>>
Chendra Effendy Panatan
Biografi
Chendra Effendy Panatan mengawali karir kepenariannya pada usia remaja. Ia mulai belajar balet klasik di Sanggar Balet Sumber Cipta pimpinan Farida Oetoyo pada usia 18 tahun. Ketertarikannya pada balet diawali ketika pada akhir 1990an tanpa sengaja Chendra melihat pertunjukan Carmina Burana produksi Sumber Cipta di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM), yang diselenggarakan sebagai pertunjukan perpisahan dengan penari Linda Hoemar yang diterima sebagai siswa Alvin Ailey di Amerika Serikat. Dalam pertunjukan itulah Chendra menyaksikan bahwa dunia tari tak semata milik perempuan. "Aku melihat dalam pertunjukan itu, banyak penari laki-laki dan mereka menari dengan gerakan yang mengagumkan. Saat itulah aku langsung tertarik untuk memulai latihan balet,” ujar Chendra.

Chendra pun bergabung dengan kelompok balet Sumber Cipta. Tak lama ia mendapat kesempatan menari di luar negeri. Salah satunya ke Kanada dimana ia kemudian bergabung dengan kelompok tari milik koreografer Maxine Haeppner. Perjalanan ke berbagai negara inilah yang memberinya inspirasi untuk menjadi seorang koreografer. Ketika di Beijing, di sebuah museum, Chendra menemukan sebuah CD yang berisi harmonisasi bunyi genta. Kembali ke Indonesia, musik tersebut ia jadikan modal membuat koreografi: Asa. Dengan koreografi tersebut, tahun 1997 Chendra mengikuti Gedung Kesenian Jakarta Award dan meraih juara pertama.

Tak membuatnya puas, Chendra merasa bahwa koreografi harus dipelajari secara akademis. Maka ia pun mendaftar ke Victorian College of the Arts, Melbourne, Australia mengambil program Diploma in Choreography dan lulus dalam waktu setahun (2000).

Chendra, lahir dari sebuah keluarga Tionghoa-Indonesia. Anak ketiga dari empat bersaudara ini dibesarkan dalam sebuah keluarga yang jauh dari dunia seni. Ayahnya yang wirasasta dan ibunya berasal dari Bangka dan pindah ke Jakarta tahun 1970-an. Salah seorang kakaknya mendalami ilmu kimia dan bekerja sebagai peneliti; kakaknya yang lain menekuni bidang keuangan. Tak heran jika Chendra menamatkan pendidikan diplomanya di jurusan akuntansi Universitas Tarumanegara.

Dalam hal agama, Chendra juga merupakan pribadi yang unik dan berani melawan arus. Meski kedua orangtuanya beragama Budha dan penganut Tao, mereka membesarkan anak-anaknya dalam tradisi Kristen-Katolik. Pasalnya begitu hidup di Jakarta, Chendra bersaudara disekolahkan di sekolah Katolik. Tetapi saat dewasa, Chendra tertarik mempelajari agama Budha. Kemudian saat ia menjalani program beasiswa Chevening Award untuk meraih Master of Art in Choreography di Middlesex University, Inggris, pada 2006-2007, Chendra memilih untuk agnostik hingga sekarang. Pilihan ini tak mendapat tentangan dari orangtuanya.

Tak hanya dalam soal agama yang menurutnya terbilang longgar. Soal tradisi pun diakuinya tak terlalu kuat dimiliki. “Aku manusia urban yang menyerap banyak hal, meski jadinya hanya di permukaan saja. Tapi aku sangat menghargai mereka yang berkutat dengan tradisi, terutama setelah aku menekuni tari kontemporer dan banyak berkolaborasi dengan seniman tradisi,” kata Chendra. Menyadari hal tersebut, Chendra tak memaksa dirinya untuk menciptakan konsep yang menjauhi kemampuan dirinya. Ia cenderung berkutat pada isu-isu sosial seperti lingkungan. “Ketimbang agama, menurutku koreografer harus tertarik dengan isu sosial. Bahkan tidak cuma koreografer. Karena manusia adalah makhluk sosial,” ujarnya tegas.

Dewi Ria Utari - Penulis
Sal Murgiyanto - Editor
Profil
Tradisi balet klasik sudah ada di Indonesia sejak era Farida Oetoyo dan Wied Senjayani. Salah satu yang berguru ke Farida adalah Chendra Effendy Panatan yang bergabung dengan sekolah balet Sumber Cipta, di Jakarta sejak usia 17 tahun. Meneruskan bentuk koreografi yang diciptakan Farida Oetoyo, karya Chendra memadukan gerak balet dengan tari modern dan sejumlah ragam gerak tari tradisi Nusantara. Salah satu contohnya adalah Hayati (2008). Karya ini melibatkan penari Siko Setyanto dari kelompok Wied Senjayani, di Solo. Berbeda dengan Chendra, Siko juga memiliki latar belakang tradisi Jawa. Alhasil, Hayati merupakan peleburan unik antara gerak balet dan spirit tari Jawa.

