Fitri SetyaningsihGigi GiadiHanny HerlinaHartatiI Nyoman SuraIndra ZubirJefri Andi UsmanLalu Suryadi MulawarmanMartinus MirotoMugiyono KasidoRetno MarutiTom IbnurWahyu WidayatiYudisthira Syuman
| << |

Fitri Setyaningsih
Biografi
Fitri Setyaningsih lahir 26 Agustus 1978 di Surakarta, tetapi menghabiskan masa kecilnya di Kendal, Jawa Tengah. Di samping gemar menonton ketoprak, Fitri kecil mulai belajar menari Jawa di Kendal, dari guru tari wayang orang Ngesti Pandawa yang setiap minggu datang ke kampungnya. Ketika di SMP Fitri ikut kegiatan ekstra-kurikuler menari. Lulus SMP, ia menyusul orang tuanya ke Solo dan masuk Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI 1994-97). Di SMKI ia belajar nomor-nomor tari tradisi Jawa seperti Gambyong, Srimpi, Bedaya, Dramatari, dan Langendriyan.
Lulus SMKI, Fitri melanjutkan belajar di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI)—sekarang ISI, Institut Seni Indonesia--Surakarta dimana ia bukan saja mendalami tari Jawa tetapi juga belajar tari-tarian daerah lain seperti Bali, Sunda, Banyuwangi, dan Toraja. Tetapi menarikan tari tradisi dirasakan membelenggu kebebasan Fitri. Maka akhirnya ia pun memilih Jalur Studi Koreografi. “Ketika saya memutuskan untuk masuk ke jalur koreografi tersebut, saya merasa ada kebebasan,” kenang Fitri.
Fitri sudah giat membuat koreografi semasa mahasiswa, antara lain DIlema (2000), Mimpi Seorang Manggali (2000), Roh (2002) yang mewakili STSI dalam Festival Kesenian Indonesia antar kampus perguruan tinggi seni di Denpasar 2002. Tahun terakhir di STSI Fitri menyusun dua karya: Ibu Itu Bernama Calonarang dan Kali (2002). Karya yang terakhir ini ditampilkan dalam Festival Tari Cak Durasim Surabaya 2003.
Setelah selesai studi di ISI, Fitri ikut sebagai penari koreografer lain. Fitri juga mulai mengikuti berbagai workshop tari di dalam maupun di luar negeri: London, Dubai, Abu Dhabi. Di Indonesia Fitri pernah mengikuti workshop tari Pappa Tarahumara, penari butoh Yukio Waguri dari Jepang, serta Tony Yap.
Fitri pernah berkolaborasi dengan Fajar Satriadi, Katarina Wuthrich, Asia Ramli (Teater Kita, Makassar), Pelok Sutrisno (Teater Gapit, Solo), Suprapto Suryodarmo, Gerald Holthuis, Melati Suryodarmo, Marie Labarele & Nita Azhar (Lembaga Indonesia-Perancis), S. Teddy, dan Emilia Javanica. Fitri juga sering berkolaborasi dengan perupa dan banyak karya-karyanya yang ditampilkan di galeri. Hot Plate (2004) dipentaskan di dalam pameran lukisan Hanafi di Studio Taksu, Jakarta. Langit Putih (2005) ditampilkan sebagai pembukaan pameran lukisan Hanafi di Komaneka Art Galeri, Denpasar, Bali dan di-Plas-tik (2006) digelar di Rumah Seni Cemeti di Yogyakarta.
Tahun 2005, Fitri menerima Hibah Seni Kelola dan tampil bekerjasama dengan Forum Koreografer Lintas Generasi Dewan Kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki (Bedaya Silikon). Tahun 2006, Fitri tampil di 4 festival dengan karya berbeda: Suksesi Ruang Privat (Solo Dance Festival di Solo), Mpon-mpon (Festival Pasar Kumandang di Solo), Hot Plate (Solo Sans Frontiers di TIM, Jakarta), dan Beras Merah (Indonesian Dance Festival di Jakarta).
