Agus "Mbendhol" MargiyantoAli SukriAndara F. MoeisBambang "Besur"
SuryonoBenny KrisnawardiBoby Ari SetiawanChendra Effendy PanatanDanang PamungkasDaryono DarmorejonoDeddy LuthanDwi WindartiEko SupriyantoElly D. LuthanEnno SulistyoriniEry Mefri
SuryonoBenny KrisnawardiBoby Ari SetiawanChendra Effendy PanatanDanang PamungkasDaryono DarmorejonoDeddy LuthanDwi WindartiEko SupriyantoElly D. LuthanEnno SulistyoriniEry Mefri
| >> |

Eko Supriyanto
Biografi
Eko Supriyanto lahir di Astambul, Kalimantan Selatan, 26 November 1970, tetapi dibesarkan di Magelang, Jawa Tengah. Darah seni mengalir dari kakeknya, Djojoprayitno, penari wayang orang Sri Wedari (Solo) 1960-an. Usia 7 tahun, Eko belajar silat dan tari Jawa dari kakeknya dan ketika kakeknya meninggal, ia melanjutkan belajar dari 2 guru tari setempat: Kahari dan Alit Maryono. Di bangku SMP, Eko mulai belajar tari rakyat Kuda Lumping dan Kubro Siswo.
Eko masuk Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI 1990-97) Surakarta mendalami tari Jawa dengan S. Maridi dan S. Ngaliman, belajar tari-tarian daerah lain dan koreografi a.l., dari Soenarno dan S. Pamardi. Di luar kampus, ia berguru ke Suprapto Suryodarmo dan Sardono W. Kusumo.
Eko Supriyanto aktif membuat koreografi sejak mahasiswa. Dua kali ia tampil dalam Indonesian Dance Festival (IDF) dengan Lah (1994) dan Leleh (1996) yang mengantarkannya ke American Dance Festival (ADF 1997) di Durham, North Carolina dan Asia Pacific Performance Exchange (APPEX 1997) di Los Angeles, AS. Kemudian Eko melanjutkan kuliah di Department World Arts and Culture di UCLA, California (1998-2001). Kini disamping mengajar di Institut Seni Indonesia (ISI d/h STSI) ia mengambil program S-3 Kajian Seni Pertunjukan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Di UCLA, Eko belajar teknik tari modern, improvisasi, dan koreografi dari David Rousseve, Simone Forti, Victoria Marks, dan Angelia Leung. Di samping itu ia aktif terlibat dalam APPEX (1999, 2001) berkolaborasi dengan seniman dari berbagai wilayah Asia dan AS. Di Los Angeles pula Eko bertemu dengan sutradara opera Peter Sellars yang melibatkannya sebagai penari dan koreografer dalam Le Grand Macabre (1998) yang dipentaskan di Chatelet Theatre di Paris dan Covent Garden, London (1999). Eko juga pernah menjadi penari penyanyi pop-AS Madonna dalam Madonna’s “Drowned World” Tour (2001) ke Eropa dan Amerika Serikat.
Selesai studi MFA di UCLA, Eko kembali ke tanah air dan terlibat sebagai penari Opera Diponegoro (2002) Sardono W. Kusumo; menari dalam Shakti (2002) karya Maxine Haepner (Kanada) di Teater Utan Kayu, Jakarta, tampil di Pasar Tari Kontemporer (Pekanbaru, Riau), dan Asian Contemporary Dance Festival (Osaka).
Tahun 2003, Eko mendirikan Solo Dance Studio dan berkarya bagi almamaternya: Prang Buta (2003) untuk Festival Seni Surabaya. Tahun yang sama ia tampil di Festival Kesenian Yogyakarta, dan lagi dalam opera Peter Sellars Love Cloud (2003) untuk Theatro Picolo, di Venezia, Itali.
Tahun 2004, Eko menggarap Dhaup untuk STSI Surakarta; 2005 menerima Hibah Seni Kelola untuk menggarap Opera Ronggeng dan terlibat sebagai penari dan penata tari dalam film-tari Garin Nugroho Opera Jawa (2005) yang tahun 2008 ditata kembali sebagai pertunjukan panggung (Iron Bed) untuk pentas di Theatre Spectacle, Zurich. Tahun 2006 Eko terlibat kembali dalam produksi opera Peter Sellars Flowering Tree (2006) yang dipentaskan perdana di Wina, Austria untuk New Crowned Hope Festival memperingati 250 tahun Mozart.
