Flower Reading Four.
Karya-karya tersebut pernah mampir di berbagai forum atau festival musik Nasional maupun manca negara, misalnya di Singapore Arts Festival. Mereka pernah pula menggelar tour Trah Cangkem Tepung Dunung di kota-kota besar di Jawa. Juga, berkolaborasi dengan penyanyi opera dari Prancis Marie-Laure Frinzi.
Freddy semakin giat mengembangkan sekaligus menularkan kemampuan musik mulut saat memiliki studio sendiri (1998). Tempat workshop yang dinamai Studio Omah Cangkem ini kenyataannya bukan sekadar tempat berlatih vokal. Dengan para anggotanya yang muda-muda dan dinamis, Fredy juga mengadakan diskusi, risert, sampai mengadakan trip ke beberapa situs kebudayaan. Tak lupa ia juga membuat komposisi gamelan. Kumpulan komposisi gamelannya dipentaskan dalam pertunjukan ”Kangen Simbok” (2009). Sebanyak 18 nomor komposisi ditampilkan di Gedung Sosietet Taman Budaya Yogyakarta itu.
Joko S. Gombloh
Karya
Konser musik "Wayang-wayang Kertas" (2011)
Performance Art "Gita Duka untuk Ki Hajar Dewantara" (2010)
Opera Acapella "Ken Arok" (2010)
Konser Karawitan "Kangen Simbok" (2009)
Musik untuk ilustrasi film pendek "Opera Tobong" (2008)
Penata musik Kethoprak kolosal " Mangkubumi Mbangun Kutha Wana Asri" (2007)
Performance Art "Gita Duka untuk Ki Hajar Dewantara" (2010)
Opera Acapella "Ken Arok" (2010)
Konser Karawitan "Kangen Simbok" (2009)
Musik untuk ilustrasi film pendek "Opera Tobong" (2008)
Penata musik Kethoprak kolosal " Mangkubumi Mbangun Kutha Wana Asri" (2007)
Kontak
Pardiman Djoyonegoro
Karang Jati Rt 07 Bangunjiwo, Kasihan Bantul, Yogyakarta Yogyakarta Special Region
| Phone | : | 08164264297 |
| : | cangkeman@yahoo.com | |
| Website | : | www.worldcangkem.com |