Tahun 2010, Fitri, yang karya-karyanya kerap mempertanyakan konvensi tari dan rajin mencari “tubuh” tari yang lain, menggarap sebuah koreografi untuk dua penari wanita dari Jakarta: Ajeng dan Anggi . Tumbuh di Jakarta, kedua penari merupakan bagian dari lingkar-pergaulan anak muda metropolitan yang merayakan hidup dengan ringan, riang, dan penuh pesta. S[h]elf (2010) merupakan upaya Fitri melakukan interogasi dan negosiasi atas gagasan serta imajinasi tari yang selama ini dibentuk serta membentuk Ajeng dan Anggi sebagai penari. S[h]elf dipentaskan di Salihara dan Indonesian Dance Festival X/2010 di Jakarta.
Lulus SMKI, Fitri melanjutkan belajar di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI)—sekarang ISI, Institut Seni Indonesia--Surakarta dimana ia bukan saja mendalami tari Jawa tetapi juga belajar tari-tarian daerah lain seperti Bali, Sunda, Banyuwangi, dan Toraja. Tetapi menarikan tari tradisi dirasakan membelenggu kebebasan Fitri. Maka akhirnya ia pun memilih Jalur Studi Koreografi. “Ketika saya memutuskan untuk masuk ke jalur koreografi tersebut, saya merasa ada kebebasan,” kenang Fitri.
Fitri sudah giat membuat koreografi semasa mahasiswa, antara lain DIlema (2000), Mimpi Seorang Manggali (2000), Roh (2002) yang mewakili STSI dalam Festival Kesenian Indonesia antar kampus perguruan tinggi seni di Denpasar 2002. Tahun terakhir di STSI Fitri menyusun dua karya: Ibu Itu Bernama Calonarang dan Kali (2002). Karya yang terakhir ini ditampilkan dalam Festival Tari Cak Durasim Surabaya 2003.
Setelah selesai studi di ISI, Fitri ikut sebagai penari koreografer lain. Fitri juga mulai mengikuti berbagai workshop tari di dalam maupun di luar negeri: London, Dubai, Abu Dhabi. Di Indonesia Fitri pernah mengikuti workshop tari Pappa Tarahumara, penari butoh Yukio Waguri dari Jepang, serta Tony Yap.
Fitri pernah berkolaborasi dengan Fajar Satriadi, Katarina Wuthrich, Asia Ramli (Teater Kita, Makassar), Pelok Sutrisno (Teater Gapit, Solo), Suprapto Suryodarmo, Gerald Holthuis, Melati Suryodarmo, Marie Labarele & Nita Azhar (Lembaga Indonesia-Perancis), S. Teddy, dan Emilia Javanica. Fitri juga sering berkolaborasi dengan perupa dan banyak karya-karyanya yang ditampilkan di galeri. Hot Plate (2004) dipentaskan di dalam pameran lukisan Hanafi di Studio Taksu, Jakarta. Langit Putih (2005) ditampilkan sebagai pembukaan pameran lukisan Hanafi di Komaneka Art Galeri, Denpasar, Bali dan di-Plas-tik (2006) digelar di Rumah Seni Cemeti di Yogyakarta.
Tahun 2005, Fitri menerima Hibah Seni Kelola dan tampil bekerjasama dengan Forum Koreografer Lintas Generasi Dewan Kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki (Bedaya Silikon). Tahun 2006, Fitri tampil di 4 festival dengan karya berbeda: Suksesi Ruang Privat (Solo Dance Festival di Solo), Mpon-mpon (Festival Pasar Kumandang di Solo), Hot Plate (Solo Sans Frontiers di TIM, Jakarta), dan Beras Merah (Indonesian Dance Festival di Jakarta).
Tahun 2010, Fitri, yang karya-karyanya kerap mempertanyakan konvensi tari dan rajin mencari “tubuh” tari yang lain, menggarap sebuah koreografi untuk dua penari wanita dari Jakarta: Ajeng dan Anggi . Tumbuh di Jakarta, kedua penari merupakan bagian dari lingkar-pergaulan anak muda metropolitan yang merayakan hidup dengan ringan, riang, dan penuh pesta. S[h]elf (2010) merupakan upaya Fitri melakukan interogasi dan negosiasi atas gagasan serta imajinasi tari yang selama ini dibentuk serta membentuk Ajeng dan Anggi sebagai penari. S[h]elf dipentaskan di Salihara dan Indonesian Dance Festival X/2010 di Jakarta.
