Wahyu Widayati
Biografi
Wahyu Widayati yang akrab dipanggil Cunong atau Inong lahir di desa Gebang, Masaran, Sragen, 1 Februari 1964, dan dibesarkan dalam keluarga petani desa. Sejak kecil, Wahyu diasuh neneknya yang tinggal di desa yang sama. Di rumah neneknya inilah, sesekali dia ’dipaksa’ bibinya, seorang guru tari di sebuah sekolah tak jauh dari rumah mereka, untuk belajar menari Jawa sebagai teman.  

Selain itu, rumah nenek Wahyu sering menjadi persinggahan tledhek atau penari-penari tayub yang saat itu banyak melakukan pentas keliling desa di wilayah kabupaten Sragen. ”Seringkali saya melihat mereka menari-nari di rumah nenek yang memiliki pendopo yang luas untuk sekedar bercanda dengan teman-temannya. Saya sering ikut-ikutan menari semampu saya sebagai anak kecil,” kenang Wahyu.

Selepas SMP, Wahyu masuk Jurusan Tari Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Surakarta. Setelah itu dia meneruskan studi ke Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI sekarang ISI, Institut Seni Indonesia) Surakarta mengambil jurusan yang sama.

Selama itu, Wahyu tak pernah bercita-cita menjadi penari profesional. Alasannya, secara fisik dirinya memang ‘kurang ideal’ untuk menjadi penari alusan Jawa. Setidaknya itu menurut penilaiannya sendiri. Karena itulah, satu-satunya harapan yang bisa dia raih dari bekal pendidikan seni tari yang ditempuhnya hanyalah menjadi guru di sekolah.

Tak ada cita-cita apapun di benak wahyu saat itu selain setelah lulus dia akan mengajar seni tari di sekolah, seperti halnya bibinya. Apalagi saat itu salah seorang saudaranya yang menjadi guru di Boyolali menjanjikan akan mengusahakanya mengajar setelah lulus sekolah kesenian.

”Setelah lulus SMKI, saudara saya ini saya hubungi, maksud saya ya ingin mengajar. Tapi dia menyarankan saya kuliah dulu ke ASKI agar nanti golongan dan kepangkatannya di PNS lebih tinggi. Selama sekolah di SMKI hingga ASKI itu sama sekali saya tidak tahu konsep kesenian ataupun andil apa yang bisa saya berikan untuk dunia kesenian,” kata dia.

Gambaran tentang dunia kesenian yang lebih luas akhirnya menghampiri Wahyu ketika suatu ketika dirinya diajak pentas kelompok Teater Gapit, grup teater berbahasa Jawa yang anggotanya sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni ASKI. Tahun 1987 diajak main dalam lakon REH. Semula dimaksudkan untuk peran kecil saja, hanya memanfaatkan kemampuan Wahyu yang lihai nembang.

Tapi rupanya Bambang Widoyo Sp, pimpinan dan sutradara Gapit, melihat potensi lebih besar dalam diri Wahyu dalam hal akting. Akhirnya Wahyu justru dipercaya memegang peran utama. Peran serupa juga dipegang Wahyu ketika Gapit mementaskan lakon TUK, DOM dan lakon-lakon berikutnya.

“Ternyata ada peran lain yang bisa saya ambil dalam dunia kesenian. Saya selanjutnya lebih dikenal sebagai pemain teater daripada penari. Tapi saya tidak peduli, saya senang karena menemukan peran yang lebih di dunia kesenian dibanding sebelumnya yang sama sekali merasa bukan siapa-siapa,” ujarnya.

Atas kemampuannya berakting itu pula, Wahyu diangkat menjadi karyawan di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) di Surakarta. Di TBJT itu pula Wahyu akrab lalu menikah dengan Murtianto, perupa yang juga karyawan TBJT.

Peran lebih jauh Wahyu yaitu mendirikan kelompok tari SAHITA (2001) dan menjadi koreografer, juga atas dorongan, dukungan, dan masukan dari teman-temannya di TBJT dan para anggota Teater Gapit yang menjadi surut kegiatannya setelah Bambang Widoyo Sp wafat.

Muchus Budi R - Penulis
Sal Murgiyanto - Editor

 
Profil
”Yang penting jujur dan terbuka menerima masukan dari siapapun untuk perbaikan. Selain itu, sebagai pimpinan tidak alergi jika ada anggota yang memberikan kritik.”