Tahun 2008, Eko menjadi koreografer film-tari Garin Nugroho Generasi Biru yang menampil-kan band rock Indonesia SLANK. Tahun 2009 ia diundang sebagai “artist in residence” MAU Forum di Auckland, Selandia Baru dan tampil sebagai penari dalam The Tempest karya Lemi Ponifasio.
Eko masuk Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI 1990-97) Surakarta mendalami tari Jawa dengan S. Maridi dan S. Ngaliman, belajar tari-tarian daerah lain dan koreografi a.l., dari Soenarno dan S. Pamardi. Di luar kampus, ia berguru ke Suprapto Suryodarmo dan Sardono W. Kusumo.
Eko Supriyanto aktif membuat koreografi sejak mahasiswa. Dua kali ia tampil dalam Indonesian Dance Festival (IDF) dengan Lah (1994) dan Leleh (1996) yang mengantarkannya ke American Dance Festival (ADF 1997) di Durham, North Carolina dan Asia Pacific Performance Exchange (APPEX 1997) di Los Angeles, AS. Kemudian Eko melanjutkan kuliah di Department World Arts and Culture di UCLA, California (1998-2001). Kini disamping mengajar di Institut Seni Indonesia (ISI d/h STSI) ia mengambil program S-3 Kajian Seni Pertunjukan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Di UCLA, Eko belajar teknik tari modern, improvisasi, dan koreografi dari David Rousseve, Simone Forti, Victoria Marks, dan Angelia Leung. Di samping itu ia aktif terlibat dalam APPEX (1999, 2001) berkolaborasi dengan seniman dari berbagai wilayah Asia dan AS. Di Los Angeles pula Eko bertemu dengan sutradara opera Peter Sellars yang melibatkannya sebagai penari dan koreografer dalam Le Grand Macabre (1998) yang dipentaskan di Chatelet Theatre di Paris dan Covent Garden, London (1999). Eko juga pernah menjadi penari penyanyi pop-AS Madonna dalam Madonna’s “Drowned World” Tour (2001) ke Eropa dan Amerika Serikat.
Selesai studi MFA di UCLA, Eko kembali ke tanah air dan terlibat sebagai penari Opera Diponegoro (2002) Sardono W. Kusumo; menari dalam Shakti (2002) karya Maxine Haepner (Kanada) di Teater Utan Kayu, Jakarta, tampil di Pasar Tari Kontemporer (Pekanbaru, Riau), dan Asian Contemporary Dance Festival (Osaka).
Tahun 2003, Eko mendirikan Solo Dance Studio dan berkarya bagi almamaternya: Prang Buta (2003) untuk Festival Seni Surabaya. Tahun yang sama ia tampil di Festival Kesenian Yogyakarta, dan lagi dalam opera Peter Sellars Love Cloud (2003) untuk Theatro Picolo, di Venezia, Itali.
Tahun 2004, Eko menggarap Dhaup untuk STSI Surakarta; 2005 menerima Hibah Seni Kelola untuk menggarap Opera Ronggeng dan terlibat sebagai penari dan penata tari dalam film-tari Garin Nugroho Opera Jawa (2005) yang tahun 2008 ditata kembali sebagai pertunjukan panggung (Iron Bed) untuk pentas di Theatre Spectacle, Zurich. Tahun 2006 Eko terlibat kembali dalam produksi opera Peter Sellars Flowering Tree (2006) yang dipentaskan perdana di Wina, Austria untuk New Crowned Hope Festival memperingati 250 tahun Mozart.
Tahun 2008, Eko menjadi koreografer film-tari Garin Nugroho Generasi Biru yang menampil-kan band rock Indonesia SLANK. Tahun 2009 ia diundang sebagai “artist in residence” MAU Forum di Auckland, Selandia Baru dan tampil sebagai penari dalam The Tempest karya Lemi Ponifasio.
M. Syaiful Amin - Penulis
Sal Murgiyanto - Editor
Profil
Di bawah sorot lampu warna warni dan alunan bunyi gamelan Jawa, Eko Supriyanto mulai menari. Gerakannya gemulai namun kadang terlihat rancak dan atraktif. Sepuluh penari lain melakukan hal serupa. Mendadak mereka melompat bersama-sama. Seorang penari wanita menggendong penari pria dan penari perempuan lain diangkat tinggi dengan rambut menjuntai.