Chendra mulai berkarya tahun 1997, yaitu ASA. Berlatar balet klasik, Chendra sangat terpengaruh oleh koreografi balet klasik yang abstrak dan memberi tekanan pada tehnik, keindahan gerak dan komposisi yang rapi. ASA mendapatkan penghargaan dalam lomba Koreografi Tari Kontemporer Gedung Kesenian Jakarta Award tahun 1997, tapi Chendra tak berpuas diri. Ia tak henti mencari: apa itu koreografi dan bagaimana disusun? Pertanyaan ini mendorongnya mendalami koreografi secara formal. Maka tahun 2000, belajar koreografi di Victorian College of the Arts, University of Melbourne, Australia, dan 2007 mendapat Chevening Award untuk meraih gelar master di bidang koreografi di Universitas Middlesex, London.

Chendra juga mengikuti pendidikan tari informal di Ecola de la Dance – Geneva, Lines Contemporary Ballet, San Francisco – USA, Concordia University, Montreal – Canada, Limon Institute, NYC – USA dan Internationale Sommerakademie des Tanzes di Koln, Jerman. Hasilnya, Chendra menjadi sosok koreografer yang fleksibel  berkolaborasi dengan seniman beragam disiplin, namun teguh memegang prinsip artistik. Hal ini dapat dimengerti melihat latar belakang kepenarian Chendra yang sarat idiom balet klasik. Koreografi balet klasik sangat menekankan pementasan yang rapi, indah, dan cantik. Inilah yang sangat mempengaruhi Chendra dalam menciptakan karya.

Sebagai koreografer yang banyak bersentuhan dengan dunia Barat, Chendra sangat terbuka terhadap ide-ide baru. Ia fleksibel untuk berkolaborasi dengan seniman lain bidang. Hasilnya terlihat dalam film tari Exodus (Wanita Yang Berlari) yang diciptakannya berkolaborasi dengan Sherman Ong, sutradara film dari Singapura. Film tari ini meraih juara ke 2 pilihan penonton pada Q Film Festival (Sept 2003) di Jakarta dan ditayangkan pada The International Rotterdam Film Festival (Jan 2004), Bangkok International Film Festival, Barcelona Film Festival (April 2004), Los Angeles Film Festival dan banyak festival film lainnya di Eropa, Asia dan Australia.

Selain film tari, fleksibilitas Chendra dibuktikannya dengan berkolaborasi dengan pianis kelas dunia, Ananda Sukarlan sejak 2005. Dari proses kolaborasi ini, lahirlah beberapa karya penting seperti Gitaya Samudra, Castor and Pollux (sebuah seri dari kolaborasi film tari dengan komposer Spanyol, Santiago Lanchares), You Had Me at Hello, Alio Modo, The Sleepers, The Humiliation of Drupadi dan Schumann’s Psychosis (2009)yang ditampilkan di Indonesia, London dan Spanyol.

Chendra merasakan perkembangan dalam karir koreografinya. Dari tahapan abstrak, naratif, hingga kolaboratif. Namun satu hal yang tak pernah berubah dari diri Chendra: ketertarikannya pada isu-isu sosial. Seputar lingkungan hidup pada Hayati, tentang identitas dan masalah rasial pada karya Aku.indo.net, homoseksualitas dan isu perempuan pada karya Mereka Yang Merdeka, dan Crossing tentang perbedaan.
Dewi Ria Utari - Penulis
Sal Murgiyanto - Editor

Ket. Foto:
1. Hayati - Dok. Chendra Panatan
2. Kosa - Dok. Chendra Panatan
3. Hayati - Dok. Chendra Panatan
4. Asa - Dok. Chendra Panatan
5. Sleeper - Dok. Chendra Panatan
6. Merdeka - Dok. Chendra Panatan
Karya
Humiliation of Drupadi and Schumann’s Pshycosis, Hayati, Yahalowa (Friends) (2008)
New Crossings, Crossings, The Sleepers, Selepas Penjara, Alio Modo (2007)
Mereka Yang Mer(dek)a, Gitaya Samudra (2006)
Holiday Concert 3 ballets of Strauss and Laher, Kado - An ODE for ASA (2005)
Exodus – Wanita Yang Berlari, a dance film, Prajna Paramita Hrdaya Sutra (2003)

Kontak
Chendra Effendy Panatan
Ananda Sukarlan Center Jl RS Fatmawati 39, Komplek Duta Mas Blok A1 no 11 ITC Fatmawati - Jakarta Selatan 12150 Jakarta
Phone:+6221-723728
Email:ycep@yahoo.com
Galeri
Video
 
Stay informed
with our e-update