>>
Hartati
Biografi
Hartati lahir di Jakarta tetapi dibesarkan di tanah asal orang tuanya: Muaralabuh, Solok Selatan, Sumatra Barat. Ia berlatih menari di sanggar tari setempat sejak kecil. Lulus SMP Hartati masuk SMKI Padang mengambil Jurusan Tari dan memperdalam teknik tari Minang.

Tahun 1986 ia melanjutkan studi di Jurusan Tari Institut Kesenian Jakarta mempelajari tari-tarian daerah lain: Jawa, Bali, Sunda, Melayu, dan Aceh. Di IKJ ia berguru pada Retno Maruti, Wiwiek Sipala, dan Sentot Sudiharto dan menjadi asisten tari Minangkabau bagi Tom Ibnur dan Deddy Luthan. Di IKJ pula ia belajar koreografi dari Sardono W. Kusumo, Farida Oetoyo, Yulianti Parani dan generasi koreografer yang lebih muda seperti Boi G. Sakti dan Sukarji Sriman. Saat ini Hartati mengajar koreografi di Jurusan Tari IKJ.

Tahun 1987 Hartati bergabung dengan kelompok Gumarang Sakti pimpinan (alm.) Gusmiati Suid sebagai penari. “Beliau salah satu guru yang sangat saya kagumi. Saya mendapat banyak hal-hal esensial yang tidak pernah beliau bicarakan dengan orang lain,” kenang Hartati. Bersama Gumarang Sakti, ia melanglang buana ke Hong Kong, Jerman Barat, dan A.S. sebagai penari. Kecuali itu ia pernah mengikuti misi kesenian ke Philipina, Malaysia, Thailand, Kolumbia, dan Swiss, dan bersama Sardono W. Kusumo ke Fukuoka, Jepang. Pernah pula ia menjadi penari Opera Hanoman di Teater Tanah Airku (1998).

Hartati mulai membuat koreografi tahun 1988 mewakili almamaternya (IKJ) melawat ke berbagai daerah dan dalam Indonesian Dance Festival (Takusai 1993; Cinta Kita 2008). Latar budaya Sumatra Barat yang kuat berakar dalam dirinya membuat karya Hartati seakan tak bisa lepas dari ciri dan sentuhan Minang. Selain berkarya untuk Gumarang Sakti (Suap 1997) ia banyak mengikuti festival di luar negeri, a.l., mewakili pemerintah Indonesia di forum ASEAN (1992;1994) dan mengikuti workshop seni pertunjukan di Chiangmai, Thailand.

Sejak 2001 Hartati mulai pentas sendiri (Sayap yang Patah). Tahun berikutnya karyanya terpilih tampil dalam pembukaan “Esplanade” (Theatre On The Bay), Singapore. Sebagai penerima Hibah Seni Kelola ia mementaskan Membaca Meja (2002) di Gedung Kesenian Jakarta.

Tahun 2004, Hartati terpilih mewakili Indonesia di dalam Art Summit Indonesia menampilkan Ritus Diri. Tahun 2007 ia tampil dalam “Five Pieces: New Dance in Indonesia” di National Museum of Singapore dengan In (side) Sarong, In (sight) Sarong (2007). Dua tahun berturut-turut menerima penghargaan EWA (Empowering Women Artist) Kelola menampilkan karya Hari Ini (2007) dan Cinta Kita (2008). Tahun 2008, Hartati tampil dalam Festival Salihara I dengan Dua Kutub (2008).

Beberapa penghargaan yang pernah ia terima: mengikuti Asia Pacific Performance Exchange (APPEX) di UCLA (1996) dan menerima grant dari Asian Cultural Council (ACC) sebagai Visiting Artist selama 5 bulan di New York (2000). Tahun berikutnya ia diundang Bates Dance Festival (2001) menampilkan The Way of the Women. Tahun 2007, Hartati mewakili Asia dalam program pertemuan Asia-Eropa “Point to Point” yang diselenggarakan oleh Asia-Europe Foundations (ASEF) di Beijing, P.R. China.
 
Dewi Ria Utari - Penulis
Sal Murgiyanto - Editor
Profil
Hartati adalah seorang penata tari kontemporer senior yang berangkat dari tradisi Minang. “Tubuh saya adalah tubuh Minang. Tanpa saya katakan bahwa karya-karya saya berangkat dari Minang, orang akan merasakannya. Sebaliknya, kalau pun saya mencoba membuat suatu karya yang tidak bicara tentang Minang atau tidak melibatkan gerak tari tradisi Minang, akan ada hal-hal kecil yang tetap memperlihatkannya,” katanya saat mengobrol di sebuah kedai kopi di Taman Ismail Marzuki. Minang adalah Hartati. Ia selalu berkarya dengan sentuhan Minang, namun ia pun sadar akan cepatnya perubahan jaman dan berusaha menyesuaikan diri agar koreografinya tak tergerus modernisasi.