Sembilanpuluh menit mengamatinya di Teater Kecil ISI Surakarta, sungguh tak mudah menangkap pesan yang disampaikan Eko. Karya tersebut (Opera Jawa 2010) disiapkan untuk merayakan ulangtahun Tropen Museum, Amsterdam, bulan September 2010. Menurut Eko, kini ia memang tak lagi teerlalu hirau terhadap pesan naratif atau alur cerita. Baginya, dalam sebuah koreografi yang terpenting adalah gerak dan bentuk tarian. Itulah yang ia ajarkan kepada anak didik dan anggota kelompoknya di Solo Dance Studio.
“Sepuluh tahun terakhir ini, saya lebih tertarik kepada bentuk: hal yang semakin diyakininya setelah bekerjasama dengan sutradara film Garin Nugroho menggarap film tari Opera Jawa (2006). “Dari kerjasama tersebut saya memperoleh pemahan baru bahwa sebuah koreografi tidak hanya bisa dilihat dari sisi panggung,” kata Eko Supriyanto. Pendekatan ini sangat beda dengan karya-karya awal Eko yang mengacu pada apa yang dipelajarinya di STSI, sarat mengusung pesan dan nilai kemanusian.
Semisal dalam Lah (1994) yang ditampilkan di Indonesian Dance Festival (IDF III) di Jakarta. Karya ini hasil Eko mengamati pola hidup para abdi dalem keraton Solo yang menurut Eko unik. Judul itu berasal dari kata “Ya… sudah Lah! Yang berkonotasi pada sikap narimo ing pandum ([dengan rela] menerima apa yang ada, ed.). Para abdi-dalem memang bekerja tidak untuk mencari jenang (bubur/makan, red) tetapi untuk mencari jeneng (nama/pengabdian/berkah, red),” kata Eko.
Dalam karyanya yang lain Leleh (1996)--tampil di IDF V di Jakarta--Eko bercerita tentang perubahan perilaku masyarakat di kawasan gunung Kemukus, Sragen. Ketika itu, gunung Kemukus dikenal sebagai kawasan yang sarat dengan aktivitas spiritual namun perlahan-lahan bergeser menjadi kawasan prostitusi. Metomorfosa kehidupan itulah yang dipotret Eko dalam gerak tari. Perubahan pendekatan koreografi itu tak lepas dari 4 tahun studi MA tari Eko di UCLA, AS (1998-2001) serta pertemuannya dengan seniman-semian internasional seperti Peter Sellars, Julie Taymor, dan Lemi Ponifasio.
Meski tak lagi pusing soal pesan, Eko mengaku mendapatkan inspirasi dari kenyataan hidup sehari-hari. Berbagai persoalan masa kini yang terkait masalah sosial, politik, agama, dan ekonomi, adalah sumber inspirasi bagi karya-karyanya.
Lama berguru kepada Sardono W. Kusumo dan pernah bergabung dengan PLT Bagong Kussudiarjo, membuat Eko memiliki banyak referensi untuk mengkompilasi unsur-unsur gerak yang pernah ia pelajari. Tetap saja, Eko melihat tradisi (Jawa) bukan sebagai “beban” tetapi sebagai “bekal” budaya. “Tradisi Jawa menjadi inspirasi dan pegangan saya berkarya. Tradisi itu selalu bisa diialogkan dan mempunyai peluang yang luar biasa untuk dikembangkan.”
Dalam karyanya yang diberi judul Dhaup (2004)--yang berarti kawin atau nikah--Eko bercerita tentang kisah cinta Rahwana terhadap Dewi Shinta. Banyak orang mengatakan Rahwana adalah tokoh jahat, namun bagi Eko, Rahwana merupakan simbol cinta sejati. “Untuk mewujudkan cintanya,” kata Eko “Rahwana rela kehilangan saudara, negara, dan seluruh harta-bendanya.” Eko menafsir-ulang epos Ramayana dengan akhir Rahwana kawin dengan Shinta.
Sembilanpuluh menit mengamatinya di Teater Kecil ISI Surakarta, sungguh tak mudah menangkap pesan yang disampaikan Eko. Karya tersebut (Opera Jawa 2010) disiapkan untuk merayakan ulangtahun Tropen Museum, Amsterdam, bulan September 2010. Menurut Eko, kini ia memang tak lagi teerlalu hirau terhadap pesan naratif atau alur cerita. Baginya, dalam sebuah koreografi yang terpenting adalah gerak dan bentuk tarian. Itulah yang ia ajarkan kepada anak didik dan anggota kelompoknya di Solo Dance Studio.