Kalimat tersebut meluncur dari mulut Wahyu Widayati atau Cunong ketika ditanya prinsipnya berkesenian. Cunong mengaku tak segan-segan menemui seseorang untuk mencari informasi yang dapat mendukung karyanya. Bahkan dalam beberapa kesempatan, dia pernah minta tolong untuk dibuatkan cakapan antar pemain dalam pementasannya.Cunong bahkan hanya tersenyum ketika banyak orang menyebut Sahita, kelompok tarinya, hanya melakukan ’pentas ulang’ dalam bentuk lain dari karya-karya Teater Gapit, grup teater yang diikuti Cunong sejak masih kuliah di ASKI (kini ISI) Surakarta.

Srimpi Srimpet (2001) dan Lima Ganep (2001) sangat kentara warna Gapit-nya. ”Mas Kenthut  (panggilan akrab Bambang Widoyo Sp almarhum) adalah orang yang membimbing kami mengenal dunia kesenian. Wajar jika saya terpengaruh,” kata Cunong merendah.Tetapi Cunong juga mengambil peran penting dalam garapan. Karya-karyanya setelah itu, seperti Iber-iber Tledhek Barangan (2002) adalah bukti kuatnya pemahaman Cunong tentang kehidupan tledhek barangan. Kedekatan Cunong dengan dunia tledhek barangan membuat karya tersebut tampil hidup dan utuh. Wahyu mampu menampilkan sisi kehidupan sehari-hari seniman tayub yang tidak diketahui banyak.

Hal serupa terlihat dalam Pangkur Brujul (2003) yang merupakan potret kehidupan seorang seniman desa. Sedangkan Alas Banon (2008), adalah catatan Wahyu Cunong atas rusaknya saluran irigasi di desa asal dan sekitarnya. Kerusakan tersebut jelas mengganggu distribusi pengairan dan secara langsung memperburuk nasib petani karena berkurangnya hasil panen.

Wahyu mengatakan bahwa dalam setiap proses kreatif seringkali ia hanya bertindak sebagai koordinator latihan, atau pemberi aba-aba gerakan saja. Selain itu dia sudah menyerahkan sepenuhnya kepada para penarinya. Dalam Srimpi Srimpet misalnya, penari dibebaskan mencari karakternya sendiri-sendiri tentang orang tua yang kesepian. Hasilnya adalah lima orang tua yang berbeda-beda tampil diperankan oleh lima penari di panggung. Cunong yakin, setiap penarinya mempunyai referensi yang berbeda-beda tentang orang tua dan tentang kesepian, karena masing-masing penari berasal dari daerah yang berbeda-beda dan latar belakang sosial yang beragam pula.

Hal serupa dilakukannya ketika menggarap Iber-iber Tledhek Barangan. Masing-masing penarinya mempunyai referensi yang berbeda-beda tentang nasib penari tayub, sesuai yang mereka pahami di masing-masing daerahnya.

”Tugas saya tinggal mempertemukan perbedaan-perbedaan itu di panggung. Dengan demikian keberagaman itu akan menjadikan panggung menjadi hidup. Begitulah cara saya mengerjakan tugas-tugas penyajian pementasan tari. Sejauh ini saya tidak menemui kendala berarti, ya karena kami sudah sangat akrab satu sama lain,” kata dia.

Selain mampu menjadi filter dan ’perangkai’ ragam ide, penguasaannya atas tari tradisi dan tembang Jawa sangat berperan dalam banyak karyanya, misalnya
Gathik Glindhing (2004) dan Seba Sewaka (2005). Dalam kedua karya tersebut penonton menyaksikan Wahyu Widayati menguak timbunan mutiara budaya Jawa yang telah lama dilupakan.

Meski demikian, jalan yang ditempuh Wahyu Cunong dalam meniti karier tak selamanya mulus. Dia pernah dikecam habis-habisan dan dianggap melecehkan tarian srimpi yang berasal dari kraton. ”Kritik dan kecaman itu bahkan datang dari dosen-dosen ISI....Tetapi saya tidak mundur karena saya yakin tidak melakukan seperti apa yang mereka tuduhkan,” kata dia. Para pengecam itu lama-lama bisa memahami bahwa Wahyu Cunong tidak bermaksud merusak apalagi melecehkan tradisi.
Muchus Budi R - Penulis
Sal Murgiyanto - Editor

Ket. Foto:
Dok. Wahyu Widayati
Karya
Alas Banon (2008)
Seba Sewaka (2005)
Gathik Glindhing (2004)
Pangkur Brujul (2003)
Iber-iber Tledhek Barangan (2002)




Kontak
Wahyu Widayati
Perum Buran Tenteram Blok A No 05, Tasikmadu, Karanganyar Central Java
Phone:+62817449194
Galeri
 
Stay informed
with our e-update