Fahmi Alatas
Biografi
Achmad Fahmi Alatas lahir di Jakarta pada 8 Juli 1959. Ayahnya, Hasan Alatas, adalah seorang pedagang, dan sang ibu, Nafisah Alaydrus, yang bekerja sebagai ibu rumah tangga berasal dari keluarga ulama. Bagi Fahmi, warisan paling bernilai dari kedua orangtuanya adalah tradisi membaca buku. Kebiasaan itulah yang berperan dalam perjalanan hidupnya kelak.

Fahmi kecil mengenal musik dari ayahnya yang punya suling, dan dari sana ia mulai tertarik belajar gitar secara otodidak. Sedangkan ibunya yang menyenangi musik Klasik Barat, kerap memutarkan musik Schubert dan Bach kepada Fahmi. Dan dengan paman dari ibunya yang gandrung pada musik The Beatles, Rolling Stones, dan Jimi Hendrix, maka makin lengkaplah rasa penasaran Fahmi pada musik.

Waktu usianya limas belas tahun, Fahmi menemukan buku-buku musik milik pamannya tersebut. Merasa menemukan harta karun, keruan tak disia-siakan Fahmi. Dengan kemampuan terbatasnya, buku-buku berbahasa Inggris tersebut disikat habis olehnya dengan bantuan sebuah kamus. Buku-buku tersebut masih ia simpan hingga kini. “Usianya lebih dari seratus tahun,” ujar Fahmi. Ketika Fahmi mulai bergaul di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, buku-buku itu dipinjam oleh Tony Prabowo dan Arjuna Hutagalung, dua orang komponis Indonesia seangkatannya.

Ada kisah jenaka Fahmi menjelang kelulusan SMA. Pada hari ujian praktikum Kimia berlangsung, Fami tak masuk karena sakit. Ketika hendak melaksanakan ujian susulan, gurunya mengatakan tak perlu karena Fahmi pernah membuat suatu karya tulis yang menganalisis Bourre karya J.S. Bach dengan menggunakan pendekatan matematika. Ia akhirnya lulus, pun tanpa ditanya apa pun karena sang guru tak paham.

Pertemuannya dengan Slamet Abdul Sjukur dalam sebuah lokakarya elektro-akustik di LPKJ (kini IKJ), membuat Fahmi pada 1980 menempuh pendidikan musiknya di sana. Pada hari ujian penyaringan, Slamet meloloskan Fahmi sebelum ujian dilaksanakan. Belakangan Fahmi baru tahu kalau Slamet memberlakukan hal ini kepada semua calon mahasiswa agar banyaknya peminat jurusan komposisi. Slamet, bagi Fahmi, adalah guru yang luar biasa. Maka ketika Slamet keluar dari IKJ, Fahmi pun kehilangan gairah, sehingga ia memutuskan untuk tak meneruskan kuliahnya.

Semasa kuliahnya, ia kerap membuat aransemen untuk Studio Orchestra TVRI dan membentuk band, di mana dirinya bermain bass elektrik. Kemudian ia banyak terlibat sebagi pengarang musik film, salah satunya Boneka dari Indiana, dengan Nyak Abbas Akup sebagai sutradaranya. “Ini film pertama gue, (tapi) film terakhir Nya Abbas,” kenang Fahmi. Ya, setahun kemudian Nyak Abbas Akup wafat.
Judul-judul film lain yang musiknya turut digarap Fahmi: Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (2002), Novel Tanpa Huruf ‘R’ (2003), Mencari Madonna (2004), Rumah Pondok Indah (2006), Betina (2006), dan Tapi Bukan Aku (2008). Tak hanya sebagai penata musik, Fahmi juga memainkan peran lain dalam film, seperti sebagai produser untuk Surat untuk Bidadari (1992) dan aktor di Beth dan Betina.

Pada 1990, bersama Ray Sahetapy ia membuat pertunjukan multimedia berjudul Gokil di Onchor Studio. Kemudian pada 1994 di Mojosongo, Solo, Fahmi menggarap ilustrasi musik untuk pameran instalasi Labyrinth. Dalam Asian Composer League di Solo dan Yogyakarta pada 1999, Fahmi menjadi pemenang pertama lewat karyanya, Monologue, dengan klarinet tunggal sebagai instrumennya.

Selain berkesenian, Fahmi juga terlibat dalam kerja organisasi kesenian. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Asosiasi Komponis Indonesia (AKI) untuk wilayah DKI Jakarta dan Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta.
 
Roy Thaniago - penulis
Profil
Karya musik Fahmi Alatas banyak didominasi oleh karya musik elektronik. Kesulitan mencari pemusik yang bagus di Jakarta juga salah satu alasan mengapa Fahmi memilih untuk menggarap musik elektronik. Di tangannya, musik elektronik tampil dengan bunyinya yang alamiah, hidup, dan lentur. Ia berusaha “memanusiakan” musik elektronik. Meski dengan bantuan teknologi, buatnya, cara berpikirnya harus tetap konvensional. Prinsip ini ia terapkan dalam mengajar komposisi, yakni dengan mewajibkan para murid bekerja secara manual menggunakan mouse ketika mengarang musik melalui komputer agar selalu berpikir seperti berhadapan dengan not balok.

Salah satu komposisi musik elektroniknya berjudul Solitude. Karya ini menerapkan beberapa sistem pelarasan secara sekaligus. Ia menggunakan 10 ET, 15 ET, 19 ET, 24 ET, dan 30 ET (ET = Equal Temperament). Sebagai drone, Fahmi menggunakan instrumen berdawai satu, lalu ia memasukkan satu per satu bunyi dua buah bansi (alat tiup dari Minang).