Anastasia Melati - Penulis
Sal Murgiyanto - Editor
Profil
“Tik…, tok…, tik…, tok …,tik…, tok!” Suara detik jam membuka pementasan Warna dari dalam Tanah (2009) karya Fitri Setyaningsih yang kini tinggal di Yogyakarta. Dua penari mengenakan long dress polos dilengkapi penutup kepala mirip jubah kaum Fransiskan. Kaos tangan merah senada dengan warna kaos yang ditampakkan di atas dada mempercantik kostum. Dengan kepala tegak, mereka berjalan tenang ke depan dengan langkah pendek staccato. Kesan meditasi kuat tergambar dalam gerak yang tenang, lambat, dan berulang.
Seorang penari melebarkan langkah melewati yang lain ke salah satu sudut pentas untuk berdiri berhadapan kemudian merapat. Lalu saling menarik diri dengan cepat. Akibat pergesekan tubuh jubah penari mengurai menjadi benang yang tidak luruh. Lighting temaram menguatkan impresi ”kesemrawutan benang yang tak luruh” yang ternyata pir kawat yang dijahitkan pada kain. Gesekan antar tubuh membuat pir-pir saling menyangkut lalu mengurai memanjang menyisakan ketegangan. Pir tersebut ditanam di sekujur jubah dari kepala sampai kaki.
Karya yang dipentaskan di Goethe Institute, Jakarta, dalam rangka Regional Dance Summit awal Agustus 2009 ini mengambil inspirasi warna matahari yang muncul saat pergantian pagi, siang, sore, dan malam yang menandakan kemarin, hari ini, dan esok. Ketika orang meragukan apakah karya Fitri bisa disebut tari, ia menjawab tegas Warna dari dalam Tanah adalah tari. Fitri menjelaskan baginya tari adalah gerak sehari-hari yang dekat dengan tubuh kita. Gerakan tari dalam karya Fitri memang tidak disusun dari gerakan tari konvensional tapi dari gerakan tubuh sehari-hari.
Lalu, apakah dalam karya-karyanya Fitri menghilangkan tradisi dan budaya Jawa dari mana ia berasal? Menurut Fitri, tradisi memberi nafas, menjadi aura dan karakter bagi karya-karyanya. Tari tradisi diambilnya dalam bentuk ketenangan, kekokohan, dan spirit, bukan dalam bentuk tari. Namun demikian, ia berupaya untuk memotong benang tradisi dalam karyanya sehingga karyanya menjadi dirinya sendiri. Meniru gerakan atau filosofi dari tokoh tari siapapun, meski itu Martha Graham atau Pina Bausch, sangat ia hindari.
Fitri tidak memerlukan pencanggihan teknik gerak dalam karyanya. Sebaliknya ia memilih menggunakan gerakan sehari-hari. Fitri ingin menampilkan sesuatu yang membuatnya heran, intim, sekaligus menggali hubungan tubuh dengan benda-benda sekitar. Karena itulah dalam setiap karyanya, Fitri menggunakan barang-barang sehari-hari sebagai properti. Dalam Bedaya Silicon (2006) ia menggunakan usus ayam, daging, dan kotak buah. Ia menggunakan belut dan sandsack tinju dalam Beras Merah (2006). Alat penggunting rumput ia gunakan dalam Pidato Bunga-Bunga (2007), dan botol-botol plastik ia gunakan dalam Aku Hampir Plastik (2007) sedangkan dalam Sabana Grande (2008): gelas, mangkuk, dan handuk. Alat-alat tersebut ia gunakan tidak hanya sebagai properti panggung, tetapi merupakan bagian yang hidup di sekitar tubuh penari.
Fitri berpendapat bahwa pesan sebaiknya ada dalam setiap karya, bisa pesan sosial atau politik. Bedaya Silicon misalnya mengkritisi politik kecantikan dan Aku Hampir Plastik, berbicara tentang sungai yang tidak bisa mengalir lagi karena dipenuhi sampah.