“Sepuluh tahun terakhir ini, saya lebih tertarik kepada bentuk: hal yang semakin diyakininya setelah bekerjasama dengan sutradara film Garin Nugroho menggarap film tari Opera Jawa (2006). “Dari kerjasama tersebut saya memperoleh pemahan baru bahwa sebuah koreografi tidak hanya bisa dilihat dari sisi panggung,” kata Eko Supriyanto. Pendekatan ini sangat beda dengan karya-karya awal Eko yang mengacu pada apa yang dipelajarinya di STSI, sarat mengusung pesan dan nilai kemanusian.
Semisal dalam Lah (1994) yang ditampilkan di Indonesian Dance Festival (IDF III) di Jakarta. Karya ini hasil Eko mengamati pola hidup para abdi dalem keraton Solo yang menurut Eko unik. Judul itu berasal dari kata “Ya… sudah Lah! Yang berkonotasi pada sikap narimo ing pandum ([dengan rela] menerima apa yang ada, ed.). Para abdi-dalem memang bekerja tidak untuk mencari jenang (bubur/makan, red) tetapi untuk mencari jeneng (nama/pengabdian/berkah, red),” kata Eko.
Dalam karyanya yang lain Leleh (1996)--tampil di IDF V di Jakarta--Eko bercerita tentang perubahan perilaku masyarakat di kawasan gunung Kemukus, Sragen. Ketika itu, gunung Kemukus dikenal sebagai kawasan yang sarat dengan aktivitas spiritual namun perlahan-lahan bergeser menjadi kawasan prostitusi. Metomorfosa kehidupan itulah yang dipotret Eko dalam gerak tari. Perubahan pendekatan koreografi itu tak lepas dari 4 tahun studi MA tari Eko di UCLA, AS (1998-2001) serta pertemuannya dengan seniman-semian internasional seperti Peter Sellars, Julie Taymor, dan Lemi Ponifasio.
Meski tak lagi pusing soal pesan, Eko mengaku mendapatkan inspirasi dari kenyataan hidup sehari-hari. Berbagai persoalan masa kini yang terkait masalah sosial, politik, agama, dan ekonomi, adalah sumber inspirasi bagi karya-karyanya.
Lama berguru kepada Sardono W. Kusumo dan pernah bergabung dengan PLT Bagong Kussudiarjo, membuat Eko memiliki banyak referensi untuk mengkompilasi unsur-unsur gerak yang pernah ia pelajari. Tetap saja, Eko melihat tradisi (Jawa) bukan sebagai “beban” tetapi sebagai “bekal” budaya. “Tradisi Jawa menjadi inspirasi dan pegangan saya berkarya. Tradisi itu selalu bisa diialogkan dan mempunyai peluang yang luar biasa untuk dikembangkan.”
Dalam karyanya yang diberi judul Dhaup (2004)--yang berarti kawin atau nikah--Eko bercerita tentang kisah cinta Rahwana terhadap Dewi Shinta. Banyak orang mengatakan Rahwana adalah tokoh jahat, namun bagi Eko, Rahwana merupakan simbol cinta sejati. “Untuk mewujudkan cintanya,” kata Eko “Rahwana rela kehilangan saudara, negara, dan seluruh harta-bendanya.” Eko menafsir-ulang epos Ramayana dengan akhir Rahwana kawin dengan Shinta.
M. Syaiful Amin - Penulis
Sal Murgiyanto - Editor
Ket. Foto:
1. Prang Buta - Dok. Solo Dance Studio
2. Opera Ronggeng - Dok. Solo Dance Studio
3. Opera Jawa - Dok. Solo Dance Studio
4. Dhaup - Dok. Aldila
5. eL - Dok. Solo Dance Studio
6. Awakening - Dok. Solo Dance Studio
Karya
Without Body, Tawur (2009)
Bedhaya Kertas (2008)
eL, Opera Jawa "Iron Bed" (2007)
Opera Jawa (2006)
Opera Ronggeng (2005)
Bedhaya Kertas (2008)
eL, Opera Jawa "Iron Bed" (2007)
Opera Jawa (2006)
Opera Ronggeng (2005)
Kontak
Eko Supriyanto
SOLO DANCE STUDIO
Perum RC Palur
Jl. Renyeb no.64
Ngringo - Palur, Karanganyar
57772 Central Java
| Phone | : | +62818-08868808 / +62813-29504504 |
| : | info@solodancestudio.org, ekodances@gmail.com | |
| Website | : | www.solodancestudio.org |
Galeri









