>>
Boby Ari Setiawan
Biografi
Boby Ari Setiawan lahir di Klaten dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Jawa yang akrab dengan seni pertunjukan tradisi. Neneknya, Ny. Supadmi, adalah seorang dalang wanita  terkenal pada masanya yang sering diundang pentas di Istana Negara oleh presiden Soekarno.

Boby AS menempuh pendidikan formal di SD Negeri Kemasan 1, Serengan dan SMP Negeri 19 semuanya di Solo atau Surakarta. Lulus SLTP ia melanjutkan studi ke SMKI Sekolah Menengah Karawitan Indonesia yang kemudian menjadi Sekolah Menengah Kejuruan 8, di Solo untuk memperdalam pengetahuan dan ketrampilannya di bidang seni perunjukan tradisi. Lulus SMKI Boby kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta jurusan koreografer.

Tahun 2002 bersama Agus Mbendhol Margiyanto, Boby AS mendirikan kelompok tari Independent Expression (IE) dan membuat karya tari pertamanya Suara-I Bumi yang kemudian  ditampilkan di Festival Penata Tari Muda I di Taman Budaya Surakarta. Tahun yang sama ia menciptakan Kala Mengudara untuk acara Temu Musik dan Tari Kontemporer di Gedung Kesenian Jakarta.    

Boby AS dikenal luas bukan hanya sebagai koreografer, tetapi juga sebagai penari. Tahun 2003, ia terlibat sebagai penari dalam BA-BA karya Eko Supriyanto. Tahun berikutnya ia mendapat penghargaan penari terbaik di Bandar Serai Award, Pekanbaru, Riau, menjadi penari dalam karya Elly D. Luthan, Tjut Nyak Perempuan Itu Ada, sebagai asisten dan penari dalam Prang Buta karya Eko Supriyanto, dan dalam Suruh Temu Rose karya Kandi Kusumastuti yang ditampilkan di Teater Arena, Taman Budaya Surakarta.

Tahun 2005, Boby menjadi asisten dan penari dalam Rijoq Pasir Sunyi  (Deddy Luthan) dan Tri Logi (Jarot B. Darsono). Tahun berikutnya ia terlibat dalam karya Deddy Luthan yang lain (La-la dan Awan Asap Api), karya Wasi Bantolo (Prang Gending), dan berlatih improvisasi gerak di di Padepokan Lemah Putih, di bawah Suprapto Suryodarmo. Tahun 2007, Boby menari dalam Ariah karya Wiwik H.W. dan Bulan Sabit karya Nungky Nur Cahyani.

Tahun 2008 Boby menjadi penari Sardono W. Kusumo dalam Opera Diponegoro, Elly D. Luthan dalam Drupadi Mulat dan dalam Maha Karya Borobudur garapan Daryono yang diproduksi ISI Surakarta. Tahun 2009 ia menari dalam karya Riyanto Helling dan Amaterasu. Tahun yang sama, Boby mewakili Indonesia melawat ke Belgia dalam acara promosi Kedutaan Besar Republik Indonesia.

Tahun 2003 Boby mendapat penghargaan sebagai koreografer terbaik dari Bandar Serai Award di Pekanbaru, Riau; Hibah Due Like untuk menggelar Yudha di Teater Besar STSI Surakarta (yang tampil di Fukuoka, Jepang 2004). Tahun 2004 menggarap Evolution untuk Solo Dance Festival yang kemudian di Indonesian Dance Festival di Jakarta. Tahun 2005, bersama kelompok IE ia mendapat Hibah Kelola untuk pentas di Jakarta, Medan, dan Padangpanjang, di samping menampilkan Geliat Wayang di Bengawan Solo Festival.

Tahun 2008, Boby menggarap So Close Cyclus bagi Pasar Tari Kontemporer di Pekanbaru, Riau; menampilkan Pe-Thoi bersama IE di Yayasan Bagong Kussudiardja di Yogya dan menggelar ZC dalam rangka Gelar Koreografi Kota Dewan Kesenian Jakarta 2009. Tahun 2007, Boby mengikuti program pertukaran budaya mengamati kegiatan tari di 3 kota di AS: New York, Chicago, dan mengunjungi Kennedy Centre di Washington.

Cisilia Perwita Setyorini - Penulis
Sal Murgiyanto - Editor
Profil
Tradisi bukanlah sebuah entitas yang harus dipinggirkan, tetapi bisa dijadikan inspirasi dan pegangan berkarya. Boby Ari Setiawan menepis anggapan bahwa tradisi bersifat tertutup. Sebaliknya ia menunjukkan tradisi terbuka untuk dieksplorasi.  Boby memandang proses kreatif dan inovasi sebagai dua hal yang tidak kalah penting dari hasil akhir atau karya itu sendiri. Proses kreatif inilah yang mematangkan karya-karyanya dari segi gerak, konsep, maupun ide kreatif.   