Seorang penari melebarkan langkah melewati yang lain ke salah satu sudut pentas untuk berdiri berhadapan kemudian merapat. Lalu saling menarik diri dengan cepat. Akibat pergesekan tubuh jubah penari mengurai menjadi benang yang tidak luruh. Lighting temaram menguatkan impresi ”kesemrawutan benang yang tak luruh” yang ternyata pir kawat yang dijahitkan pada kain. Gesekan antar tubuh membuat pir-pir saling menyangkut lalu mengurai memanjang menyisakan ketegangan. Pir tersebut ditanam di sekujur jubah dari kepala sampai kaki.
Karya yang dipentaskan di Goethe Institute, Jakarta, dalam rangka Regional Dance Summit awal Agustus 2009 ini mengambil inspirasi warna matahari yang muncul saat pergantian pagi, siang, sore, dan malam yang menandakan kemarin, hari ini, dan esok. Ketika orang meragukan apakah karya Fitri bisa disebut tari, ia menjawab tegas Warna dari dalam Tanah adalah tari. Fitri menjelaskan baginya tari adalah gerak sehari-hari yang dekat dengan tubuh kita. Gerakan tari dalam karya Fitri memang tidak disusun dari gerakan tari konvensional tapi dari gerakan tubuh sehari-hari.
Lalu, apakah dalam karya-karyanya Fitri menghilangkan tradisi dan budaya Jawa dari mana ia berasal? Menurut Fitri, tradisi memberi nafas, menjadi aura dan karakter bagi karya-karyanya. Tari tradisi diambilnya dalam bentuk ketenangan, kekokohan, dan spirit, bukan dalam bentuk tari. Namun demikian, ia berupaya untuk memotong benang tradisi dalam karyanya sehingga karyanya menjadi dirinya sendiri. Meniru gerakan atau filosofi dari tokoh tari siapapun, meski itu Martha Graham atau Pina Bausch, sangat ia hindari.
Fitri tidak memerlukan pencanggihan teknik gerak dalam karyanya. Sebaliknya ia memilih menggunakan gerakan sehari-hari. Fitri ingin menampilkan sesuatu yang membuatnya heran, intim, sekaligus menggali hubungan tubuh dengan benda-benda sekitar. Karena itulah dalam setiap karyanya, Fitri menggunakan barang-barang sehari-hari sebagai properti. Dalam Bedaya Silicon (2006) ia menggunakan usus ayam, daging, dan kotak buah. Ia menggunakan belut dan sandsack tinju dalam Beras Merah (2006). Alat penggunting rumput ia gunakan dalam Pidato Bunga-Bunga (2007), dan botol-botol plastik ia gunakan dalam Aku Hampir Plastik (2007) sedangkan dalam Sabana Grande (2008): gelas, mangkuk, dan handuk. Alat-alat tersebut ia gunakan tidak hanya sebagai properti panggung, tetapi merupakan bagian yang hidup di sekitar tubuh penari.
Fitri berpendapat bahwa pesan sebaiknya ada dalam setiap karya, bisa pesan sosial atau politik. Bedaya Silicon misalnya mengkritisi politik kecantikan dan Aku Hampir Plastik, berbicara tentang sungai yang tidak bisa mengalir lagi karena dipenuhi sampah.
Anastasia Melati - Penulis
Sal Murgiyanto - Editor
Ket. Foto:
1. Penyusup dalam Tubuh - Dok. Fitri Setyaningsih
2. Penyusup dalam Tubuh - Dok. Fitri Setyaningsih
3. Lubang Cahaya - Dok. Fitri Setyaningsih
4. Dataran yang Terus Kebawah - Dok. Fitri Setyaningsih
5. Penyusup dalam Tubuh - Dok. Fitri Setyaningsih
Karya
Warna dari dalam Tanah, Daging dari Dataran Tinggi, Bubble Sling, Parutan Kelapa (2009)
Sabaan Grande (2008)
Pidato Bunga-bunga, Flight no. 12, Aku Hampir Plastik (2007)
Bedaya Silikon, Beras Merah (2006)
Sabaan Grande (2008)
Pidato Bunga-bunga, Flight no. 12, Aku Hampir Plastik (2007)
Bedaya Silikon, Beras Merah (2006)
Kontak
Fitri Setyaningsih
Jl. Nitiprayan no. 46 B Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta Central Java
| Phone | : | +628122637546 |
| : | fitri.set@gmail.com |
Galeri