Hal yang menarik dari Solitude adalah bagaimana cara dan usaha dari pemain beserta alat musiknya untuk secara luwes mendekati sistem pelarasan yang terukur pasti (fix tuning). Karya ini, menurut Fahmi, sering ia gunakan untuk menjelaskan suatu hal yang bermain di luar ukurannya sendiri. Karena itu, setelah memutar karya ini, dalam sebuah forum diskusi ia biasanya bertanya, “Ada yang bisa memberikan penjelasan tentang pengertian ‘fals’ dan ‘tidak fals’?”

Baginya, seorang komponis perlu mengalami interaksi bermusik dalam sebuah kelompok, misalnya band. Spontanitas dan improvisasi yang ada saat bermusik, menunjang cara seorang komponis menilai menarik atau tidaknya musiknya. “Kita bisa baca reaksi seseorang saat kita menyodorkan sesuatu,” terangnya.

Karyanya yang berjudul Monologue adalah karya yang terinspirasi oleh kemampuan bermain klarinet kawannya, Irwan Lubis. Maka itu, karya yang menang pada Asian Composer League 1999 ini sengaja dibuat untuk Irwan, di mana pemain ia lihat sebagai elemen dari komposisinya. Dengan kata lain, musik serial dengan permainan klarinet tunggal ini “bahan baku”-nya sudah disediakan dari sang pemain. Dalam menggarapnya, Fahmi menerapkan beberapa teknik standar yang sudah biasa digunakan di Eropa dan Amerika pada 1960-an seperti multiphonic dan bermain dengan barrel dan mouth piece klarinet.

Monologue adalah wujud spirit of survive dari Fahmi dan Irwan Lubis. “Pada dasarnya kami adalah manusia Indonesia yang tidak pernah belajar di luar negeri,” terang Fahmi. Tapi setiap saat mereka mesti berhadapan dengan pandangan bahwa orang Indonesia baru bisa seperti pemusik Barat kalau belajar langsung kepada pemusik Barat. Maka, “Saya pikir dari berproses di karya ini cukup menjelaskan bahwa kita bisa mencapai apa pun yang dapat dicapai oleh bangsa lain asal kita mau belajar,” ungkapnya.
Fahmi berpendapat, bahwa bagaimanapun juga, dalam bermusik, kepersisan yang terukur mesti menjadi yang utama, bukan sekadar roso (rasa/feeling). Hal ini misalnya ia terapkan saat menggarap musik untuk film. Sebelum mengarang musik, ia senantiasa menyimak video dengan menggunakan metronome terlebih dahulu. Menurutnya, setiap gambar memiliki waktu dan temponya masing-masing. Pergantian gambar mesti cocok dengan gerak metronome. “Kalau itu dapat, apapun yang lo bikin pasti enak,” ujarnya.

Sayangnya, ia mengeluhkan bahwa musik film sering digarap dengan tak serius. Selain melulu berada di wilayah tarik-menarik antara ide artistik dengan pragmatisme (efisiensi dan daya jual), ia beranggapan bahwa penggarapan musik film tidak dibarengi dengan pengetahuan yang memadai mengenainya. “Orang-orang sibuk dengan musik yang megah, tapi apa hubungannya dengan gambar?” tanyanya serius.

Baginya, membuat musik di luar film lebih membahagiakan dirinya karena segala kebutuhan artistiknya bisa dipenuhi tanpa perlu berkompromi dengan kepentingan-kepentingan yang lain. Pada karya musik tunggal ia berpendapat musiknya hadir lebih personal, lebih menampung ide-ide musikalnya. Ia, yang beberapa kali membuat ilustrasi musik untuk pameran lukisan atau instalasi, melihat ada peluang bagi komponis untuk mengisi kekosongan posisi ini ke depannya, tanpa mesti mengorbankan ide artistik mereka.

Diskursus musik tradisi Nusantara juga menjadi perhatian Fahmi. Ia melihat perlunya komponis-komponis Indonesia menggali potensi musik lokal sebagai materi karyanya. Perdebatan Timur-Barat, buatnya, mesti diselesaikan dengan cara mengenal dan menggarapnya lebih utuh dan mendasar, tidak terpecah atau hanya mengambil kulit luarnya semata.

Ia sadar bahwa apa yang terjadi kini dalam praktik menggali materi lokal dalam karya-karya musik kontemporer di Indonesia masih jauh dari ideal dan menarik. Tapi, “Kegelisahan perlu terus dibangun,” jelasnya. Ia berharap, dengan mulai mewacanakan dan mempraktikkannya, siapa tahu generasi berikutnya bisa meneruskan.
 
Roy Thaniago - penulis
Karya
Labyrinth (1992/1993)
Soni’s Nightmare (Ilustrasi pameran lukisan Soni SK, 1997)
Lembah Dalam (Musik teater, 1998)
Birth (1998)
Monologue (1999)
Cloudy Sky (2002)
Solitude (2004)
Bingung (2004/2005)
Lamentation (2005)
Equilibrium (2005)
Biennale (2006)
You The Wind (2007)


Kontak
Fahmi Alatas
Gg. Poncol no. 77, Jl. Tengah. Condet Jakarta
Phone:0878-8584-9275
Email:fahmyalattas@gmail.com/ fahmyalattas@yahoo.com
Galeri
 
Kunjungi blog kami di: www.kelola.or.id/blog
Informasi terbaru kegiatan Kelola, Klik disini