Di Indonesia, tradisi dan modernisasi sering dipertentangkan. Karya Hartati diperhi-tungkan karena nyaman mempertemukan keduanya. Koreografinya memberikan warna baru karena menyerap materi modern demi memperkaya unsur tradisi. Hal yang dicapainya melalui proses panjang. Ia sadar dirinya mesti menapaki tangga perkem-bangan demi menghadirkan inovasi setiap berkarya. Kuncinya adalah dengan membuka diri.

Pengagum penata tari Gusmiati Suid ini memanfaatkan setiap kesempatan yang ia peroleh untuk membuka diri terhadap perkembangan teknologi, informasi, dan ide orang lain. Pada keterlibatan pertamanya dalam program Empowering Woman Artists Kelola, Hartati merasa wajib melibatkan banyak orang dalam proses berkarya.

Bekerjasama dengan seniman-seniman yang memiliki idealisme berbeda merupakan tantangan bagi Hartati. Dalam karyanya Hari Ini ia bahkan bekerjasama dengan Marc Appart, komposer asal Belgia secara jarak jauh. Selama dua tahun mempersiaplan karya tersebut, Hartati tidak pernah bertatap muka dengan Marc, tapi ia berhasil membangun kepercayaan demi mewujudkan impian. ”Setiap habis latihan, saya mengirim rekamannya ke Marc sebagai pedoman membuat komposisi musik bagi tarian saya. Saya ingin berbagi pengalaman dengan seniman lain untuk mewujudkan tujuan bersama. Masalahnya adalah bagaimana membuat para seniman yang terlibat merasa memiliki sehingga karya menjadi pekat dan utuh, dalam koreografi dan pertunjukannya.”

Hartati pernah juga bekerjasama dengan Oscar Lawalata sebagai penata kostum dan saat tulisan ini dibuat ia sedang berkolaborasi dengan sutradara Teater Garasi Yudi Tajudin serta Agus Noor sebagai penggagas ide dan dramaturg. Dengan melibatkan orang lain, Hartati mendapat banyak masukan akan hal-hal yang perlu ia gali dan pikirkan demi perkembangan karyanya.

Koreografer yang pernah menjadi asisten Gusmiati Suid dan Boi Sakti serta mengikuti berbagai festival tari internasional ini menyadari bahwa profesinya mengharuskannya untuk tahu banyak hal. Ia rajin membaca koran dan mengikuti trend buku best seller yang ramai dibicarakan orang sehingga mengetahui perkembangan dunia di luar kesenian. Sensitif menangkap gejala sosial, Hartati memberikan sumbangsih kepada masyarakat dengan menggarap karya yang mengangkat kegelisahannya terhadap kenyataan sekitar, seperti nampak dalam Suap pada akhir era kekuasaan Soeharto.

Kepekaan sosial ini kemudian ia sempurnakan dengan terus mengeksplorasi teknik gerak, karena Hartati termasuk koreografer yang sangat percaya pada kemampuan gerak dalam berbicara. Baginya, penguasaan teknik secara total adalah mutlak bagi seorang penari. ”Saya tak mau penari saya hanya menguasai teknik tari.  Mereka juga harus punya teknik menari yang baik yang membuatnya mampu menghayati apa yang mereka lakukan, sehingga ada penjiwaan, penafsiran, dan ekspresi. Sampai ke ujung jarinya pun, mereka bisa bicara. Mereka harus dapat mengalirkan semua ekspresi ke tubuhnya. Ini akan terlihat dari cara mereka berdiri, berjalan, yang akan ditafsirkan orang.”

Dewi Ria Utari - Penulis
Sal Murgiyanto - Editor

Ket Foto:
1. In/Out - Dok. Hartati
2. Ritus Diri - Blontak Poer
3. Cinta Kita - Paul Kadarisman
4. In/Out - Dok. Hartati
5. In/Out - Dok. Hartati
6. In/Out - Dok. Hartati
 
Karya
Dua Kutub, Cinta “Kita” (2008)
In (Side) Sarong, In (Sight) Sarong, Hari Ini (2007)
Ritus Diri (2004)
Membaca Meja (2002)
Sayap yang patah (2001)
Kontak
Hartati
Jln. Giring-Giring Raya no 383, Depok 2 Tengah, Kel. Mekar Jaya. Depok 16412 Jakarta
Phone:+628129667731
Email:mentikha@yahoo.co.id
Galeri
 
Stay informed
with our e-update