Menurut kritikus tari Sal Murgiyanto, keberhasilan seorang seniman tari ditentukan antara lain oleh teknik gerak, kepekaan rasa, kreativitas, dan inteligensia. Sejalan pikiran ini, Boby A.S., koreografer kontemporer asal Solo, mempraktikkannya sambil peka mengendus permasalahan sosial. Di tangannya seni tari menjadi instrumen kritis dan sarana reflektif masalah sosial modern yang kental dengan kapitalisme.  
    
Karya Boby AS (26 tahun) memang tidak selalu menawarkan keindahan tetapi memiliki ciri khas baik dari segi pengolahan gerak maupun isi. Koreografer yang tahun 2007 mengikuti pertukaran budaya di Amerika Serikat mengunjungi Kennedy Centre (Washington D.C.),  New York, dan Chicago ini gemar mengeksplorasi gerakan-gerakan yang sederhana dan realistis. Dalam karyanya Z-C yang dipentaskan bulan Februari 2009 misalnya, ia mengolah gerakan dolanan bocah Jawa (engklek) yang tak jauh dengan rutinitas keseharian.

Tindakan kreatif ini menghasilkan karya yang gampang dicerna tetapi membawa pesan bermakna. Dalam karyanya yang lain, Musro (2006), ia mengambil inspirasi sebuah tempat clubbing di Solo. Kali ini Boby ingin menunjukkan bahwa tubuh memiliki ruang musik. Boby mengamati gerak para clubbers ketika menikmati musik clubbing. Mereka hanya duduk-duduk dan dengan atau tanpa musik menggerakkan tubuh mereka sebatas pinggul ke atas. Berdasarkan pengamatan tersebut, Boby mengeks-plorasi gerak penari dari pinggul ke atas.

Meski lebih dikenal sebagai peñata tari kontemporer, Boby sesungguhnya memiliki latar tradisi Jawa yang kuat. Ini tak lepas dari latar belakang keluarganya: neneknya yang bernama Nyi Supadmi adalah dalang perempuan yang sering pentas di istana Negara pada jaman presiden Soekarno.  

Namun dalam berkarya, Boby mengutamakan kebebasan untuk bergerak sekaligus bereksplorasi. Ia bahkan sering memanfaatkan karakter kuat tradisi Jawa yaitu olah rasa dalam karyanya. Selain itu tari tradisi juga memberikan kerangka sekaligus pegangan dalam penciptaan karya. Sisi inovatif Boby terletak pada penggarapan modern dengan alur cerita postmodern dalam mengungkapkan keadaan dengan menggabungkan gerak teatrikal, kontemporer, modern dan tradisional.  

Dari sisi tata suara pun, Boby tidak fanatik dalam menggunakan music pengiring. Dalam Pe-thoi ia menggunakan iringan desiran angin, dan suara serangga sedangkan dalam Z-C ia menggunakan iringan raungan kendaraan umum, terutama deru bis di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta.  

Boby cerdik mengkritisi moderninasi dengan kapitalismenya yang membelenggu aktivitas sehari-hari manusia. Ia menggambarkannya dengan cara yang tidak muluk-muluk tetapi menyentuh. Dalam Z-C misalnya, Boby  menyentil bagaimana di Indonesia zebra cross menjadi sebuah ruang publik yang tidak dihiraukan. Pemakai jalan hanya mementingkan diri sendiri, tidak ada sikap saling menghormati atau menghargai: peraturan dibuat untuk dilanggar bukan untuk dipatuhi.

Sesungguhnya Z-C memotret kondisi hidup kita yang kontradiktif. Semakin modern seharusnya orang semakin menggunakan logika dalam bersikap, tetapi di Indonesia sebaliknya yang terjadi: banyak orang seenaknya melanggar peraturan, lebih mengutamakan kepentingan pribadi dari pada kepentingan bersama.
Cisilia Perwita Setyorini - Penulis
Sal Murgiyanto - Editor

Ket Foto:
1. Z-C - Udaya Dika
2. Z-C - Dok. Boby Ari Setiawan
3. Suara-i Bumi - Dok. Boby Ari Setiawan
4. Evolution - Dok. Boby Ari Setiawan
5. Yuda - Dok. Boby Ari Setiawan
Karya
Z-C (2009)
Touch The Space, Pe-thoy ( 2008)
So Close Cyclus  (2007)
Musro (2006)
Kontak
Boby Ari Setiawan
Jl. Manduro no 11, Surakarta Central Java
Phone:+628562982326
Email:onthiair@yahoo.com
Galeri
 
Stay informed
with our e-update